
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bumi pulang membawa rasa kecewa luar biasa, meski ia tau tak mungkin bisa bersama setidaknya ia masih bisa melihat gadisnya itu dari jauh tap kenyataannya kali ini ia justru kehilangan jejak Khayangan dari hidupnya.
Kamu pergi...
Aku ikhlas melepasmu saat ini karna memang IMAN lebih dari segalanya.
Pemuda yang berkali-kali merasakan patah hati itu memukul stir mobilnya untuk meluapkan rasa kecewa dan emosinya yang menyesakkan dada.
Ia marah dengan takdirnya tapi ia juga bangga dengan keegoisan keyakinan yang mereka pegang selama ini.
.
.
"Darimana? " tanya Melisa saat melihat si tengah menghampirinya di dapur.
"Dari resto terus mampir kerumah Alex" jawabnya jujur.
"Alex siapa?"
"Temen Yayang, Mah"
Melisa mengernyit kan dahinya, ia tahu apa yang di rasakan putranya kini.
Wanita cantik berbaju merah itupun langsung mendekat.
"Kamu pasti merindukannnya sampai akhirannya harus mendatanginya, iya, kan? " goda Melisa sambil menangkup wajah anaknya itu.
"Enggak, Mah. Cuma penasaran aja sama keadaannya"
__ADS_1
"Lalu?" tanya mamanya lagi.
"Dia pergi entah kemana!" sahutnya yang langsung membuat Melisa kaget dan tak percaya.
"Biarlah ia melangkah kemanpun asal bahagia, aku akan mendoakannya dari jauh" balasnya lagi dengan satu tetes air mata sebagai bukti betapa terlukanya ia saat ini.
"Kalian sudah berjuang semaksimal mungkin sampai di titik dimana akhirnya memang perpisahan yang harus kalian hadapi. Jangan pernah menyesali semuanya" ucap Melisa mencoba menenangkan Bumi yang bersandar di bahunya.
"Aku menyesal karna menyerahkan seluruh hatiku untuknya, jika sudah begini aku rasa Kakak dan Mitha tak ada salahnya memiliki banyak kekasih untuk menguatkan hati" kekeh Bumi menghina dirinya sendiri.
"Hem, dulu marah-marah. Sekarang gara-gara patah hati di benarkan" balas Melisa mencubit hidung si tengah.
****
Di dalam rumah, Kahyangan hanya berdua dengan Iqbal karna Abah mengantar Ambu kepasar begitupun dengan Nisa.
Kahyangan tak berani keluar dari kamar karna tak ingin mendapat sorot tajam dari Iqbal yang masih saja dingin dan angkuh. Rasa tak nyaman langsung menyeruak jika Duda beranak satu itu ada didekatnya.
Ketukan dikamarnya membuat Kahyangan menoleh kearah pintu. Hatinya berdebar hebat karna ia yakin itu pasti Iqbal yang ada dibalik pintu sebab ia tak mendengar suara mobil Abah sama sekali.
"Ya tunggu" sahut Kahyangan dengan sangat terpaksa satu gedoran semakin keras.
Ia yang masih merasa sakit di bagian kaki mencoba bangun dengan bantuan tongkat.
Cek lek
"Emang kamu gak laper? " tanya Iqbal langsung.
Kahyangan yang bingung menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya.
"Aku?"
__ADS_1
"Hem!! "
"Ayo makan! aku udah masak buat makan Siang. Nisa mampir ke taman jadi bisa pulang sore" ucapnya yang langsung berlalu dari hadapan kahyangan yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kamu masak?, maaf aku merepotkanmu" lirih Kahayang yang akhirnya mengekor di belakang Iqbal menuju dapur.
"Sangat! kamu sangat merepotkan. Lekaslah sembuh" ketua Iqbal sambil menarik kursi meja makan.
"Apa kamu akan mengusirku? " tanya Kahyangan dengan nada bergetar menahan tangis. Ia sudah sangat lelah menghadapi keangkuhan Iqbal.
"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?" Iqbal balik bertanya.
"Cepat duduk dan makan! " titahnya lagi dengan ekspresi datar tanpa senyum atau apapun itu.
"Ya, aku akan makan yang banyak agar cepat sehat dan pulang ke kota ku! " jawab Kahyangan yang kini duduk berhadapan di depan Iqbal.
.
.
.
.
Hah.. enak aja!!
Kamu pikir aku akan melepasmu?
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱***
Si borokokok hayangna naon sih 😎😎😎..
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan.