
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
" Ini rumah siapa?" tanya Bumi saat perasaannya mulai aneh.
"Hj Ruslan" jawab Oppa sambil menepuk pelan bahu cucu kebanggannya itu.
Senyum tersungging di ujung bibir Oppa mana kala ia melihat ada seorang pria yang tak jauh seumuran dengannya ternyata sudah menunggu di teras rumahnya.
"Ayo, kesana" ajak Oppa yang lalu merangkul bahu si tengah.
Oppa dan Bumi akhirnya bergegas menghampiri Hj.Ruslan yang masih berdiri siap menyambut kedatangan tamunya dari kota.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Oppa memberi salam sebelum ia dan Hj Ruslan berpelukan.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Hj, Ruslan langsung menjawab salam dengan perasaan senang kemudian secara bergantian memeluk Oppa dan Bumi.
"Apa kabar?" tanya Oppa setelah mengurai pelukannya.
"Kabar baik, mari masuk" ajak Pria baya itu.
Bumi yang ikut berjalan di belakang hanya diam sambil sekilas mengedarkan pandangannya ke seisi rumah Hj Ruslan yang nampak sederhana namun sangat nyaman karna itu ia rasakan saat pertama kali ia menginjakkan kakinya barusan.
"Silahkan duduk"
Oppa yang duduk disisi Bumi tak lepas memberikan senyum hangat, dan itu tentu menambah rasa nyaman bagi pemuda pendiam yang sedang berusaha menekan rasa aneh dalam hatinya.
Hampir tiga puluh menit Bumi hanya menjadi pendengar yang baik diantara obrolan kedua pria baya yang kini bersamanya, rasa jenuh dan penasaran akhirnya membuat ia memutuskan untuk sejenak keluar rumah.
"Oppa, apa aku bisa bisa keluar sebentar?" izin Bumi.
"Tentu, Kamu bisa jalan-jalan di sekitar sini" Jawab Oppa yang juga di tambah anggukan dan senyuman dari Hj Ruslan.
"Baiklah, Aku pamit keluar"
Bumi melangkahkan kakinya ke arah pintu utama yang masih terbuka lebar, hembusan angin seakan langsung menyambut dirinya yang datang jauh dari kota.
__ADS_1
Kenapa aku merasa jika kamu ada dekatku, Yang..
Apa karna aku terlalu merindukanmu?..
.
.
.
.
Praaaaang!!!!
"Yayang, ada apa?!" jerit Ambu dari arah ruang tengah menghampiri Kahyangan di dapur.
"Gak apa-apa, Aku cuma tadi langsung ngerasa sesek" jawabnya sambil meremat baju panjang bagian dadanya.
"Kamu sakit?, Ambu ambilkan obat dulu"
"Ada apa?" tanya Ambu, ia maju satu langkah agar lebih dekat dengan Kahyangan.
"Aku merasa ada yang menyebut namaku, dan itu sangat dekat" jawab Kahyangan yang masih meyakini dirinya jika apa yang di katakan itu sama dengan apa yang ia rasakan.
"Apa kamu sedang merindukannya?" tebak Ambu langsung.
Kahyangan langsung menunduk lirih. Ia tak berani menunjukan wajahnya sedihnya dihadapan Ambu.
Jika kamu masih meneteskan air mata untuknya, berarti dia masih segalanya untukmu.
Gadis cantik itu mendongak kan wajahnya, sambil tersenyum Simpul dan Ambu segera menghapus buliran cairan bening itu di kedua pipi Kahyangan.
"Jangan terlalu larut merasakannya, karna sakitnya cuma kamu yang rasa meski kamu sudah membaginya dengan Ambu, Jangan egois jika ingin mempertahankan salah satunya"
Ada senyum yang tergurat di ujung bibir Kahyangan walau itu jelas ia paksakan, dirinya yang berbulan-bulan ini dalam kebimbangan masih mencoba mencari letak rasa nyamanya sebelum ia mengambil keputusan yang tentu tak mudah baginya, Bukan hanya keyakinan dan Iman tapi ini menyangkut Tuhan yang pertaruhkan.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, kami tak pernah memaksamu dan justru selalu menghargaimu" ucap Ambu yang di jawab anggukan oleh Yayang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Biarkan kini kami tak saling mencari tapi merindukan, tak saling mengobari tapi mendoakan!!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Next partnya nanti di loncat ya 🤣🤣🤣🤣
kelamaan nunggu seblak dari Bumi Ampe pegel hati 😔
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1