
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
"Ambu, ada perpustakaan ya? aku akan kesana sambil menunggu" pinta kahyangan yang di jawab anggukan kepala oleh wanita bergamis coklat itu.
"Pergilah, tapi waktu kita tak banyak" pesan Ambu.
"Siap Ambu, kali aja ad jodohku di dalam" Kahyangan tertawa saat Ambu mencubit hidung mancung nya.
Gadis cantik itu terus menatap punggung Ambu yang perlahan menjauh darinya, punggung wanita yang ternyata memiliki darah yang Sama dengannya.
Ada senyum melengkung di sudut bibir Kahyangan saat ia menoleh kearah pintu bercat coklat yang tertutup rapat, debaran jantung nya kembali berpacu dua kali lipat.
"Aku kenapa sih?!" gumam Yayang memegang dadanya sendiri.
"Liat pintu aja sampe salah tingkah" sambungnya lagi sambil terkekeh geli.
Kahyangan melangkah mendekat kearah benda tersebut, menempelkan tangannya di kenop pintu yang terbuat dari besi sampai rasa dinginnya begitu terasa ditelapak tangannya.
Cek lek.
"Ummi......." Teriakan Nisa membuat Kahyangan menoleh dan menghentikan langkahnya yang hendak masuk kedalam perpustakaan.
"Nisa, ada apa?" tanya Yayang yang langsung berjongkok di hadapan si bocah kecil agar bisa sejajar dengannya.
"Ayo main ayunan" ajak Nisa sambil menarik tangan adik sepupu ayahnya itu.
"Iya, tunggu. Ummi tutup pintu dulu, dan kamu gak boleh berisik karna ini perpustakaan, Ok" pinta Yayang sambil menunjuk tulisan yang menempel di pintu.
"Ok"
Kahyangan kembali menutup benda tersebut dengan sangat pelan, ia tak ingin mengganggu siapapun yang ada di dalamnya.
Nisa yang selalu berjalan lebih dulu membuat Kahyangan hanya bisa mengekor dari belakang, ia sesekali tertawa saat melihat anak itu bertingkah menggemaskan.
__ADS_1
"Hati-hati, Nisa" ujarnya sedikit beteriak.
Sampai di ayunan yang terbuat dari kayu dan tambang yang di ikat di sebuah pohon besar Kahyangan membantu Nisa untuk menaikinya kemudian mengayunkan nya dengan pelan sampai suara adzan dzuhur berkumandang di telinganya.
Alhamdulillah..
Ucap Nisa dan Kahyangan berbarengan sambil mengusap wajah mereka, hal yang menjadi kebiasaan Khayangan saat mendengar lantunan perintah shalat itu.
"Ummi mau tunggu disini atau ikut Nisa ke Ambu?" tanya Nisa yang bergegas melakukan kewajibannya.
"Ummi tunggu disini aja, nanti bilang sama Ambu juga ya kalo Ummi lagi main ayunan" pesan Kahyangan yang lalu mencium gemas kedua pipi Nisa.
"Siap"
Nisa berlari meninggalkan Kahyangan di bawah pohon besar yang cukup rindang sampai sinar matahari saja tak bisa menyentuh kulit wajah putih bersihnya.
****
Bumi bangkit dari duduknya setelah menutup buku yang ia baca barusan, langkah panjangnya kini sedang berjalan menuju rak untuk menyimpan lagi benda yang sedang ia pegang.
Ia terdiam sejenak saat melihat seseorang yang sepertinya ia kenal, namun fokusnya teralih saat Oppa tiba tiba menepuk bahunya.
"Ayo, nanti akan antre yang ambil wudhu" ajak Oppa yang di iyakan oleh si tengah.
Dua pria perparas tampan di usia yang jauh berbeda itu melangkah bersama menuju tempat wudhu, sudah ada beberapa orang disana yang sama dengan mereka.
"Oppa duluan" titah sang cucu pada pria baya itu sambil Bumi memegangi tangan Oppa.
"Terimakasih".
.
.
__ADS_1
.
Selama hampir satu jam akhirnya semua jamaah masjid selesai menunaikan kewajiban mereka lengkap dengan khutbah yang di berikan salah satu ustadz.
Bumi yang masih duduk di shaf urutan kedua langsung menoleh saat tangannya disentuh oleh Oppa.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang sedang menjalani proses mualaf, apa kamu mau mendengarnya?
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Panik gak.. panik gak??
panik lah masa enggak π€£π€£π€£π€£π€£
Apakah di bab selanjutnya diriku akan baik mempertemukan mereka ππ
Tungguin terus ya πππ
Kakak Ay udah muter aja nih, ya Allah pengen di tengokπππ
__ADS_1
Like komennya yuk banyak banyak.