Heavenly Earth

Heavenly Earth
Bab 78


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Tunggu, biar saya catatkan alamatnya."


Abah kembali masuk kedalam rumahnya meninggalkan Bumi yang masih berdiri di ambang pintu menunggu, dan tak sampai lima menit pria baya itu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Ini alamatnya, semoga dia masih disana dan tentunya tak membuat kalian berselisih jalan nantinya" ujar Abah sambil memberikan secarik kertas pada Bumi, Ia pun langsung membuka kemudian membacanya dengan pelan bahkan hampir tak terdengar.


TOKO BUKU ABADI.


Bumi terkekeh kecil, ia merasa benar-benar sedang di permainkan oleh Mak othor Jahara!.


Mungkin kah kita akan di pertemukan di tempat seperti itu lagi untuk yang ketiga kalinya? dan kurasa ini bukan sebuah kebetulan semata tapi ini jalan takdir kita menuju halal.


Setelah Bumi mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia pun bergegas menuju mobil setelah berpamitan seraya mengucapkan salam. Jangan tanyakan bagaimana hatinya karna sudah pasti kini bagai tumbuh ribuan bunga didalam sana.


"Pak, ke alamat ini ya" pintanya pada sang supir sambil menyerahkan secarik kertas yang tadi Abah berikan padanya.


"Baik, Tuan"


Pria berjas hitam itu pun langsung menyalakan kembali mesin mobil sang majikan menuju tempat kedua yang di inginkan Tuan Mudanya. Sebuah toko buku yang cukup terkenal di tengah pusat kota.


"Apa masih jauh, Pak?" tanya Bumi seakan tak sabar dan takut gadis kesayangannya itu tak ia temukan disana.


"Sekitar sepuluh menit lagi kita sampai di tujuan, Tuan" jawab si supir meyakini pemuda yang duduk dibelakangnya itu.


"Baiklah, jika bisa di percepat, lakukan lah!" titah Bumi yang di balas anggukan kepala.


.


.


.

__ADS_1


Bumi menghela nafas saat mobil berhenti di sebuah parkiran gedung dua lantai yang cukup besar, Letaknya yang di tengah kota tentu membuat di sekitarnya pun ikut ramai dengan begitu banyaknya para pedagang yang menjajakan jualannya mulai dari aksesoris sampai makanan yang menggugah selera.


"Aku datang, Sayang" ucapnya mantap sebelum turun dari mobil.


Bumi melangkah kan kakinya menuju gedung tersebut, perasaannya yakin jika gadis kesayangannya itu ada di dalam sana karna jantungnya mulai berdebar tak karuan.


Mata tajam bak sekor elang pun kini mulai mengedar mencari sosok yang teramat ia rindukan dan dalam hitungan detik ia pun sudah menemukannya.


.


.


"Kalo gak nyampe bilang, yang" ujarnya sambil memberikan satu buku yang hendak di ambil oleh kahyangan di rak paling atas, tubuh tingginya ternyata tak mampu meraih buku tersebut jika bukan Bumi yang membantu mengambilnya barusan.


"Bumi!"


"Apa kabar?" tanyanya dengan senyum getir dan mata yang lagi lagi berkaca-kaca siap menumpahkan buliran air bening.


Kahyangan langsung menunduk, ia tak berani menatap Bumi secara intens karna paham posisinya kini.


"Aku merindukanmu, Yang"


Bumi yang reflek hampir menyentuh gadis kesayangannya membuat Kahyangan mundur satu langkah.


"Jangan sentuh" pintanya masih menunduk.


"Maaf, aku minta maaf" ujar Bumi penuh sesal, Ia lupa jika kahyangan yang sekarang tentu berbeda dengan kahyangan yang dulu selama dua tahun menjadi kekasihnya yang selalu ia peluk dengan manja dalam pelukannya sambil ia ciumi sesuka hatinya.


"Tak apa, aku mengerti" jawab Yayang yang sedang sekuat hati menahan air matanya agar tak tumpah belum lagi ia juga harus menahan diri agar tak khilaf bersentuhan dengan pria yang selama ini mengikat hatinya dengan cinta yang tulus luar biasa.


"Bisa kita bicara?, ada begitu banyak yang ingin ku katakan padamu" pinta Bumi yang ingin sekali melihat wajah cantik Kahyangan yang berbalut gamis serta hijab syar'i nya.


"Kamu bisa berjalan lebih dulu" jawab Yayang yang sama sekali tak mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah"


Bumi membalikkan tubuhnya sambil tersenyum simpul, ia berjalan dua langkah lebih dulu dari Kahyangan yang mengekor di belakangnya.


"Kita bicara disana, gimana?" tunjuk Bumi pada salah satu kedai kopi.


Kahyangan yang tersentak kaget dan ikut menghentikan langkahnya pun hanya bisa mengangguk pasrah dengan ajakan pria itu, apalagi saat Bumi malah justru terkekeh melihat ekpresi wajahnya.


"Kamu lucu, kenapa kita gak jalan bareng aja sih?, aku janji gak akan deket-deket kamu" pinta Bumi ia merasa jika Kahyangan seperti sedang menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya.


"Gak apa-apa, ayo lanjutkan kesana"


.


.


.


.


.


.


.


Bagaimana jika kamu yang jalan lebih dulu?


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Hayo kenapa ya 😔😔😔


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2