
π»π»π»π»π»π»π»
"Yang, mau kah kamu menjadi pendampingku, kurasa sudah cukup kita di permainkan oleh takdir dan kini saatnya kita bahagia atas izin-Nya"
Kahyangan hanya mengangguk lalu tersenyum simpul dan sedetik kemudian ia menundukkan pandangannya lagi.
"Apa jawabannya, iya?" Bumi kembali memastikan.
"Iya, aku menerima tawaranmu untuk menjadikan aku pendamping dunia sampai akhiratmu" jawab Kahyangan tegas tanpa keraguan sedikit pun dalam hatinya.
Alhamdulillah..
"Bisa kamu ikut aku?"
"Kemana?" tanya Yayang sembari menautkan kedua alisnya.
"Dirumah Utama ada acara, aku ingin membawamu kesana karna oppa dan mama pasti senang melihatmu" ajak Bumi yang sangat berharap Kahyangan menyetujui keinginannya.
"Oppa..Mama. Aku merindukan mereka semua"
"Baiklah, aku ikut" jawab Yayang sambil berdiri dari jongkok nya.
Bumi tersenyum senang, tak ada yang lebih membahagiakan nya selain hari ini.
"Bu, anaknya Bumi pinjem sebentar ya. Janji gak akan lecet kok" ujarnya sembari mengusap nisan nyonya Merlin dan itu membuat Kahyangan Terkekeh karna merasa sikap Bumi masih saja manis pada ibunya walau kini telah tiada.
"Yayang pamit ya, Bu. Yayang janji esok atau lusa akan kemari lagi"
"Aku gak di ajak?" protes Bumi menyelak ucapan Kahyangan.
"Iya, iya! Aku dan Bumi akan kemari lagi nanti" timpal Yayang.
Keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di sisi gerbang pemakaman. Bumi yang melangkah lebih dulu langsung membuka kan pintu dibagian kiri untuk Yayang tapi gadis itu menggeleng.
__ADS_1
"Biar aku duduk di belakang" tolaknya halus.
"Hem, baiklah Nona muda" cetus Bumi dengan nada kesal namun pasrah.
Bumi yang duduk di balik stir mobil sesekali melirik kearah gadis kesayangannya yang duduk di kursi belakang dengan tatapan penuh cinta yang tulus.
.
.
.
Mobil menepi di garasi luar Rumah utama, masih banyak tamu yang datang silih berganti dikediaman Rahardian.
Bumi yang mengajak Kahyangan turun pun belum di iyakan oleh gadis itu.
"Ada acara apa? kok rame." tanya Yayang.
"Acaranya Kakak Ay sama Hujan, ayo turun" ajaknya lagi dengan sorot mata memohon.
Bumi yang lebih dulu turun dari mobil langsung membuka pintu bagian belakang agar wanita solehahnya pun lekas keluar dari dalam kereta besi mewah miliknya.
"Aku malu" seru Yayang.
"Gak apa-apa, yuk"
Lagi lagi pria tampan itu reflek ingin menyentuh tangannya jika saja Yayang tak menghindar dengan cepat.
"Maaf"
Kahyangan yang berjalan dibelakang Bumi bergegas masuk kedalam rumah mewah bak istana yang kini di penuhi oleh banyaknya tamu dari berbagai kalangan, semua yang melihat Bumi langsung menyapa dengan sangat ramah dan sopan begitu pun dengan Kahyangan namun, gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kita langsung keruang tengah ya" ucap Bumi yang di iyakan oleh Kahyangan lewat anggukan kepala.
__ADS_1
Pasangan yang menjadi sorotan itupun kini memasuki ruang tengah dimana disana ada Oppa dan juga Hujan sedang duduk di sofa, air mata Kahyangan lolos begitu saja saat melihat pria baya yang dulu sangat dekat denganya sedang mengusap lembut perut Hujan.
"ini acara tujuh bulanan Hujan, tadi ada pengajian disini" jelas Bumi.
"Oh, gitu"
Bumi kembali mendekat dan menyapa Tuan besar Rahardian dan betapa terkejutnya pria baya itu saat melihat ada seorang gadis yang amat ia rindukan ada disisi cucu kebanggaannya.
"Oppa" sapa Bumi dan Kahyangan secara bersamaan.
"Kahyangan, itu kah kamu, Nak?"
Yayang langsung bersimpuh dan menciumi telapak tangan Tuan Wisnu dengan takzim, ia merasa tenang dan terharu saat kepalanya di usap lembut oleh Oppa.
"Maaf, maafin Yayang yang baru dateng" Ujarnya di sela isak tangis.
"Tak apa, ini memang tempatmu pulang. Oppa akan sabar menunggumu disini"
"Iya, Yayang pulang, Oppa. Yayang udah pulang" ucapnya sambil memejamkan mata saat oppa menghapus air matanya yang mengalir deras di pipi putih mulusnya.
"Jangan pergi lagi, tetaplah tinggal disni"
Kahyangan langsung mengangguk cepat sebagai tanda ia mengiyakan permintaan oppa. Namun kini fokusnya beralih pada seorang wanita berperut buncit yang sedari tadi menahan haru saat melihat bagaimana cara oppa memperlakukan Kahayangan penuh kasih sayang.
"Apa kabar?" tanya Hujan saat calon adik iparnya itu berhambur memeluknya.
"Aku baik, bagaimana denganmu" Kahyangan balik bertanya.
"Tentu, aku pun baik meski sulit untuk bergerak." kekeh menantu pertama Rahardian itu.
Oppa yang melirik kearah Bumi pun langsung melempar senyum haru dan bahagianya, karna kini dua gadis cantik yang akan melahirkan generasi penerus keluarga pun sudah ada lagi di depan mata tuanya.
***Jika Allah ingin menyabut nyawaku hari ini pun aku siap!
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ***