
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kahyangan yang memang sebenarnya sudah sangat sehat akhirnya bisa kembali kerumah utama, ia dan Bumi tak di izinkan pulang ke apartemen oleh Reza dan Oppa karna tak ingin terjadi sesuatu pada si cantik yang kini hatinya selalu penuh syukur.
Bumi yang membawa mobil mewahnya dengan sang istri yang duduk di sebelahnya itu pun tak henti menebar senyum bahagia, ia kadang masih tak percaya dengan kenyataan yang ada jika kini bidadari hatinya sedang mengandung buah hati mereka yang sejak empat tahun di tunggu dalam rasa sabar luar biasa.
"Kamu makin cantik, aura keibuanmu benar-benar keluar, Yang" ucap Bumi seraya melirik kearah Kahyangan.
"Benarkah?"
"Ya, tetaplah seperti ini. Aku tak mau melihatmu sedih dan menangis" pinta si tengah lagi, bertahun-tahun menjadi sandaran bagi sang istri ketika ia kecewa tentu sudah lebih dari cukup, kini saatnya mereka bahagia menunggu sang buah hati menyapa dunia sembilan bulan mendatang.
"Aku akan menjaganya, karna dia masih terlalu kecil saat ini" Sahut Kahyangan sambil mengusap perut rata yang di dalamnya ada janin berusia dua minggu.
.
.
.
Keduanya di sambut hangat oleh Oppa dan Omma yang sedari tadi menunggu diruang tamu, pasangan baya itu memang sama sekali tak di izinkan Reza kerumah sakit untuk menjenguk.
"Selamat, sayang. Ini kabar baik yang semua orang harus merasakan juga bahagianya" ucap Oppa setelah mencium haru kening cucu mantu kesayangannya.
"Terima kasih, Opoa. Berjanjilah untuk selalu sehat"
.
__ADS_1
.
.
Setelah berbincang sebentar, Kahyangan langsung di bawa Bumi menuju kamarnya. Ia menggandeng tangan istrinya begitu lembut dan pelan saat menapaki anak tangga satu persatu.
Hingga sampai di kamar, Kahyangan langsung di baringkan dengan dua tumpukan bantal untuk menyangga punggungnya.
"Jangan suruh aku istirahat, aku bosan berbaring terus" keluh Khayangan sebelum suaminya meminta hal yang sama.
"Lalu kamu mau apa? loncat loncat" kekeh Bumi yang merasa gemas dengan raut malas pemilik hatinya itu.
"Aku banyak kerjaan loh sebenarnya"
"Jangan memikirkan hal itu, fokusmu harus untuk ini saja" ucap Bumi sambil mengelus perut Kahyangan, ia ciumi seraya melantunkan shalawat.
Empat tahun menunggu, kecewa, marah, kesal dan tangis sudah tak terhitung lagi. Tapi saat ia lelah dan pasrah keajaiban itu datang sebagai berkah.
"Kamu mau apa? biar ku ambilkan. Jangan terlalu lelah ya" tawar Bumi, pewaris kedua Rahardian itu tentu sudah bersiap untuk lebih memanjakan istrinya.
"Gak pengen apa-apa"
"Kalau dipeluk pengen gak?" goda Bumi sambil menggigit bibir bawahnya sembari tersenyum.
"Ih, apaan sih! tapi boleh juga tuh" Sahut Kahyangan dengan binar mata bahagia bercampur malu.
Bumi yang sedari tadi duduk di tepi ranjang akhirnya iku naik dan langsung mendekap tubuh langsing Khayangan, tak lupa ia juga menciumi pucuk kepala istrinya berkali-kali.
__ADS_1
"Kamu harus janji kalau gak boleh capek capek ya, inget pesan dokter tadi" kata Bumi mengingatkan.
"Iya, sayang"
"Atau apa perlu kita pindah ke kamar bawah, aku gak mau kamu cape naik turun tangga" ujar Bumi, tangga yang berputar mewah itu memang kadang membuat lelah siapa pun yang menaikinya jika sedang kurang enak badan.
"Kan ada lift" jawab Kahyangan.
.
.
.
.
.
.
"Itu lift udah hak paten si Tutut, Yang"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Gegara kalian juga itu lift ada di rumah Utama 🤣🤣🤣
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1