
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ada apa denganku?" ucap Bumi membathin dalam hati.
Ia mendadak gelisah dan merasa serba salah sampai Oppa harus berkali-kali menegurnya.
"Gak apa-apa, Oppa" itulah jawaban si tengah saat di tanya oleh pria baya yang duduk di sisinya.
Oppa hanya tersenyum simpul melihat tingkah cucu kebanggaannya itu, Seorang pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta namun harus terluka di atas kata perbedaan Iman .
"Opaa, apa masih jauh?" tanya Bumi basa basi untuk mengusir perasaan anehnya.
"Baru juga berapa menit, Ada apa?" Goda Oppa sambil balik bertanya yang akhirnya hanya di jawab gelengan kepala oleh Bumi.
Lima belas menit kemudian mobil berhenti dihalaman parkir sebuah masjid yang tak begitu besar namun memiliki halaman yang cukup luas, di sisi kanan ada beberapa pohon besar sedang didepannya juga terdapat kolam ikan dan air mancur.
"Yuk, turun" ajak Oppa.
"Masih ada satu jam buat shalat dzuhur" seru Bumi yang hanya di jawab senyum kecil oleh Oppa.
"Ada perpustakaan di dalam, kita bisa kesana sambil menunggu adzan"
Oppa melangkah pelan bersama sang cucu ke salah satu ruangan samping masjid, hanya ada dua orang disana.
Satu Pengurus dan satu lagi mungkin pengunjung yang sama dengannya.
Bumi menarik salah satu kursi besi sangat pelan setelah ia mengambil buku secara asal karna baginya semua buku itu menarik jika di baca dengan seksama.
.
.
__ADS_1
.
.
"Mau jalan sekarang?" tanya Ambu pada Abah dan Iqbal di teras.
"Iya, kan shalat dzuhur sama shalat jumat disana" jawab Abah setelah menyesap kopinya yang tinggal sedikit.
"Ya sudah, Ambu panggil Yayang dulu ya"
Wanita baya itu membalikan tubuhnya, ia kembali masuk kedalam rumah menuju kamar sang keponakan yang sehabis sarapan tadi tak kunjung keluar dari kamarnya.
Tok.. tok.. tok...
"Yang, boleh Ambu masuk?"
"Iya, Ambu. Maaf lama" sahut Kahyangan sambil membuka pintu dan kini dua wanita itu sudah saling berhadapan.
"Siap Ambu, InsyaAllah Yayang siap" jawabnya sembari menghambur memeluk Ambu, wanita baya yang saat ini berperan menjadi pengganti Ibu baginya.
"Ya sudah, Ayo siap siap"
Kahyangan melepas pelukannya, ia masuk lagi kedalam kamar untuk mengambil tas dan pashmina di atas tempat tidur.
"Semoga hijrahmu istiqomah ya cantik, sehabis ini pakai jilbabmu dengan benar dan rapih jangan sampai ada sehelai rambut pun yang terlihat, usahakan untuk menutupi dada, Paham?!" pesan Ambu.
"Paham, Ambu. Yayang akan turutin semua kewajiban dan perintahNya"
Sekali lagi mereka berpelukan, Ambu mengusap punggung dan menciumi kening keponakannya itu dengan sangat lembut. Rasa rindunya pada Yusuf seakan sudah di bayar tunai oleh Allah saat gadis kecilnya ini berada dalam dekapannya.
Ehem...
__ADS_1
Deheman Iqbal langsung membuat Yayang mengurai pelukannya, ia tersenyum simpul saat Duda Anak satu melipat tangan di dada.
"Di tungguin dari tadi!"
"Maaf" ucap Yayang dan Ambu bersamaan sambil terkekeh.
Ketiganya kini berjalan menuju teras, Iqbal yang sudah lebih dulu melangkah langsung masuk kedalam mobil karna memang sudah siap untuk berangkat.
Abah, Ambu, Kahyangan dan Nisa pun bergegas menyusul dan menempati kursi masing-masing.
"Nisa duduk sama Abah sini"
"Enggak, Nisa mau sama Ummi" jawab gadis cantik berjilbab merah muda tersebut.
Kahyangan yang diam di biarkan saja oleh Ambu, Wanita itu tahu jika mungkin Yayang sedang merasakan debaran jantungnya yang luar biasa saat ini Karna bagaimana pun ini adalah hari bersejarah baginya.
"Ambu, tangan Yayang sampe gemetaran begini"
"Bismillah ya, kuatkan hatimu" jawab Ambu meyakinkan Yayang jika semua baik baik saja.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Tapi hatiku seakan ada hal lain, tapi entah apa!"