Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra part 08


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂



"Huft.. "


Bumi menghempaskan tubuhnya disofa ruang tengah yang juga menyatu dengan ruang makan, Apartemen mewah di pusat kota yang menjadi jantung Negara.


"Kenapa?" tanya Yayang, senyum tak lepas dari wajah cantiknya mana kala ia begitu takjub dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Rapat orang ganteng yang bikin jantung serasa mau loncat. Aku lebih milih rapat sama para Presiden dari pada harus duduk di depan Papa, Kakak sama Abang kaya tadi" keluh nya yang langsung menarik tubuh langsing istrinya yang memakai gamis bersama coklat muda.


"Emang ngomongin apa?" Kahyangan bertanya dengan alis yang saling menaut.


"Obrolan gak penting!" jawabnya malas, setidaknya ia bukan Air yang menerangkan secara detail malam pertamanya dulu dengan Hujan.


"Oh ya, kamu suka gak apartemennya?" tanya Bumi.


"Banget, Bu. Aku suka banget" kata Yayang semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf ya, ini gak terlalu besar. Gak seluas apartemen mama dan papa juga. Nanti tinggal beli lagi kalo kita punya banyak anak, ok" ucapnya setelah mencium pucuk kepala istrinya yang terbalut Hijab dengan warna persis dengan gamisnya.


"Tinggal beli lagi? ya ampun! ucapanmu itu santai banget kaya mau beli es cendol aja" kekeh Kahyangan, ia kadang di buat lucu dengan tingkah Bumi yang dengan mudahnya mendapatkan sesuatu kecuali dirinya.

__ADS_1


******


Makan malam kali ini keduanya memesan makanan dari luar karna Bumi tak mengizinkan istrinya itu ke dapur, ia khawatir Kahyangan lelah sehabis dari Rumah utama dan apartemen kedua orang tuanya.


"Bu, apa yang akan aku lakukan disini sendiri jika lusa kamu ke kantor?" tanya Yayang yang bingung.


"Main ke tempat mama dan Hujan, atau ajak mereka kesini untuk menemanimu"


"Jika setiap hari aku pasti tak enak hati, Bu"


Bumi menggenggam tangan sang istri di atas meja makan, ia tersenyum manis seperti biasanya dengan tatapan hangat penuh kasih sayang.


"Mau kuliah lagi?" tawar Bumi yang di balas gelengan kepala oleh istrinya.


"Aku ingin melakukan kegiatan sosial ku seperti biasa, apa kamu bisa mengizinkannya?" tanya Yayang.


"Tentu, tapi tidak sendiri. Aku akan memilih dua orang wanita untuk menjagamu di luar rumah dan mungkin juga menemani mu disini"


"Bu.. jangan terlalu berlebihan, aku tak suka" cetus Yayang, yang tanpa di sadari jika Papa mertuanya sudah lebih dulu bergerak cepat mengirim pasukannya untuk menjaga menantu keduanya itu.


"Jika tak suka, diam dan tunggu aku dirumah"' tegasnya tak main-main.


Kahyangan membuang nafas kasar, Bumi yang semakin erat mengikatnya dengan rantai berlian tentu tak akan mudah dirayu. Jika dulu saat berpacaran saja ia begitu sangat menjaganya entah apa yang akan di lakukan pria itu kini saat sudah sah menjadi suami istri.

__ADS_1


"Lakukan hal sesukamu tapi tetap dalam pengawasanku, paham?!"


"Ya.. ya.. Aku sangat paham suamiku, aku tak akan melakukan hal jika kamu tak meridhoinya, surgaku adalah kamu" jawab Kahyangan yang membalas genggaman tangan suaminya.


"Alhamdulillah jika kamu mengerti, ingatkan aku juga jika aku salah atau terlalu mengekangmu, karna tujuanku hanya memberi rasa aman untukmu lewat caraku yang mungkin terlalu berlebihan"


Kahyangan melempar senyum terbaiknya pada imam dunia akhiratnya itu seraya bergumam dalam hati kecilnya.


.


.


.


.


.


.


.


Kamu memang bukan cinta pertamaku, tapi cintamu mampu mematahkan cinta-cinta lain yang tak masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2