
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Rujak serut?" tanya Melisa memastikan yang dijawab anggukan kepala oleh si tengah yang mengulum senyum.
"Mama liat buahnya dulu ya" kata Melisa sambil berlalu kearah lemari pendingin.
Bumi yang sudah duduk di kursi meja makan di hampiri Reza yang masuk bersama Tutut Jajahnya.
"Ngapain kak? mandorin mama masak"
"Enggak, lagi nunggu mama bikinin rujak buat kakak" sahutnya seraya mencubit pipi Sam yang berada di atas pangkuan papanya.
"Tatit oey!"
"Ih, cuma pelan begini masa sakit sih" goda Bumi yang langsung membuat si putra mahkota Rahardian itu merengut kesal.
"Appa, Angkel akal noh" adunya dengan memanyunkan bibir.
"Biarin, nanti di cium sama Onty"
"Mau dong di cium Onty, nakalin dede lagi ah" balas Bumi sambil terkekeh.
"Bobo yuk Appa, nda mahu ama angkel ih"
Reza hanya mengangguk meski itu hanya alasan karna jika sudah sampai di kamar Sam hanya bermain atau berceloteh sesukanya.
Sepeninggal papa dan keponakannya ke kamar kini hanya Ia dan sang mama yang di dapur karna Kahyangan masih berada di gazebo bersama Omma.
"Buahnya gak lengkap, gak apa-apa ya" kata Melisa sambil menyodorkan satu piring kecil rujak serut ke hadapan putra kebanggaan nya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Mah. Aku cuma lagi pengen yang seger seger aja"
"Kenapa gak makan salad buah? kalo itu ada di kulkas"
Bumi hanya menggeleng, ia begitu menikmati apa yang kini ada dalam mulutnya, pedas asam dan tentunya sangat pas di lidahnya.
"Mama tuh kapan sih bikin makanan gak enak? aneh banget karna semua tuh pasti gak ada tandingannya" puji Bumi, meski sang istri juga pandai beraksi di dapur tapi entah kenapa masakan wanita baya itulah selalu yang terbaik memanjakan perutnya.
"Masa? kakak tuh pinter banget ya gombalnya kaya papa"
******
Usai menghabiskan sepiring rujak serut di dapur Bumi merangkak naik ke ranjang karna rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya tanpa bisa di tahan lagi. Kahyangan yang baru masuk kedalam kamar pun sampai kesal karna tak berhasil membangunkan sang suami padahal kewajiban tiga rakaatnya sudah telat sepuluh menit.
"Kamu kenapa sih?" Kahyangan memukul punggung Bumi pelan dengan bantal karna masih saja tak mau membuka matanya.
"Hem.. apa?" Bukan bergegas bangun, pria tampan berkaos hitam itu hanya bergumam pelan.
"Mau imamin aku gak? kalo gak aku sendiri nih"
"Hem.. nanti, Yang" jawabnya dengan masih mata terpejam.
Kahyangan membuang napas kasar, ia yang sudah berbalut mukena akhirnya melaksanakan kewajibannya sendiri tanpa sang suami yang biasa mengimami nya.
Salam terakhir ia sempatkan melirik sekilas kearah ranjang dan benar saja jika sandaran hatinya itu masih mendengkur halus bahkan tak terganggu sama sekali saat lantunan ayat suci menggema di kamar mereka.
.
.
__ADS_1
.
"Bumi mana?" tanya Melisa saat menantunya datang sendiri ke ruang makan.
"Tidur, Mah. Aku bangunin gak bangun-bangun" sahutnya sambil menarik kursi di sebelah Hujan, kakak iparnya.
"Sakit?" tanya sang menantu pertama Rahardian.
"Enggak, kak. Cape banget mungkin" jawab Kahyangan yang sebenarnya ragu karna ia belum sempat mengecek kening Bumi sebelum keluar dari kamar.
"Bumi kalo sakit biasanya kakak suka ikutan bersin terus" timpal Air yang sedari tadi sudah memeluk toples kerupuk, kebiasaan sejak kecil yang tak pernah berubah.
"Udah pada tua padahal ya" kekeh Hujan yang langsung mendapat cibiran dari suaminya.
"Ya udah, nanti mama siapain buat Bumi takut tengah malam bangun dan lapar"
"Iya, Mah."
Anggota keluarga Rahardian makan malam dengan lahap meski tanpa si tengah, celoteh Sam tentu menjadikan suasana ruang makan semakin hangat dan ramai karna ada saja yang ia debatkan dengan siapapun yang menggodanya.
"Yang ini mah makanan untuk Bumi?" tanya Kahyangan setelah selesai menikamati masakan yang sungguh sangat menggugah seleranya.
"Iya, mau di bawa sekarang ke kamar?"
"Iya, Mah. Biar nanti Bumi makan di kamar aja" jawabnya sambil meraih nampan yang di serahkan mama mertuanya.
Kahyangan berlalu lebih dulu ke lantai dua meninggalkan keluarga lainnya yang memilih berkumpul di ruang tengah seperti biasa usai makan malam.
☘☘☘☘☘☘
__ADS_1