
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sampai di bandara Kota X keluarga Rahardian kembali turun dari pesawat. Kini tujuan mereka adalah Hotel milik keluarga Pradipta sebagai tempat menginap selama prosesi lamaran resmi antara Bumi dan Kahyangan nanti.
Gadis cantik bergamis merah muda itu di gandeng oleh Cahaya, entah ada apa dengan si bungsu yang secara tiba-tiba enggan di dekati oleh Langit.
"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Bumi sebelum Kahyangan masuk kedalam mobil.
"Bicaralah"
"Tidak sekarang dan tidak disini juga, sayang?"
"Tapi aku ingin Mitha ikut, bagaimana?" jawabnya sedikit menunduk
"Baiklah, aku akan memintanya untuk bersama kita" balas Bumi dengan sedikit kecewa.
Kahyangan tersenyum simpul, ia begitu ingin mengusap wajah tampan calon imamnya itu yang kini sedang merengut kesal tapi tentu ia akan sekuat hatinya untuk menahan sentuhan tangannya.
Bumi menarik ujung hoody yang di kenalan Mitha, gadis itupun langsung menoleh dengan raut wajah kagetnya.
"Apa sih, kak?!"
"Anter kakak yuk, kakak mau jalan sama Yayang tapi dia minta kamu ikut" jelas Bumi yang sebenarnya Mitha menolaknya.
"Aku jadi nyamuk, gitu? " Ucapnya dengan kedua alis saling bertautan.
"kayanya sih!" jawab Bumi sambil menahan tawa.
"Ogah" tolak sang tuan putri Praipta tersebut.
__ADS_1
Namun bukan Bumi jika ia tak bisa merayu adik sepupunya itu, Meski Mitha bergelimang harta tapi tetap saja ia tak akan menolak jika ada yang memberinya card unlimited secara cuma-cuma.
.
.
.
Sebuah toko buku awal mereka tempo hari pun menjadi pilihan Bumi dan Kahyangan untuk keluar rumah, sebenarnya tak ada hal yang serius untuk di bicarakan, Bumi hanya sekedar mencari alasan agar bisa keluar dengan kekasih hatinya itu.
"Ada apa? apa yang ingin kamu katakan?" tanya Yayang yang berdiri di antara ratusan buku yang tersusun rapi di rak rak yang berjejer tinggi.
"Aku merindukanmu"
Kahyangan langsung menoleh dan tersenyum simpul.
"Bukankah beberapa hari ini aku tak lepas dari pandanganmu?" ejek gadis begamis panjang itu.
"Kita hanya tinggal menghitung hari untuk tinggal satu atap dalam mahligai rumah tangga, bersabarlah sedikit lagi"
Bumi hanya menganggauk paham, Sosok gadis di dekatnya itu kini benar-benar berubah lahir dan bathin. Ia benar-benar tak pernah lagi berani menatap Bumi lebih dari lima detik lamanya.
"Kamu ingin mahar apa? sepertinya kita belum banyak membahas masalah pernikahan."
ppada
"Apa saja, aku tak mempermasalahkannya" jawab Kahyangan yang masih memilih buku yang akan ia beli.
"Aku serius, Yang" ucap Bumi selangkah lebih mendekat.
__ADS_1
"Aku pun serius, aku tak akan memberatkan mu sebagai pihak laki-laki untuk memberi mahar untukku meski itu adalah hak ku" tegas Yayang, senyum nya begitu cantik karna ada keikhlasan di balik semua yang ia katakan.
"Mahar itu hanya sebuah tanda pengikat pernikahan, yang terpenting bagiku cukup kamu menempatkan aku menjadi satu-satunya dalam hatimu" tambahnya lagi penuh harap.
"Kamu masih meragukan hal itu?" balas bumi.
"Tidak, aku yakin kamu akan melakukan hal itu"
Keduanya kembali diam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing, tak ada yang memulai obrolan sampai akhirnya Mitha datang dan merengek ingin pulang.
"Udah puas, ngajak pulang. Curang!" ketus Bumi si pria dingin yang sulit sekali di sentuh oleh siapapun.
"Memang urusan kalian belum selesai?" Tanyanya menatap dua pasangan menuju halal itu satu persatu.
"Urusan kakak dengannya tak akan pernah selesai"
Mitha hanya terkekeh sembari menggandeng tangan Kahyangan, wanita dewasa yang sudah membuat kakak sepupunya itu puas mengalami patah hati abadi.
"Kalian nanti akan menikah, aku harap setelah ini kak Bu akan selalu tersenyum" ucap Mitha yang langsung membuat Kahyangan menoleh kearahnya.
"Memang kenapa?"
.
.
.
.
__ADS_1
Kak Bu itu, Hidup segan mati tak mau....