
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Alhamdulillah...
Semua orang berseru lega, begitupun Oppa dan Bumi yang kebetulan datang hanya pas saat mendengar seseorang di balik sana mengucap dua kalimat syahadat dengan nada suara yang begitu lembut.
"Kita mendapatkan satu saudara lagi" bisik Oppa sambil tersenyum.
"Iya" jawabn Bumi pelan karna hatinya seakan ada hal lain.
Apa karna aku sangat merindukanmu, jadi setiap ada yang bicara seakan itu seperti suaramu, Yang.
.
.
"Yuk, pulang. Aku ada janji penting sore ini" ajak Bumi melengos begitu saja meninggalkan pria baya yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa-apan anak itu, jodoh sudah di depan mata malah sibuk memikirkan rapat!" ketus Oppa berdecak pinggang.
"Belum saatnya" suara H.Ruslan yang tiba-tiba membuat Oppa menoleh kearah samping.
"Kita hanya berencana sampai disini, tentu selanjutnya biar Allah yang menentukan mereka bertemu atau tidak. Dan bisa kita lihat akhirnya Bumi memilih pergi" sambung H.Ruslan lagi.
"Biar ku panggil anak itu"
"Jangan! biarkan hati mereka yang mempertemukan dimana pun dan kapanpun itu karna hati tak akan pernah membohongi langkah sejauh apapun arahnya"
Oppa akhirnya menangangguk paham, ia sebagai manusia hanya bisa merencanakan pertemuan tapi semua harus di kembalikan lagi pada yang maha Kuasa [ Mak Othor ]
"Aku ingin melihatnya sebentar" izin Oppa dengan sangat memohon.
"Tentu, silahkan" Jawab H.Ruslan sambil menyibak sedikit tirai penghalang.
Oppa tersenyum kecil sambil menghapus air matanya saat melihat Kahyangan sedang mengaAminkan doa untuknya.
"Aku titip gadis itu, kamu tahu kan bagaimana aku menyayanginya hingga melakukan hal ini" pesan Oppa pada pria seumurannya itu.
"Tentu, aku akan menjaganya untuk kalian" jawab H.Ruslan.
__ADS_1
Oppa langsung berjalan keluar menyusul cucu keduanya yang sudah berada didalam mobil menunggu.
Oppa tunggu kedatanganmu di Rumah Utama...
******
"Aamin"
Itulah kata kata yang keluar dari mulut semua orang yang kini sedang bernafas lega karna ke sah'an kahyangan yang kini resmi menjadi mualaf secara hukum negara.
Ambu memeluk erat gadis itu dengan deraian air mata yang membasahi wajah cantiknya di usia tua.
Begitupun dengan Abah yang ikut terharu dan Iqbal hanya tersenyum Simpul bahagia.
"Kalian kenapa sih?" tanya Nisa polos bercampur bingung saat semua orang bersikap aneh menurutnya.
"Gak apa-apa, Sayang" jawab Kahyangan sambil merentangkan tangannya.
"Kok pada nangis?" tanya bocah cantik itu lagi yang kini sudah duduk di atas pangkuan Kahyangan.
"Nangis bahagia, karna mulai hari ini Ummi udah bisa ikut shalat sama Nisa juga yang lainnya" jelas Yayang.
"Beneran!"
"Yeeeeeeeeee. Yuk shalat" ajak Nisa saking antusiasnya.
"Nisa mau shalat apa?, ini belum waktunya ashar" kekeh Ambu sambil mencium pipi bulat cucunya.
Semua tertawa bahagia, begitu pula dengan H.Ruslan yang menatap lekat Kahyangan dengan intens.
"Ya sudah, kami pamit pulang, dan Terima Kasih banyak" ucap Abah seraya bangkit dari duduknya disusul juga dengan yang lain.
"Sama-sama, Jangan lupa Mandi besar dan untuk melakukan rukun islam yang lainnya" pesan pak ustadz.
"Baik, akan Yayang usahakan untuk terus istiqomah"
***
Selama perjalanan pulang ke rumah, Oppa diam tak berkata apapun, sikapnya tentu membuat Bumi sesekali menoleh kearah pria baya itu tapi tak berani bertanya apapun.
__ADS_1
Begitu juga dengan Oppa yang hanya bisa mengeram kesal mendengar cucunya itu begitu sibuk melayani telepon dari orang yang akan ia temui sore ini.
Hingga sampai di bandara ibu kota pun, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
Bumi yang berjalan di belakang Oppa yang bertanya tanya dalam hatinya tentang perubahan sikap di pris baya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alex..
Ya, itu alex tapi mana Yayang?
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Jiah malah ketemunya sama mantan saingam berat 🤣🤣
Yuk di lurusin salah pahamnya biar bisa ketemu 😤😤
Like komennya yuk ramaikan.
yang ngerasa belom like di bab 72 dan 73 bisa scrol lagi ya buat tap jempol.. Gak susah kan?
teteh sakit belain crazy up loh.. ribuan kata buat ngetik..
__ADS_1
masa buat teken like aj sedetik susah bgt.
#Pundunglah 😌