
ππππππππ
Sabtu sore Iqbal pulang kerumah orang tuanya, hal yang rutin ia lakukan semenjak sang istri meninggal setahun lalu ia lebih memilih menitipkan putri semata wayangnya itu pada Ambu dan Abah ketimbang menyewa baby sister dirumahnya untuk mengurus Nisa.
"Assalamu'alaikum"
Iqbal terus mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, rumah sederhana namun asri itu terlihat begitu sepi.
"Waalaikumsalam"
Cek lek
Kahyangan membuka pintu dengan pelan, wajahnya menunduk seperti biasanya jika bertemu dengan Iqbal.
"Sepi banget, pada kemana?" tanya Iqbal setelah masuk dan duduk di kursi ruang tamu.
"Nisa sama Ambu ke pengajian, ada acara di masjid sedangkah Abah lagi ada urusan" jawab Hujan yang berdiri sedikit jauh dari duda beranak satu itu.
"Duduk" titah Iqbal.
"Hah?! " .
"Kamu duduk, saya mau bicara! " titah Iqbal sambil menunjuk satu kursi di hadapannya.
Kahyangan langsung menurut, dengan pelan ia berjalan menuju kursi yang ada didepan Iqbal.
"kakimu masih sakit?"
"Iya, masih sakit dan sering ngilu" jawab Yayang.
"Saya sudah menghubungi salah satu doker di kota ini, satu jam lagi kita kesana untuk melakukan pemeriksaan. lekas lah sembuh" ucap Iqbal sambil bangun dari duduknya.
"Cepat bersiap! jangan buat saya menunggu!" tukasnya lagi lalu pergi menuju kamarnya.
Dada kahyangan begitu berdebar, hampir sebulan ia mengenal Iqbal tapi tak sekalipun ia berani menatap kedua manik mata pria itu.
*****
Satu jam berselang keduanya benar-benar pergi menuju salah satu bagunan dua lantai di pusat kota.
Iqbal membantu Yayang naik dan turun dari mobil sebelum Gadis itu berjalan sendiri menggunakan tongkat.
__ADS_1
"Selamat sore" sapa salah satu perawat saat Iqbal menghampiri meja resepsionis.
"Ya, selamat sore juga, saya sudah ada janji dengan dokter Ridwan, ada?" jelas Iqbal sopan.
"Ada, sudah di tunggu di ruangannya. mari silahkan ikut saya"
Iqbal dan Kahyangan berjalan mengekor di belakang seorang wanita berpakaian serba putih itu, Iqbal berjalan pelan karna harus menunggu Yayang nampak kesulitan.
"Mau pakai kursi roda?"
"Enggak usah, kamu duluan aja gak perlu menunggu ku" jawab Kahyangan.
Keduanya masuk kedalam ruangan dokter setelah suster tadi mempersilahkannya.
Kahyangan dan Iqbal di sambut baik yang memang sudah sangat ditunggu kehadirannya.
Setelah berbasa-basi kini Kahyangan diminta untuk berbaring ke atas brangkar untuk di periksa. Sudah ada dua perawat yang siap membantu jalannya pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter Ridwan.
Iqbal yang berdiri tak jauh dari Kahyangan terkadang ikut meringis saat kaki gadis itu di sentuh, ia bagai bisa merasakan apa yang Kahyangan rasakan.
Usai pemeriksaan Iqbal pun dengan sangat serius mendengarkan dokter Ridwan tentang hasilnya.
"Terimakasih dokter, kami pamit dulu" ucap pria dewasa itu seraya bangun dari duduknya
"Sus, bisa ambilkan Kursi roda?" Pinta Iqbal pada salah satu perawat yang lansung di iyakan.
Setelah apa yang di inginkannya datang Iqbal pun langsung membantu Kahyangan naik ke kursi roda kemudian mendorongnya sampai ke parkiran mobil
.
.
.
"Maaf ya" ucap Iqbal saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.
"Untuk apa?"
"Kecelakaan yang menimpamu karna ke lalaian Abah"
Kahyangan menoleh, ia melihat manik mata Iqbal lebih hangat dari biasanya.
__ADS_1
"Tak apa, aku sudah ikhlas" sahut Kahyangan setelah menarik nafasnya dalam-dalam.
"Minimal dalam waktu enam bulan kakimu baru akan sembuh, dan selama itu kamu harus bergantung dengan tongkat, apa kamu sanggup? " tanya iqbal sangat merasa bersalah.
"Apa jika aku tak sanggup semuanya akan berubah?, tidak, kan! aku hanya terus berusaha menerima semua ini. Ada begitu banyak kejutan yang di berikan Tuhan setelah kecelakaan termasuk mempertemukan aku dengan kalian. Ambu Abah dan Nisa sangat baik padaku, Terima Kasih" ucap kahyangan dengan senyum manis yang sudah sabgat lama tak ia berikan pada siapapun.
"Kenapa kamu begitu yakin pada kami? bahkan mengenal pun tidak sama sekali" cetus Iqbal kembali pada sifat angkuhnya
"Entahlah"
Iqbal tak meneruskan lagi perbincangan mereka, ia langsung menyalakan mesin mobil untuk kembali kerumah.
***
"Katakan jika kamu ingin pulang, biar aku mengantarmu"
"Pulang kemana?, bukankah sudah ku katakan jika aku yatim piatu! " jawab Kahyangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin saja kamu merindukan kekasihmu...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hayu atuh AaDud anterin yayang pulang π€£π€£
Like komennya yuk ramaikanπ
__ADS_1