Heavenly Earth

Heavenly Earth
Bab 59


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Apa untuk putri Abah sudah ada calonnya?


Ambu dan abah juga kahyangan langsung tersentak kaget saat mendengar pertanyaan pak ustadz yang sudah pasti di tuju untuk Yayang. gadis itu menoleh ke arah Ambu yang juga menatap bingung ke arahnya.


"Maksud pak ustadz apa ya?" tanya Abah.


"Pak ustadz bukannya baru menikah dua minggu lalu, kan saya sama Abah juga datang pas akad nikah pak ustadz?" timpal Ambu di tengah rasa penasarannya.


"Nah iya, bener tah Ambu. mashaAllah pak ustadz mau poligami?, padahal menikah baru dua minggu itu rasanya masih legit " balas Abah yang langsung memndapat cubitan pasnas dari istrinya di bagian perut.


Pak usatdz tentu tercengang dengan penuturan yang di katakan Abah dan Ambu, namun setelahnya ia tertawa terbahak-bahak.


"Ya, ampun!, gak gitu atuh abah dan ambu, saya menanyakan jodoh buat Neng Yayang karna saya ingat sesuatu" ucap pak ustadz di sela kekehannya.


"Ingat apa?" tanya pasanagan baya itu berbarengan.


"Ada kenalan pak Hj Ruslan yang meminta di carikan jodoh, dia orang kota dan orang yang sangat kaya juga terhormat. beliau ingin dicarikan jodoh untuk cucu keduanya" jelas pak ustadz lebih serius.


Ambu dan abah langusng menoleh kearah Kahyangan yang menunduk memainkan jarinya yang terlihat sedikit bergetar.


"Putri saya memiliki masa lalu yang belum selesai" jawab Abah, pria baya itu mengusap punggung Kahyangan yang sontak membuat gadis itu mendongakkan wajahnya.


"Bah... "


Abah hanya bisa tersenyum, lalu ia mengalihkan lagi pandangannya ke arah pak ustadz.


"Oh, begitu. Saya mohon maaf ya Abah, Ambu dan juga Neng Yayang" ucap pak ustadz merasa sedikit tak enak hati.


"Tak apa, mungkin nanti jika anak saya sudah menyelesaikan urusannya bisa kita bicarakan lagi"


Pak ustadz hanya mengangguk paham dan kemudian berpamitan pulang

__ADS_1


******


Kahyangan masuk kedalam kamarnya usai membereskan apa yang bisa ia lakukan, mengingat kondisi kakinya yang belum sebuh total, ada rasa ngilu dan dan sedikit nyeri jika ia terlalu lama berjalan. semenjak kecelakaan ruang geraknya kini terbatas jika tak memakai tongkat.


Kota..


"Aku rindu tempat itu, tempat dimana aku lahir dan juga di besarkan, tempat yang memiliki begitu banyak kenangan yang tak mampu aku lupakan sampai detik ini, termasuk Ibu dan juga...."


"Kekasihmu?"


Kahyangan menoleh pada suara yang melanjutkan perkataannya, pintu kamar yang memang terbuka membuat Ambu masuk tanpa mengetuk lagi.


"Aku tak memiliki kekasih, Ambu"


Wanita bergamis putih dengan kerudung senada itu hanya tersenyum simpul lalu duduk di sisi Kahyangan.


"Tapi dia sangat mengusai hati dan fikiranmu, kan?" goda Ambu.


"Ambu tahu itu, masalah kalian hanya satu tapi sulit di atasi karna ego mempertahankan keyakinan."


"Aku belum bisa mengalah untuk hal itu" Ujar Kahyangan menghela nafas berat.


"Jika kamu berkata belum, Ambu harap masih ada satu harapan jika kalian bisa bersama di atas *I**man* dan Aamiin yang sama kelak"


Kahyangan langsung berhambur memeluk Ambu, kini hanya wanita itu tempat ia mencurahkan segala rasa yang ada dalam hatinya.


"kamu tahu?"tanya Ambu, Kahyangan sontak mendongakkan wajahnya.


"Apa?"


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jika Allah tidak mencabut perasaan mu, mungkin rasa itu memang tak pernah salah, dan justru di biarkan abadi di hatimu untuk orang yang selalu kamu sebut dalam doa.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Denger tuh yang 🤣🤣🤣🤣


Yuk syahadat ☺☺


like komennya ramaikan 👍

__ADS_1


__ADS_2