
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ummi...
Nisa meronta ingin mendekat tapi di tahan oleh Iqbal yang masih menggendongnya.
"Jangan begitu, Nisa" tegas Iqbal. Pria yang sedang merasakan lelah luar biasa itu tak ingin sampai lepas kendali.
Nisa diambil oleh Ambu, ia tak ingin melihat Cucu Kesayangannya itu berubah menjadi sedih.
"Masih sakit?" tanya Iqbal semakin mendekat kearah Kahyangan yang kembali memejamkan mata menikmati semua rasa di tubuhnya.
"Hei.."
"Hem.. iya" sahut gadis itu merintih.
Ambu dan Abah yang berdiri berdampingan merasa kasihan dan tak enak hati, wajah cantik yang tadi tertidur pulas kini berubah pucat dengan buliran keringat di bagian lehernya.
"Panggil dokter atuh, A' cepetan" titah Abang sangat khawatir.
Iqbal mengangguk lalu menekan tombol dekat nakas dengan segera.
Lima menit berselang, satu dokter dan suster datang memeriksa Kahyangan, ketiganya kini sedikit menjauh dari gadis itu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Iqbal Langsung saat pemeriksaan selesai.
"Baik, hanya saja pasien masih sedikit trauma dengan kecelakaan yang menimpa, ini sangat wajar terjadi juga efek obat yang baru terasa" jawab dokter yang sedari awal menangani Kahyangan.
"Biarkan ia istirahat lagi" pesannya lagi sebelum keluar dari kamar rawat inap, semuanya mengangguk tanda paham.
Iqbal memilih tetap berada di sisi ranjang Kahyangan saat kedua orangtuanya kembali ke sofa.
Pria dewasa itu duduk ditepi brankar sambil terus memperhatikan wajah Kahyangan.
Pernah lihat, tapi dimana?
*******
Pukul lima pagi Ambu dan Abah kembali dari mushola rumah sakir bergantian dengan Iqbal yang masih tidur terlelap.
"Air, air" lirih kahyangan dengan suara tercekat.
__ADS_1
Ambu yang mendengar suara meminta Air langsung bangun dari duduknya.
"Kamu sudah bangun?, Alhamdulillah" ucap Ambu mengucap syukur
"Air"
"Ah.. iya tunggu" Ambu membuka tutup botol air mineral yang sengaja di sediakan di atas nakas, lalu membantu Kahyangan untuk meminumnya sedikit demi sedikit.
"Bagaimana, apa masih sakit?" tanya Ambu yang kini sudah duduk di sisi ranjang.
"Sedikit." jawabnya sambil meringis.
"Maaf, karna kelalaian kami, kamu harus mengalami kecelakaan seperti ini. boleh kami meminta alamat dan nomer telepon keluarga mu Karna saat kami membawamu sepertinya tertinggal di jalan. sekali lagi kami mohon maaf" ucap Ambu benar-benar merasa menyesal.
"Tapi sebelumnya, siapa nama kamu?" tanya Ambu.
"Namaku?" gadis itu balik bertanya.
"Iya, agar kami bisa nyaman memanggil mu"'
"Oh.. panggil aku Yayang, nama lengkap ku Khayangan" jawabnya sambil memaksa tersenyum.
Ada rasa terkejut di hati wanita baya itu saat tahu nama gadis di hadapannya kini, namun ia menepis dengan segera.
Iqbal tiba-tiba datang dan bertanya, suara beratnya membuat kepala Kahyangan kembali berdenyut sakit.
"Sabar atuh A'. Kita tanya pelan-pelan" tukas Ambu yang tak suka dengan sikap anaknya itu.
"Hari ini aku sibuk banget, Mbu" ucap Iqbal.
"Ya sudah kamu kerja aja sana, nanti Abah sama Ambu yang urus neng geulis ini" timpal Abah yang ikut mendekat.
"Ya sudah, kabari segera jika terjadi apa-apa. Aku pulang dulu sebentar dengan Nisa" pamitnya kemudian dengan mencium punggung tangan kedua orangtuanya Secara bergantian.
Nisa yang duduk di sofa tengah melipat kedua tangannya.
"Yuk, pulang" ajaknya Iqbal bersiap menggendong putri semata wayangnya itu.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"Enggak.. Nisa mau sama ummi"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Nih bocah gue gaplok lama-lama ya🙄🙄🙄🙄
Kedengaran di Bumi bisa makin pelit aja nanti
Banyak yang komen belok dan berkelit.
Apa segampang itu ya buat jadi mualaf?
bukankah butuh proses panjang, gak cuma cinta manusianya. nanti jadi mualaf bengong dah tuh gak bisa apa-apa 🤣🤣🤣 ..
Udah berkali kali ini tuh novel perjuangan..
tanpa konflik berat termasuk pelakor dan pembinor.
nikmati aja cara mereka menuju halal
Kalo gak sabar bisa di skip sampe sini.
Karna ini emang beda dari kebanyakan novel NT yang gitu-gitu aja.
Bisa aja sih bikin yayang langsung jadi mualaf.
tapi apa alasannya?
Bumi?
Oh.. No!
Cinta gak jual agama ya menurut ku🤭🤭
__ADS_1
tanpa ada alasan lebih kuat dari itu
Like komen nya yuk ramai kan ♥️