Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra bab 27


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seminggu berlalu setelah acara tujuh bulanan Kahyangan di Rumah utama membuat ia semakin sulit bergerak dengan cepat. Dan itu yang terkadang membuatnya bosan di dalam kamar jika tak ada Sam yang menemaninya, bocah tampan itu menjadi satu satunya hiburan Kahyangan di rumah utama jika Bumi sudah berangkat bekerja atau saat mertuanya sibuk mengurus Omma dan Oppa yang seringkali drop kesehatannya.


"Tapan lual nya cih? ama benel ya?" keluh Sam yang tak sabar ingin memiliki teman bermain.


"Sebentar lagi ya, dede do'ain onty, ok" kekeh Yayang, entah ini yang keberapa kalinya sang keponakan bertanya hal yang sama padanya saking tak sabarnya.


Sam hanya mengangguk paham sambil mengusap perut onty kesayangannya karna bila dengan Cahaya justru itu adalah musuh bebuyutannya.


"Piyutnya besal, taya balon ya"


"Haha, iya. Jangan di tusuk tusuk nanti pecah" kata Yayang di sela gelak tawanya.


"Ntal iyup agih, Oey"


.


.


.


Bulan berganti bulan, kini Kahyangan sudah berada di trimester akhirnya yang berarti tinggal menghitung hari untuk menyambut buah hatinya menyapa dunia.

__ADS_1


Semua sehat dan berharap selamat itulah yang seluruh keluarga Rahardian panjatkan dalam doa mereka.


Semua persiapan sudah di lakukan, entah dirumah utama ataupun di rumah sakit. Bahkan Abah dan Ambu pun sudah datang dan menginap untuk menemani sang keponakan saat proses persalinan nanti.


Rasa bahagia dan syukur selalu Kahyangan ucapkan karna ia berada di tengah orang orang baik.


"By, sakit banget" lirih Yayang tepat di jam sebelas malam saat suaminya baru saja naik keatas tempat tidur setelan melantunkan ayat-ayat suci.


"Mules?" tanya Bumi, ia yang khawatir tapin masih berusaha untuk tenang.


"Sedikit, tapi ini sakit bukan mules"


Bumi tersenyum kecil, ia singkap baju atasan istrinya yang kemudian di usap sambil di ajak mengobrol seperti biasa.


"Sayangnya Aby sama Umi bobo ya, besok main main lagi, kasihan Umi mau istirahat" bisik Bumi yang setelahnya menciumi perut Kahyangan. Ia terus mengusap dengan lembut sampai bidadari hatinya itu merasa tenang kemudian tidur dan ia pun bergegas berbaring di sisinya.


.


.


Rutinitas yang sama, saat pagi menjelang Kahyangan dan Bumi akan turun lantai bawah untuk sarapan setelah merapihkan diri.


"Pelan-pelan, Yang"

__ADS_1


"Onty..... dede ntut Oey" teriakan Sam membuat keduanya menoleh dan menunggu di depan pintu lift.


"Dede mahu tekoyah ama Moy" ucapnya sebelum di tanya.


Keduanya hanya tersenyum simpul sembari mengusap perut kepala sang keponakan.


Sampai di ruang makan semuanya sarapan dengan lahap di selingi dengan di celoteh Samudera yang semakin hari semakin bawel.


"Udah yuk, berangkat" ajak Hujan pada putranya, kali ini ia yang akan mengantar Sam ke sekolah.


Sam dan Hujan langsung berpamitan pada semuanya, pelukan hangat dan ciuman lembut pun tak lupa Kahyangan berikan.


"Aku berangkat sekarang ya" pamit Bumi yang bangun dari duduknya, yang berlanjut berpamitan juga pada kedua orang tuanya.


Kahyangan yang mengantar sampai depan pintu utama pun bergelayut manja dan lengan suaminya dengan Bumi terus saja mencium pucuk kepala istrinya.


Tapi langkah keduanya berhenti saat Kahyangan sedikit menjerit kaget.


.


.


.

__ADS_1


By.. ini apa?


__ADS_2