
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Jika laut bertugas membuat ombak, maka tugasku membuatmu BAHAGIA"
Kahyangan tersenyum sambil berhambur memeluk Bumi, sikapnya yang mendadak tentu membuat suaminya itu sedikit terkejut.
"Wah, udah berani peluk peluk ya" goda Bumi sambil terkekeh.
"Kan udah halal, boleh dong" sahutnya malu dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
Beberapa tahun lalu keduanya memang sering berpelukan bahkan berciuman. Namun, banyaknya hal yang terjadi pada mereka selama bertahun-tahun membuat semua itu justru menjadi sebuah sepenggal kenangan.
"Boleh banget, yang lain juga boleh" ucap Bumi seraya meraih dagu istrinya.
Kini kedua mata mereka saling menatap intens, ada getaran yang sangat mendebarkan dalam dada mereka masing-masing manakala bibir keduanya hampir saja bersentuhan.
"Jangan disini, Bu"
Bumi yang sadar langsung menjauh kan lagi wajahnya yang tersipu malu.
"Maaf, sayang"
Pasangan suami istri itu akhirnya kembali menikmati pemandangan laut yang membentang di hadapan mereka, dengan tangan saling menggenggam Bumi dan Kahyangan banyak bercerita tentang perjalanan hari hari mereka yang penuh kerinduan selama berpisah bertahun-tahun lamanya.
"Saat pulang nanti, apa boleh kita bertemu Alex? aku ingin melihat mamanya" pinta Kahyangan meski ragu. Namun, bukankah ia juga tak bisa begitu saja melupakan jasa keluarga dari pria yang pernah menyimpan rasa untuknya itu.
"Boleh, sekalian kita mampir ke makam ayah juga ibu"
Kahyangan hanya mengangguk sekali lalu menoleh kearah Bumi yang berdiri di sisi kirinya.
"Kamu gak marah?" tanya Yayang.
__ADS_1
"Aku, marah? untuk apa" kekeh Bumi menjawab pertanyaan gadis halalnya itu.
"Aku tahu kamu tak pernah suka padanya, apa rasa cemburu mu itu sudah hilang?"
Bumi tertawa sambil menatap istrinya yang kebingungan, bukan menjawab ia malah mencium punggung tangan Khayangan berkali-kali.
"Iya, cemburu itu sudah hilang karna kini kamu sudah menjadi miliku, kita sudah di tujuan dan iman yang sama. Tak ada yang aku takut kan lagi sekarang, meski ia menyebut namamu dalam doanya".
.
.
.
.
Hampir tiga jam berada di pantai akhirnya Bumi dan Kahyangan memilih untuk pulang. Tapi mereka akan lebih dulu mengisi perut yang sudah tar amat sangat lapar karna dinginnya angin laut yang bagai menusuk ke dalam tulang.
"Emang kamu punya makanan favorit? Setahuku kamu itu pemakan segalanya" jawab Kahyangan sambil terkekeh.
"Ya, tapi mulai saat ini aku akan mempunyai makanan favorit" balas Bumi dengan senyum menyeringai penuh arti.
"Apa? kamu akan suka apa, Bu?"
"Aku akan suka memakanmu di malam panjang kita nanti" bisik Bumi sampai membuat Kahyangan bergedik geli.
Perbincangan mereka terhenti saat ada pelayanan datang membawakan makanan yang di pesanan oleh Nona muda Rahardian tanpa sepengetahuan sang suami.
Bumi mengulum senyumnya saat melihat sajian yang terhampar di atas meja.
"Aku harap pilihanku tak salah" ucap Kahyangan, lama tak berjumpa tentu membuat ia ragu jika pria di sampingnya kini mungkin saja sudah banyak berubah.
__ADS_1
"Aku tetap aku, seleraku akan selalu sama termasuk memilih calon istri" jawab Bumi dengan rasa bahagia yang tak bisa ia gambarkan.
"Buka mulutmu" titah Yayang yang sudah menyodorkan sendok di depan mulut sang suami yang langsung menerima suapan darinya.
"Terkadang aku sampai menitikan air mata saat benar-benar merindukan mu" ucap Kahyangan, ia dulu memang sering melakukan hal manis seperti ini saat Bumi sibuk dengan tugas kuliah atau setumpuk pekerjaannya, ia tahu jika pria yang sangat di cintainya itu akan mengesampingkan rasa lapar sebelum semuanya selesai.
.
.
.
.
.
.
.
Akupun sama, jika malaikat bertugas mencatat rindu mungkin ia akan bosan menulis namamu!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pleaseee Gajah suapin gue dong 😫😫😫😫
Nengok sini apa😧😧
Kangen babang Reza 😘😘😘
__ADS_1