Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra bab 25


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Cepat habiskan, By" titah Yayang pada suaminya saat makan siang di gedung perusahaan Rahardian Group.


Kahyangan yang kini tengah mengandung empat bulan tiba-tiba datang ke kantor Bumi hanya untuk melihat suaminya makan apa yang sudah ia bawa dari salah satu restoran di sebuah Mall ibu kota.


Wanita hamil itu akan meminta siapapun menghabiskan makanan yang ia beli atau ia buat sendiri, Kahyangan akan merasa bahagia dan kenyang hanya dengan cara melihatnya saja tanpa menyicipi.


"Kenyang, Ummi" tolak Bumi sambil mengusap perutnya yang kini sedikit membuncit sama seperti istri kesayangannya.


"Ada dua suap lagi, sayang kan nantinya mubazir kalo Aby gak mau mau habisin" rayu si cantik yang kini pipinya bulat seperti donat.


"Kamu yang abisin, sini aku yang gantiin suapin ya" Bumi meraih sendok dan menyodorkan benda yang terbuat dari besi itu ke depan mulut pemilik hatinya yang tertutup rapat.


"Aku kenyang abis minum susu"


Bumi terkekeh gemas karna ia tahu jika itu hanya alasan yang di berikan Kahyangan agar nasi serta lauknya segera di habiskan olehnya.


Selama masa kehamilan, sang menantu kedua Rahardian itu tak pernah rewel atau membuat pusing seisi rumah utama ia hanya ingin melihat orang-orang makan di depannya saja sudah cukup membuat si bumil bahagia bagai mendapat kan voucher belanja sepuasnya.

__ADS_1


Semua anggota keluarga begitu antusias menyambut sang penerus Rahardian yang akan menjadi sepupu Samudera kelak, bocah bawel itu bahkan tak sabar menanyakan kapan teman mainnya itu menyapa dunia.


.


.


.


Jam lima sore Bumi dan Kahyangan keluar dari kantor, keduanya akan langsung pulang kerumah utama karna Melisa sudah menyiapkan makanan kesukaan sang menantu.


"Besok lagi ya ke apartemennya" kata Bumi, karna rencana mereka untuk pulang sejenak kesana harus diundur lain waktu.


Bumi terus fokus pada jalanan di hadapannya, macet pun tak terasa karna perjalanan di selingi dengan obrolan ringan yang begitu banyak membahas berbagai hal.


Sampai di garasi Rumah utama pun keduanya langsung masuk ke dalam. Tak ada siapapun di lantai bawah membuat pasangan suami istri itu pun melanjutkan langkah menuju kemar mereka.


"Mandi bareng yuk" ajak Bumi, ia peluk bidadari cantiknya itu yang sedang membuka hijab di depan meja rias.


"Kamu duluan, aku masih capek"

__ADS_1


Bumi dengan cepat memutar tubuh berisi istrinya agar mereka bisa saling berhadapan, raut cemas tentu jelas terlihat di wajah si tengah yang selalu teduh dan menenangkan berbeda dengan si sulung yang justru sering tersenyum menggoda seraya tebar pesona.


"Sudah Aby bilang, diam di rumah. Capek, kan?"


"Dirumah juga tetep capek karna harus bergerak, jadi mendingan sekalian keluar "


"Aku takut kamu kelelahan, kejadian sebulan lalu masih sangat menempel di otakku, Sayang. Aku benar-benar takut" ucap Bumi, ia selalu menitikan air mata jika mengingat hal buruk itu.


Kahyangan yang sempat mengalami pendarahan saat jatuh dari kursi plastik di perpustakaan masjid hampir saja kehilangan buah hati yang mereka yang di tunggu selama empat tahun lamanya, Semua orang panik termasuk Bumi yang langsung tak sadarkan diri di depan pintu ruang pemeriksaan saat datang kerumah sakit. Kejadian tak di sengaja itu pun kini membuat ruang gerak Kahyangan semakin sempit karna semakin ketatnya penjagaan untuknya, kini ia hanya tinggal bilang dan menujuk apapun yang di inginkan.


"Aku janji tak akan membuat mu khawatir lagi" lirih Kahyangan yang ikut merasa sedih saat melihat kedua mata suaminya mulai berkaca-kaca.


.


.


.


"Kalian segalanya untukku, melihat Ummi tersenyum saja sudah lebih dari cukup bagi Abby"

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2