Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra bab 12


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


BRAAAAKKK..


Kahyangan melempar beberapa deretan keperluan mandinya yang berjejer rapih. Ia menangis lagi dan lagi sambil terduduk lemas di lantai kamar mandi.


"Kenapa gak pernah garis dua sih!" pekiknya kesal saat ia melakukan tes pagi hari setelah bangun tidur.


Masih di satu tahun pernikahannya harapan untuk menimang buah hati seakan sulit ia dapat, telat dua hari dari tanggal mens truasi tetap saja membuat ia kecewa.


"Kapan aku hamil? kapan Engkau memberi rasa percayaMu padaku" keluh Kahyangan yang sudah mengeluarkan air mata sedihnya.


Kahyangan meremat benda kecil alat tes kehamilan di tangannya, ini bukan yang pertama kali ia lakukan setiap bulan ia selalu berharap jika Tespek yang ia genggam akan memunculkan dua garis merah sesuai doa dan harapannya.


Cek lek.


Pintu di buka dengan sedikit keras, kini ada Bumi yang berdiri diambang pintu menatap bingung kearah istrinya, belum lagi keadaan kamar mandi yang sedikit berantakan.


"Kamu kenapa?" tanya Bumi yang kini sudah berjongkok di dapan Kahyangan.


"Gak apa-apa," jawabnya sambil menghapus air matanya.


Bumi meraih benda kecil dari tangan istrinya, ia membuang napas kasar saat melihat hanya satu garis disana seperti yang sudah sudah.

__ADS_1


"Jangan gunakan benda ini lagi!" tegasnya.


Bumi meraih tubuh Kahyangan agar bisa berdiri, kemudian ia gendong pemilk hatinya itu menuju tempat tidur.


Ia baringkan dengan pelan pelan tubuh lemas bagai tak bertulang sang istri di balik selimut.


"Maaf..."


"Tak ada yang salah, tak ada juga yang harus di maafkan" jawab Bumi dengan nada kesal.


"Aku belum bisa memberimu keturunan, Bu"


"Aku tak pernah memintanya, aku serahkan semuanya pada Tuhan kapanpun ia akan memberinya pada kita, ku harap kamu paham, Sayang" ujar Bumi lagi, ia sudah sangat lelah membahas hal ini karna pasti akan berujung pertengkaran kecil di antara keduanya.


"Aku takut keluarga mu..." Kahyangan tak meneruskan kata katanya, semua bagai tercekat di kerongkongan sulit untuk ia ungkapkan.


"Aku hanya ingin memiliki keluarga yang lengkap, ada aku kamu dan anak anak, Bu" lirih Yayang, ia yang hidup hanya sebagai anak tunggal sungguh sangat menginginkan anak yang banyak, ia berharap bisa hamil beberapa anak kembar seperti mama mertuanya yang langsung diberi kepercayaan mengurus tiga anak dalam satu waktu.


"Belum, Sayang. Kita belum merasakannya bukan berarti tak bisa"


Kahyangan tetap bergeming, Ia meremas tangannya sendiri untuk menumpahkan rasa kecewanya. Ia tak pernah setakut ini sebelumnya meski ia tahu jika apa yang ada dalam pikirannya tak mungkin terjadi.


"Sibukkan dirimu, jangan larut dalam ambisi yang akan membuatmu lelah sendiri." pinta Bumi, ia takut sang istri akan jatuh sakit karna beban pikirannya.

__ADS_1


Kahyangan hanya bisa mengangguk paham, ia berhambur memeluk suaminya yang begitu sabar menghadapinya akhir akhir ini. Ia akui jika beberapa bulan belakang seakan sulit mengontrol emosinya sendiri.


Bumi mengusap punggung bidadari hatinya itu dengan lembut dan pelan dengan sesekali menciumi pucuk kepalanya.


Bumi ingin Kahyangan tahu betapa besar rasa cintanya, ia akan tetap menerima segala kekurangan dan kelebihan wanita yang ia halalkan penuh dengan perjuangan itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mungkin kamu tak seberuntung orang lain, tapi orang lain belum tentu sekuat dan sesabar dirimu! .


__ADS_2