
πππππππ
"Bagaimana jika kamu jalan lebih dulu?" pinta Bumi pada Kahyangan yang kini ada di depannya saat ia membalikkan badan.
"Berjalan lah lebih dulu, biar aku mengikutimu dari belakang" jawab gadis bergamis itu.
"Tapi aku takut." ujar Bumi yang sebenarnya lebih mengarah ke khawatir jika Kahyangan berada di belakangnya.
Bumi menghela napas berat, lalu kembali melanjutkan langkahnya lagi menuju kedai kopi yang ia tunjuk tadi.
Dan sampai disana, keduanya duduk berhadapan saling diam beberapa menit lamanya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Yayang mengawali pembicaraa mereka.
"Aku ingin menangis lebih dulu, boleh?" pinta Bumi yang langsung menunduk dan sedetik kemudian bahunya terguncang menandakan jika ia sedang benar benar menumpahkan air matanya.
"Bu, ku mohon jangan begini" Pinta Kahyangan yang ikut menghapus air matanya sendiri.
"Kamu tahu bagaimana terpuruknya aku tanpamu, kamu tahu betapa terlukanya aku kehilanganmu dan apa kamu tahu sesakit apa saat aku merindukanmu. Kamu harus tau jika sampai detik ini aku tetap mencitaimu, Yang" tegas Bumi dengan mata begitu merah, selama Kahyangan bersamanya baru malam ini gadis itu melihat jelas luka di kedua mata Bumi yang berbalut rindu.
"Maaf"
__ADS_1
"Aku selalu memaafkanmu, dan kamu paham akan hal itu" jawab Bumi.
Kahyangan kembali menunduk, tak kuat rasanya menahan diri untuk tak memeluk prianya itu.
"Maaf, aku tak mencarimu selama ini, aku fikir kamu pergi dengan keluarga Alex ke luar kota" ucap Bumi penuh sesal
"Alex pergi?, kemana?" tanya Kahyangan sambil mendongakan wajahnya.
"Aku bertemu dengannya siang ini di bandara, bahkan dia datang ke ibu kota untuk mencarimu. Apa yang terjadi padamu selama ini sampai kamu memilih satu Amin denganku?" rasa penasaran tentu menggelitik hati Bumi tentang hijrahnya Kahyangan yang justru di lakukan gadis itu saat tak bersamanya.
"Semuanya terjadi begitu saja dalam waktu yang tak kuduga, dan kurasa ini bukan saatnya aku menceritakan itu semua padamu" ujar Yayang yang masih kuat bertahan tak menatap Bumi dihadapannya.
"Kalau begitu ikut aku pulang, kita ceritakan dirumah"
"Pulang kemana?, aku tak punya rumah di ibu kota. Lalu pulang yang seperti apa maksud mu?"
Bumi mengusap wajahnya kasar, ia tahu jika gadis kesayangannya itu hanya berpura-pura tak mengerti dengan Keinginannya, Kahyangan mulai memancing emosinya yang sedang lelah lahir bathin.
"Kamu tahu jika keluargaku adalah keluargamu juga, 'Kan?" Imbuh Bumi penuh penegasan seraya mengatakan jika Kahyangan tak pernah hidup sendiri karna ada dia yang akan selalu ada kapan pun dibutuhkan.
"Keluargaku sekarang disini, dan aku akan tetap disini, Bu" tolak Kahyangan dengan keras kepala.
__ADS_1
"Aku tak akan mengizinkanmu tinggal disini, aku akan membawamu pulang ke kota, Yang."
Kahyangan menggelengkan kepalanya, pertanda ia menolak ajakan Bumi untuk kedua kalinya. Ia masih tetap pada pendiriannya seperti biasa.
"Please Yang, jangan membuat alasan tak masuk akal. Aku tahu kamu masih mencintai ku, kali ini tak ada lagi yang menghalangi kita. Aku dan kamu sudah di Amin yang sama, tujuan kiblat yang sama dan juga kitab yang sama, lalu apalagi yang membuat mu menolak untuk ku halalkan!" gertak Bumi masih menahan rasa kesalnya.
.
.
.
.
.
Karna kamu bukan Alasan utama Hijrah dan Istiqamah ku!
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Nih cewe emang gak melibatkan cinta dalam agamanyaπ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.