
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
"Kahyangan Al-fariz"
Bumi yang lemas langsung menyandarkan tubuhnya lalu mengusap wajah tampannya yang kini terlihat sangat berantakan. Ada lelehan air mata yang lolos lagi di kedua pipinya di selingi dengan isakan tangis lirih, bahkan Bumi tak memperdulikan orang di dekatnya yang sedang melihat kearahnya dengan tatapan bingung.
Yang, ternyata itu kamu, dua kalimat syahadat yang tadi siang aku denger itu bener suara kamu.
Bumi menghapus air matanya secara kasar dengan suara parau ia mulai kembali bertanya pada orang yang kini duduk di hadapannya itu.
"Boleh aku tahu dimana rumahnya?"
Pria tadi langsung menautkan kedua alisnya, ada rasa bimbang dan serba salah yang ia rasakan.
"Aku kekasih wanita tadi, dia pergi dan aku baru menemukannya. Ku mohon beritahu tempat tinggalnya" pinta Bumi dengan nada tercekat dan serak.
Jalan kenanga, nomor lima belas. Rumahnya berpagar besi berwarna hitam.
Bumi langsung menoleh kearah sampingnya tepat dimana suara itu terdengar.
"Pak H. Ruslan!" gumam Bumi sambil bangkit dari duduknya
"Kalian yang merencanakan ini semua dari awal, kenapa tak menghalangi ku untuk pergi, kenapa membiarkanku kehilangannya untuk kedua kali?" pekiknya merasa kecewa.
Bumi berhambur memeluk Pria tua gagah itu sembari menumpahkan lagi tangisnya.
"Kami hanya menuntunmu sampai disini, dan sisanya biar Allah yang menentukan, Bumi" jawab H.Ruslan menenangkan putra kedua Rahardian itu.
"Aku mencintainya, masih dan sangat mencintainya!"
"Datangi dan temui dia yang kini sudah se Amin denganmu" ujar H.Ruslan yang membuat Bumi mengurai pelukannya lalu mengangguk memantapkan hatinya yang tak sabar ingin bertemu pemilik hatinya itu.
"Aku akan kesana sekarang juga, aku akan menjemputnya dan membawa pulang untuk menghalalkannya segera" tegas Bumi penuh keyakinan sebab kini tak ada lagi yang bisa menghalangi niat baiknya yang dulu seakan sulit sekali ia rengkuh karna adzan dan lonceng yang tak sejalan.
"Pergilah, kami do'akan selalu yang terbaik untuk kalian"
__ADS_1
Bumi mengangguk paham saat H.Ruslan kembali menyebutkan alamat tempat tinggal Kahyangan kini, Ia bergegas pergi setelah mencium takzim punggung tangan pria baya itu seraya mengucapkan salam.
.
.
Selama perjalanan menuju rumah yang ditinggali Yayang ia tak henti mengucapkan banyak rasa syukur yang tak terkira dalam hatinya, ini benar-benar hari bersejarah persis yang pernah Oppa katakan padanya. Namun, ternyata ia terlalu bodoh untuk sadar dengan segala kode yang pria baya itu berikan selama satu bulan ini ia tinggal di kota X.
"Maafkan aku, Oppa" lirih Bumi yang masih duduk di kursi belakang dengan sesekali menghapus air matanya.
"Tuan, ini sudah sampai di alamat yang di tuju. Jalan kenanga, nomor lima belas" ucap si supir pada Tuan Mudanya.
"Iya, Sepertinya begitu. Rumahnya juga berpagar besi dan berwarna hitam" jawab Bumi yang menatap lekat sebuah bangunan di depan matanya kini.
Tak ada yang ia rasakan dalam hatinya, bahkan jantungnya pun berdetak normal seperti biasanya.
"Semoga kamu ada disana. Kita pulang ya, sayang" ucap Bumi pelan sebelum ia membuka pintu kereta besi mewahnya.
Langkah kaki panjangnya terus mendekat kearah pagar yang tertutup, Bumi mencoba membukanya yang kebetulan tak terkunci.
"Assalamu'alaikum" sapanya sambil mengetuk benda tersebut dengan sedikit keras berharap si empunya rumah dengan cepat membuka.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu?" pangggil Bumi lagi.
Cek lek.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
Seorang pria baya berdiri tepat di hadapan Bumi dengan hanya memakai kaos berwarna putih dengan bawahan sarung berwarna coklat tua.
"Maaf, menggangu malam malam begini, Pak" seru Bumi yang sebenarnya tak enak hati.
"Ada perlu apa? dan hendak mencari siapa?" tanya Abah masih dengan ekspresi alis saling bertautan.
"Perkenalkan nama saya Bumi" jawabnya seraya meraih tangan kanan Abah untuk untuk ia cium takzim punggung tangannya.
__ADS_1
"Kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan Kahyangan, apa dia ada?" tanya Bumi menjelaskan maksud tujuannya.
"Yayang sedang keluar bersama kakaknya"
Kini giliran Bumi yang menautkan kedua alisnya bingung.
Kakak siapa? bathin Bumi penasaran
"Boleh saya tahu kemana Yayang pergi?"
.
.
.
.
.
.
Tunggu, biar saya catatkan alamatnya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kakak Bumi nongol lagi nih 🤣🤣
Udah kmren libur, terus hari ini up masih belom ketemu juga 😌😌
Fix.. Othornya harus di bully 🤧🤧🤧
Next bab ketemu kok.. janji suer tekewer kewer .
Like komen buat yang ikhlas ridha aja deh yang merasa kasian sama authornya yang udah cape ngetik 😪
__ADS_1
Jangan sampe like yang udah di kasih terus di ungkit lagi gegara jarang up🤣🤣🤣.