
ππππππππ
"Mungkin saja kamu merindukan kekasihmu?" tanya Iqbal yang langsung membuat Yayang menoleh kearahnya.
"Aku tak memiliki siapapun" tegas kahyangan.
"Iyakah?" ejek Iqbal saperti tak percaya.
Kahyangan menganggukkan kepalanya, wajahanya tertunduk sambil memainkan kuku jarinya.
"Hatiku memang termiliki oleh seseorang yang tak bisa ku sabut lagi kekasih, dia yang terbaik tapi tak bisa ki gapai. Kehadirannya begitu sempurna" lirih Yayang begitu pedih.
Ia menghela nafas sambil mendongakkan wajahnya berharap air matanya tak turun lagi untuk orang yang sama.
Orang yang kini ia tinggalkan bersama semua kenangan mereka selama lebih dari Setahun bersama.
Bumi masih menjadi pemilik jiwa hati dan raganya yang entah sampai kapan akan terus begitu.
Mencintainya yang berbeda sungguh semakin membuat ia terluka.
"Kenapa tak bersama jika saling mencinta?, apa karna sebuah restu?" tebak Iqbal serius, ia mulai penasaran dengan hidup gadis yang kini duduk di sebelahnya kini.
"Karna tasbih nya tak pernah bisa bersatu dengan salib ku. Ia sama sepertimu maka dari itu ia tak pernah bisa ku jangkau meski dekat!"
Iqbal mengangguk paham, ia tak berani berbicara lagi karna ini menyangkut dengan keyakinan, jika Kahyangan yang sama sepertinya mungkin ia bisa sedikit memberi pengertian tapi ini justru berbaliik, gadis itulah yang berbeda dengannya.
"Akan ada pengganti yang sedang Tuhan siapkan untukmu, percayalah" seru Iqbal. pria dewasa itu hanya bisa menghibur tanpa bisa menberi jalan keluar.
"Tapi jika aku bisa memohon, aku hanya ingin ia!"
"Hey! kenapa kamu begitu egois!" sentak Iqbal yang langsung membuat kahyangan menelan salivanya kuat-kuat.
__ADS_1
****
Beberapa bulan berlalu bukan hal yang mudah bagi kahyangan yang menumpang hidup di keluarga Iqbal karna selama itu juga ia tak pernah pulang ke kotanya meski Iqbal berkali-kali mengajaknya walau sekedar berziarah ke makan sang ibu.
"Kamu yakin bisa gak pakai tongkat lagi?" tanya Ambu saat melihat kahyangan berjalan dengan sangat susah payah.
"Aku harus bisa, Mbu" jawabnya yakin meski ada gurat rasa sakit di wajah cantiknya.
Ambu yang kini sudah sangat menyayangi Kahyangan hanya bisa memeluk gadis yang sudah dia anggapnya sebagai anak itu. Bahkan Ambu dan Abah tak segan memperkenalkan Khayangan pada orang-orang bagian dari anggota keluarga.
"Maaf ya, kami sudah membuat hidupmu jadi sulit" bisik Ambu sembari mengusap punggung Yayang.
"Aku akan sangat marah jika Ambu terus berkata seperti itu!" ancam nya kesal.
Ambu tertawa kecil lalu mengelus pipi Kahyangan, hatinya selalu mencelos jika sehabis memeluknya, seperti ada rasa yang tak bisa wanita baya itu ungkapkan.
Kahyangan yang kini berubah menjadi sosok pendiam dan tertutup membuat Keluarga Iqbal sulit mengorek jati dirinya.
Dua wanita yang berada dalam kamar itu pun menoleh kearah suara ketukan pintu yang semakin keras terdengar.
"Iya tunggu" teriak Ambu.
"Ambu buka pintu dulu sebentar ya" pamitnya pada Yayang yang di balas anggukan oleh gadis itu.
Yayang hanya bisa menatap punggung Ambu yang sudah ia anggap menjadi pengganti ibu selama ini.
Wanita yang begitu baik yang banyak mengajarkan banyak hal yang tentu membuat wawasannya kini menjadi luas dan terbuka.
"Sudah banyak tamu, kamu mau keluar atau mau tetap di kamar?" tanya Ambu pada Yayang yang kini duduk di tepi ranjangnya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku ikut kelar, Aku cari hijabku dulu..
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Why??
Gak salah ketik kan gue π€ͺπ€ͺπ€ͺπ€ͺ
Semoga enggak!!
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan π₯°π₯°