
ððð
"Tapi hatiku seakan ada hal lain, tapi itu entah apa?" ucap kahyangan yang merasa bingung sendiri dengan apa yang kini ia rasakan.
Ada yang bergejolak dalam dadanya yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, debaran jantungnya jelas berbeda seakan-akan begitu banyak bunga di dalam hatinya.
"Ummi, kenapa Bumi itu bulat?" tanya Nisa polos yang sedang duduk dengan nyaman di sebelahnya.
"Karna, Ia adalah bukti bahwa cintaku tak pernah ada ujungnya"
Semua orang tertegun dengan jawaban yang diberikan Kahyangan yang tentu sangat aneh dan itu juga bukan Jawaban yang sesungguhnya.
Ehem..
Deheman Iqbal membuyarkan lamunan Kahyangan di tambah kekehan Nisa dan Ambu.
"Hah?, ada apa?" tanya Yayang kebingungan.
"Gak ada apa-apa kok Umi" tawa Nisa sambil menutup mulutnya. .
Mobil sampai di parkiran sebuah masjid, semuanya turun dengan dan berjalan beriringan.
Nisa yang sangat aktif malah justru meninggalkan Kahayangan yang tak bisa berjalan cepat.
__ADS_1
"Nisa, tunggu Ummi" teriak Yayang yang tak di gubris sama sekali oleh bocah cantik itu.
Yayang mengedarkan pandangannya ke sekitar masjid yang teramat membuat ia nyaman dengan rindangnya pohon dan tanaman lainnya.
Tapi matanya beralih pada sebuah mobil mewah yang terparkir dekat mobil Iqbal yang ia naiki tadi.
"Dulu hampir setiap hari aku menaiki mobil mewah seperti itu dengan Bumi" gumamnya pelan sambil tertawa kecil.
"Ah.. Bumi lagi.. Bumi lagi. Kapan aku bisa melupakannya?" cetus Yayang yang akhirnya kesal sendiri dengan otaknya yang tak pernah jauh memikirkan Bumi, pria yang hanya bisa ia sebut dalam doa namanya tanpa meminta hal lain kecuali kebahagiaan atas pemuda tampan yang umurnya lebih muda satu tahun darinya.
"Yang, kok diem disini sih" Suara Umi jelas membuyarkan lamunan gadis cantik itu yang masih berdiri memandangi kereta besi yang nampak dekat dengan hatinya.
"Enggak, Ambu. Ayo"
Saat ia menarik diri dari masa depan yang masih abu-abu ternyata sang Pencipta memberikan masa lalu yang penuh warna di hidupnya yang kini tak lagi sempurna, tanpa orang tua, sahabat dekat dan tentu dari kekasihnya juga.
"Ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Ambu, saat Ayahmu melepas keyakinannya justru kamu lah yang meraihnya lagi. Ambu tak merasa sendiri sakarang" ucap Ambu yang mengelus tangan Kahyangan yang masih melingkar di lengannya. Wanita itu harus mengimbangi langkah si cantik yang yang terseok karna belum pulih total.
"Kita tak tahu masa depan, Ambu. Yang terpenting aku melakukannya dari hatiku sendiri bukan karna hal lain." jawab Yayang.
"Bukan karna kekasihmu juga, kan?" tanya Ambu yang langsung membuat Kahyangan menoleh.
"Jika semua ini aku lakukan demi dia, mungkin aku sudah membuat keputusan untuk kembali ke kota untuk bertemu dengannya"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tak melakukan itu?, dia pasti bahagia jika tahu kamu kini seIMAN dengannya" Tanya Ambu lagi dengan mengernyitkan dahinya.
"Entahlah, hatiku hanya sebatas merindukannya tapi tak pernah ingin bertemu dengannya apalagi memberitahukan jika kini kami sama" balasnya sambil menggelengkan kepala.
Memang tak pernah ada niat dalam hatinya untuk kembali ke ibu kota, disana begitu banyak kenangan semasa ia hidup lebih dari dua puluh tahun. Kahyangan memilih akan tetap tinggal di kota X bersama Ambu dan Abah sambil menunggu jodohnya datang yang entah itu siapa.
.
.
.
.
Ambu, ada perpustakaan ya..
Aku akan kesana sambil menunggu!
ðððððððððð
Si Bumi masih di dalem gak ya ðð
atau lagi ngumpet di kolong meja ðĪŠ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.