
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sekarang, mulai sekarang kamu tidak akan sendiri lagi saat datang ke makam ibuku." ucap Kahyangan yang kini berdiri di belakang pria pemilik hatinya itu.
Bumi sontak menoleh kearah suara yang begitu sangat ia kenal sedari dulu, keduanya diam saling menatap sebelum akhirnya Bumi bangun dari jongkoknya.
"Gak usah bercanda, saking kangennya sampe berasa kamu ada disini ya, di depan aku" ucapnya pelan seaakan Bumi yang tak percaya jika Kahyangan benar-benar nyata di hadapannya.
"Bisa gila lama-lama mikirin kamu, karna terus kangenin kamu!" tambahnya lagi sambil menghapus air matanya.
"Gak gini caranya, jangan buat aku semakin merindukanmu"
Tubuhnya yang lemas akhirnya ambruk lagi didepan makam nyonya Merlin, ia menangis sesegukan sambil mengusap nisan yang berbentuk salib.
"Tolong katakan padanya untuk berhenti menyiksaku, Bu"
Kahyangan yang sedari tadi berdiri dengan senyum khasnya ikut berjongkok juga di depan makam ibunya bersebrangan dengan Bumi, tubuh tinggi putih berbalut gamis coklat muda itu memejamkan kedua matanya saat berdoa, ia terlihat begitu tegar sampai Bumi harus merunduk malu dengan dirinya sendiri.
"Ini mimpi atau nyata?" tanya Bumi yang menatap intens gadis cantik berhijab syar'i itu.
__ADS_1
"Menurutmu?"
Bumi membuang nafas kasar, ia tertawa kecil karna masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya kini.
"Kita bertemu lagi di depan makam ibuku, hal yang tak pernah aku pikirkan selama ini." ucapnya lagi tanpa menoleh ke arah Bumi meski pria itu tetap melihat kearahnya.
"Justru ini adalah mimpiku yang menjadi kenyataan, dimana aku selalu berharap untuk bisa meminta izin pada ibu untuk melamarmu, Yang"
Kahyangan akhirnya menoleh dan kedua manik mata mereka pun bertemu saling pandang seraya bertukar kerinduan yang bertahun-tahun mereka pendam tanpa tahu kabar sama sekali, Bumi dan Kahyangan benar-benar mengandalkan Allah dan keyakinan mereka untuk menitipkan rasa rindu dan tetesan air mata adalah saksi betapa rasa itu terkadang tak sanggup lagi mereka tahan.
"Lakukanlah jika kamu ingin, kurasa ini batas akhir kit berpisah" ucap Kahyangan yang langsung membuat Bumi tersenyum sambil mengangguk.
"Aku tak punya alasan untuk menolakmu lagi'
Bumi dan kahyangan menyentuh dan mengusap lembut batu nisan nyonya Merlin, ada senyum terukir di sudut bibir Kahyangan yang sedang menunggu pria yang di cintaiinya itu berbicara.
"Bu, aku dan Yayang kini ada di hadapanmu, hal yang sudah lama sekali tak kami lakukan semenjak aku dan dia berpisah selama bertahun tahun lamanya. Ini adalah harapanku yang Alhamdulillah Allah mengabulkannya hari ini, mungkin ibu juga sudah sangat bosan mendengar keluh kesahku yang sama hampir setiap minggu saat aku datang menengokmu,
ku rasa cukup untukmu merayu Tuhan karna kini Kahyangan sudah kembali padaku." Bumi berkata dengan sesekali melirik ke arah gadis kesayanagannya yang sedikit menunduk menahan haru bercampur malu.
__ADS_1
"Bu, bolehkah aku meminta putrimu yang cantik dan solehah ini untuk menjadi istriku, aku ingin anak anakku memiliki surga di bawah telapak kakinya" pinta Bumi di sela isak tangisnya yang tak kuat lagi ia tahan.
Kini tatapan Bumi beralih pada Kahyangan, ia sedang memantapkan hatinya meski ini bukan yang pertama kali ia memohon pada gadisnya itu.
.
.
.
.
.
"Yang, mau kah kamu menjadi pendampingku, kurasa sudah cukup kita di permainkan oleh takdir dan kini saatnya kita bahagia atas izin-Nya"
__ADS_1