
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Kenapa dadakan sekali?" tanya Bumi pada Nella saat wanita itu memberikan satu undangan pertemuan antar perusahaan perusahaan besar di negeri ini.
Nella hanya tersenyum kecil siap mendengar ocehan bos besarnya itu.
"Aku lupa, lagian kamu baru kesini" ucap Nella sembari menggigit bibir bawahnya.
"Aku sibuk, kak" sahut Bumi sambil membuang napas kasar, keduanya kini sedang duduk berhadapan di kantin sembari menikmati makan siang mereka, Kahyangan yang tak sempat membuatkan bekal untuk suaminya itu membuat Bumi mau tak mau makan di kantin.
"Ya sudah, jika semua selesai tepat waktu akan ku usahakan untuk datang" ujarnya lagi meski ragu.
"Kamu gak akan balik ke Rahardian Gruop?" tanya Nella, selama ini Bumi memang membagi waktunya di berbagai perusahan milik keluarga dan miliknya pribadi.
"Entah, aku malas kesana"
Nella tertawa kecil, jika sudah begitu ia yakin ada yang sedang di hindari oleh Bumi.
Entah dari pertemuan dengan klien atau rapat yang membosankan yang membuat pria tampan berlesung pipi itu akhirnya mengantuk.
.
.
.
Tepat jam satu siang keduanya kembali ke ruangan Masing-masing untuk meneruskan pekerjaan mereka.
Hanya tersisa beberapa berkas yang harus di tandatangani tanpa adanya rapat yang harus ia hadiri setelah ini.
__ADS_1
"Aku pulang, kak" pamit Bumi pada Nella setelah dua jam berlalu.
"Baiklah, Hati-hati dijalan"
"Hem." balasanya dengan senyum terbaik yang hanya ia berikan pada wanita-wanita yang membuat ia nyaman dan salah satunya adalah Nella.
Selama perjalan pulang, pikiran Bumi terus bercabang kemana-mana termasuk pada jadwal kontrol ia dan sang istri esok hari.
Menginjak tahun ketiga pernikahannya sekarang, nyatanya Mak othor belum juga memberi setitik harapan dalam usaha mereka menimang momongan secepatnya.
"Entah apa yang terjadi jika dokter masih terus menginginkan kami untuk bersabar" gumam Bumi dengan mata tetap fokus pada jalan di depannya kini.
Sampai di Apartemen tempat tinggalnya ia langsung turun dari mobil mewah keluaran terbaru yang hanya ada tujuh unit di dunia. Bumi memang suka mengoleksi kendaran mewah sedari remaja berbeda dengan dua saudaranya yang lain.
Langkah kakinya begitu santai menuju lift, kini didalam kotak besi itu ia menyandarkan tubuhnya yang sedikit lelah.
Tubuh tinggi putih Bumi segera keluar dari sana, ia melanjutkan langkahnya menuju apartemennya sendiri yang hanya berbeda beberapa lantai dari apartemen kedua orang tuanya.
Bumi membuka pintu utama, hal yang kadang membuat hatinya mencelos pedih manakala ruang tamu yang begitu luas tampak selalu sepi tanpa suara anak anak yang mengisi ruangan di kediamannya itu.
Ia mencari sosok sang istri yang tak temukan di ruang tengah maupun di dapur.
Cek lek
Kini tujuan akhirnya adalah kamar pribadi mereka, Bumi membuka pintu dengan pelan sambil mengedarkan pandangannya, senyum langsung terukir di sudut bibirnya mana kala melihat Kahayang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Loh, kok udah pulang?" tanya Yayang sedikit terkejut saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu.
"Iya, ada pertemuan nanti malam, kita datang ya kesana" ujar Bumi yang lalu memeluk tubuh sang istri yang harumnya sampai manusuk tajam indera penciumannya.
__ADS_1
"Kenapa harus kita? kamu saja yang pergi" jawab Kahyangan dengan nada dingin, Bumi yang paham perasaan kahyangan saat ini justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku akan berjalan berdampingan dengan istriku, dimana pun itu"
"Tapi aku malas bertemu banyak orang, karna itu semakin menambah luka hatiku" cetus Yayang.
Bumi menarik napas dalam-dalam, ia tahu jika hati istrinya memang yang paling wajib ia jaga selama ini, tapi ia juga tak bisa berbuat banyak.
"Kita tak bisa membungkam mulut mereka, tapi setidaknya kita bisa menutup telinga kita sendiri, Yang" ujar Bumi menenangkan sang istri yang masih dalam dekapannya.
"Kamu tak tahu betapa sakitnya hatiku saat orang-orang mempertanyakan kesempurnaanku sebagai seorang wanita" ucap Kahyangan setelah mengurai pelukannya, ia tertunduk lesu dengan isak tangis kecil yang keluar dari mulutnya.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan tundukkan kepalamu, aku tak ingin MAHKOTA mu jatuh hanya karna cibiran orang lain..
Aku selalu bersamamu, ingat itu!!
__ADS_1