Heavenly Earth

Heavenly Earth
bab 51


__ADS_3

🥦🥦🥦🥦🥦🥦🥦


Bumi yang penasaran akhirnya datang ke resto tempat dimana Kahyangan bekerja, Ia sengaja datang sebelum jam makan siang agar suasana tak begitu ramai pengunjung.


Setidaknya ia bisa mencuri pandang jika gadis yang sedang ia rindukan itu ada.


"Selamat siang, apa anda sudah memesan meja? " tanya salah satu pelayan saat Bumi baru saja masuk kedalam resto.


"Siang juga" jawab Bumi sambil terus berjalan ke arah meja paling ujung dekat kaca besar.


Pemuda tanpan itu langsung duduk saat di pelayan tadi menarik salah satu kursi untuknya.


"Terimakasih"


Bumi memesan satu gelas minuman yang tertera di buku menu, ia ingin segera mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang kini masih memiliki hatinya.


Lima menit berselang pesanannya datang, si pelayan langsung menaruhnya diatas meja.


"Silahkan dan selamat menikmati"


Bumi hanya menganggukkan kepalanya dan tak lama kemudian ia memanggil si pelayan tadi yang baru saja pergi tiga langkah dari mejanya.


"Ada yang bisa saya bantu? "


"Maaf, apa disini ada gadis yang bekerja paruh waktu bernama khayangan? " tanya Bumi langsung tanpa basa basi.


Si pelayan itu diam sejenak lalu tersenyum simpul.

__ADS_1


"Sudah risegn sepertinya, karna sudah lebih dari seminggu tak datang untuk bekerja" jawabnya meski ragu.


"Lalu Alex? " tanya Bumi lagi, Ia pun cukup penasaran dengan pemuda yang juga dekat dengan kahyangan.


"Alex baru tiga hari lalu juga risegn"


Bumi mengernyitkan dahinya, hatinya begitu sakit menerima kenyataan jika mereka berdua kini bahkan keluar dari pekerjaan secara bersamaan.


"Ada masalah?"


"Maaf saya tidak tahu" ucap si pelayan tadi yang nampak kebingungan.


"Hem, baiklah Terima kasih banyak dan maaf sudah menggangu" balas Bumi.


Si pelayan mengangguk sebelum akhirnya ia pergi.


Rasa gelisah dan penasaran akhirnya membuat pemuda tampan itu memilih menemui Alex dirumahnya.


Bumi bangkit dari duduk dan pergi meninggalkan resto, langkahnya begitu tergesa menuju area parkir mobil.


Selama perjalanan menunju komplek perumahan Alex, ia tak henti memegang dadanya sendiri untuk menekan debaran jantungnya, karna mungkin saja nanti ia akan di hadapkan dengan kenyataan yang lebih menyakitkan lagi.


Kini mobil mewahnya berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang berjarak tiga rumah dari rumah kahyangan.


Bangunan itu nampak sepi bahkan benar-benar sepi, Bumi turun dari kereta besinya menoleh ke kanan dan kiri mengamati keadaan sekitar.


"Kaya rumah kosong" gumam Bumi saat menyentuh gembok di pagar rumah Alex.

__ADS_1


"Lampu juga nyala, mana kotor banget halamannya" tambahnya lagi sambil terus berbicara sendiri.


Dirasa tak ada siapa pun di dalam sana tentu ia juga tak berniat untuk memencet bel, sampai akhirnya Bumi tersentak kaget ketika bahunya di sentuh seseorang.


"Cari siapa? " tanya pria dewasa berkaca mata yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Maaf, saya teman Alex" jawab Bumi dengan terbata karna masih sedikit terkejut.


"Oh, teman Alex. keluarganya pindah kemarin ke luar kota karna ada hal yang kami juga belum tahu pasti tapi sepertinya sangat mendesak sampai harus pindah secara mendadak" jawab pria dewasa itu.


"Pindah?, lalu kahyangan? " tanya Bumi, entah kenapa otaknya langsung berpusat pada gadis itu.


"Oh, dek Yayang kayanya ikut keluarga Ibu Maria"


Deg...


Tubuh Bumi seakan-akan melemas seketika, Gadis ke sayangannya benar-benar ikut dengan Alex juga keluarganya, ia yang memang sudah tak tahu apa-apa lagi tentang kahyangan akhirnya hanya bisa pasrah dan percaya dengan apa yang ia dengar meski itu keliru


.


.


.


.


Kesalahpahaman pun terjadi dari sini

__ADS_1


__ADS_2