
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
UPS.. maaf. aku NonIs.
Ambu dan Abah langsung saling pandang tapi tidak dengan Iqbal yang langsung paham apa yang dikatakan khayangan.
"NonIs teh, naon?" tanya Ambu pada putranya.
"Non Islam, mungkin Nasrani atau yang lainnya Mbu" jawab Iqbal dengan nada Pelan.
"Oh, pantes sering denger tapi belum paham, biasanya kalo yang begitu tuh langsung aja bilangnya Kristen, Budha, katolik atau Hindu. Bukan NonIs" ujar Ambu yang membuat Kahyangan tersenyum.
"Aku Nasrani, Ambu, Anak Tuhan Yesus" ucapnya lebih jelas.
"Iya, mau apapun juga sama ajalah bagi Abah sama Ambu" timpal Abah yang ternyata sudah mulai memakan makanannya.
"Terimakasih, sudah mau menerimaku tanpa membedakan" lirih Kahyangan, kini ia justru malah mengingat Reza dan Melisa yang selalu memberikan pelukan hangat untuknya.
*******
Delapan hari setelah kecelakaan akhir Kahyangan di izinkan pulang oleh pihak rumah sakit, tubuhnya berangsur membaik tapi tidak dengan kakinya yang masih di pasang Pen, ia masih sangat kesulitan untuk berjalan meski dengan tongkat sekalipun. Hal inilah yang akhirnya membuat keluarga Iqbal meminta Kahyangan untuk ikut tinggal bersamanya sampai keadaan gadis itu benar-benar pulih, semua di lakukan keluarga Iqbal hanya demi bentuk tanggung jawab.
"Enam bulan itu lama loh!" Ucap Ambu saat Kahyangan belum juga menerima tawaran mereka.
"Apa kamu bisa melakukan aktifitas sendiri tanpa bantuan?," timpal Abah, disini lah ia yang paling merasa bersalah.
__ADS_1
"Kamu itu tinggal sendiri tanpa keluarga sama sekali" balas Iqbal, pria dewasa yang memiliki sifat angkuh itu sudah melipat tangannya didada dengan rasa tak sabaran.
Kahyangan masih diam, ia pun cukup sadar diri dengan kondisinya yang memang tak memungkinkan. Kuliah dan pekerjaannya seakan sudah hilang dari tujuannya saat ini.
"Apa aku tak merepotkan?" tanya Yayang yang masih bingung membuat keputusan.
"Lebih repot lagi kalo kamu nolak, karna saya gak mungkin jengukin kamu, saya sibuk!" ketus Iqbal dengan sorot mata bagai elang.
"Si Aa, tong galak teuing atuh kasep" Rayu Ambu pada putranya agar berhenti berbicara kasar pada Yayang.
"Mau syukur, enggak pun gak apa-apa. Yang penting kita udah nawarin baik-baik. Tapi yang jelas aku gak mau repot!" tegas Iqbal lagi.
Ambu mengusap kepala Kahyangan yang menunduk pilu menahan tangis.
Bu... aku harus apa?
**********
Bumi yang juga sudah kembali dari liburannya sejak beberapa hari lalu memilih menyibukkan diri dengan kuliah dan juga urusan kantornya. Kini iapun tak terlalu menutup hatinya. Sifat cuek dan dinginnya masih dirasakan oleh orang-orang disekitarnya tapi setidaknya Bumi sudah mau jika di ajak bergabung dengan yang lainnya meski harus diam seribu bahasa karna Selalu asik dengan dunianya sendiri.
"Bu, masih sama cewek sastra?" tanya salah satu temannya saat ia dan yang lainnya ada sebuah cafe baru dekat kampus.
"Enggak" jawab singkat padat dan jelas tanpa menoleh.
"Oh, kirain masih"
__ADS_1
Bumi tetap fokus pada layar ponselnya enggan menanggapi ucapan temannya itu, bahkan beberapa pertanyaannya pun tak ia jawab sampai ada satu ucapan temannya itu yang langsung membuat Bumi menoleh sambil menautkan Kedua alisnya.
.
.
.
.
.
.
.
"Kata cewek gue, Yayang udah lama gak keliatan. Gak tau kemana deh. kalo masih gak ada kabar juga bisa bisa di drop out dari kampus tuh"
🌻🌻🌻🌻🌻
Dicari gak kak?
Gak usah nyari deh.. cukup kasih gue apa gitu tar gue bisikin.. ok.. ok...ok..🤭🤭🤭🤭
Masih pelit juga, gue bikin Lo keder nyari si Yayang 🙄🙄
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan ♥️