
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Air berguling di tengah kasur adik kembarnya sambil mengomel tak jelas, ia kesal dan sedih pastinya akan di tinggal Bumi selama sepuluh hari kedepan.
"Apa sih, kak" sentak Bumi yang mulai bosan mendengar rengekan kakaknya itu.
"Ikuuuuuuut"
"Ya kakak tinggal pergi aja, emang aku larang?," dengus Bumi kesal.
"Sama kamu, dek" rengeknya lagi.
"Boleh, tapi gak sama Hujan ya" ancam Bumi yang langsung membuat Air bangun dari tidurnya.
"Enak aja, mana bisa kakak gak ada Hujan" umpatnya jengkel.
Bumi hanya tersenyum menyeringai melihat kembarannya itu terus menggerutu tak mengizinkan ia pergi.
Ya.. ini memang pertama kalinya Bumi pergi, hanya ia yang jarang sekali keluar dalam waktu lama. Bumi lebih senang tidur atau melakukan kegiatan apapun di dalam rumah dibanding jalan-jalan liburan di luar, di tambah ia pun memilki pasangan yang sama dengannya jadi bisa di pastikan jika kencan Bumi dan Kahyangan hanya berputar-putar di area rumah atau perpustakaan.
Membosankan, bukan?
"Kakak.........." jeritan Si bungsu yang masih di luar kamar tapi Suaranya sudah sampai
BRAAAK
Cahaya menghentakkan kakinya saat membuka pintu, tubuh langsingnya masih diam diambang pintu kamar kembarannya.
"Kakak mana?" tanya Air yang kini duduk di tengah ranjang.
"Kakak Bu...." teriaknya lagi sambil sedikit berlari untuk berhambur memeluk kakak Keduanya itu.
"Jangan suka lari, nanti jatuh" ucap Bumi saat adik bungsunya itu sudah ada dekapannya.
__ADS_1
"Katanya besok, kok sekarang?" tanya si cantik Kesayangan papanya.
"Kata siapa? kan emang berangkat malam ini" jelas Bumi tapi dengan mimik wajah kebingungan.
"Kata Abang" sahut Cahaya polos.
"Hahahaha di bohongin Abang, huuuuuuuuuu emang enak!!!" ejek Air sambil tertawa bahkan anak sulung keluarga Rahardian itu melempar bantal ke arah adiknya.
Cahaya yang tak terima di ledek akhirnya balas melempar bantal tadi kearah kakak pertamanya sedang kan Bumi hanya bisa membuang nafas kasar tapi juga tersenyum bahagia karna drama seperti ini yang akan ia rindukan selama sepuluh hari kepergiannya.
Mendengar kegaduhan di dalam kamar si tengah tentu itu membuat orangtua mereka dengan cepat menghampiri begitu pun dengan Hujan dan Langit yang mengekor di belakang Reza dan Melisa.
"Ada apa?" tanya Melisa saat suaminya membuka pintu.
"Kalian kenapa kejar-kejaran?" timpal Reza ikut bertanya saat Si bungsu berlari ingin menangkap si sulung.
Reza, Melisa dan Hujan langsung menoleh kearah Langit yang memang dekat dengan mereka.
"Kata Abang Kakak Bu perginya besok, taunya malam ini, Abang bohongin adek ya?" tanya Cahaya dengan nada sangat kesal.
"Enggak. Emang Abang bilang gitu?" Langit balik bertanya dengan panik karna seingatnya ia asal menjawab saat gadis kecilnya itu bertanya.
"Iya, Abang bilang kakak Bu berangkat besok!" Cahaya mengulang ucapan pemilik hatinya itu dengan lantang sambil berdecak pinggang.
Semua yang melihat drama pertengahan Cahaya Langit hanya bisa melengos sambil berpura-pura tak tahu saat Langit meminta pertolongan lewat sorot matanya.
"Abang jahat, orang jahat harus di hukum" sentak si bungsu yang langsung menjewer telinga Langit menuju lantai bawah.
.
.
__ADS_1
.
Reza dan Melisa masuk kedalam kamar Bumi, sedang kan Hujan langsung dibawa Air turun juga ke lantai bawah. Pasangan suami istri itu ingin melihat hukuman apa yang Langit dapat dari adiknya itu.
"Udah beres semua, kak?"
"Udah, Mah. tinggal jalan aja nanti" jawab Bumi.
Ia duduk di tepi ranjang di apit oleh kedua orangtuanya, berat rasanya melepas si tengah yang tak biasa jauh dari mereka.
"Ada dua pilihan dalam hatimu, Kak. Pergi untuk melupakan atau justru bertahan dengan kesakitan dan kamu ternyata memilih yang pertama" ucap Melisa menggenggam tangan anak keduanya.
.
.
.
.
.
"Enggak. Mah. Aku bukan berhenti mencintainya atau melupakannya aku hanya sedang berhenti menyakiti diriku sendiri yang terlalu mengharapkan nya"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cebong oh cebong ....
Pisah sepuluh hari dulu ya sayang 🤭🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan ♥️🤗
__ADS_1