Heavenly Earth

Heavenly Earth
bab 36


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Aku mau kuliah ke luar negeri"


Reza tersenyum kecil membuat Bumi langsung menautkan kedua alisnya.


"Apa kalau kamu ke luar negeri Yayang akan jadi mualaf?" tanya Reza sembari bangun dari duduknya kemudian merangkul si tengah menuju sofa.


Kini dua pria tampan beda generasi itu sudah duduk berdampingan di sofa panjang.


"Kakak mau menghindar? untuk apa?" tanya Reza lagi, Bumi yang mendapat pertanyaan dari papanya hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Gak ada yang salah dari kalian, jadi gak harus pergi apalagi hanya dengan alasan melupakan. Itu akan membuat kamu semakin tersiksa menahan rindu, jalani semua seperti biasa tak perlu terburu-buru untuk melepasnya sekaligus"


Reza terus menenangkan si tengah sambil mengusap bahu anak kebanggaannya itu.


Putra keduanya yang sedang merasakan sakitnya patah hati karena sebuah keyakinan yang berbeda.


"Menyibukkan dirimu papa rasa itu jauh lebih baik dibandingkan pergi tiba-tiba, bukankah keputusan mu ini sangat egois karna harus meninggalkan kami?"


Bumi langsung menoleh, ia berhambur memeluk Reza dan tangisnya pecah lagi dalam pelukan papanya.

__ADS_1


"Maaf, Pah"


"Kakak gak maksud begitu, kakak gak akan ninggalin kalian, kakak janji" ucap Bumi di tengah isak tangisnya yang begitu pilu.


"Kuncinya cuma ikhlas, ambil pelajaran dari semua yang sudah kalian jalani termasuk soal cinta pada Tuhan yang harus di pertahankan. Papa bangga pada kalian karna bisa bertahan sampai sejauh ini, kak"


"Sakit banget, Pah" Adunya sambil meremat kaos bagian dadanya.


"Papa tau, Kak. Tapi hidupmu tak sampai disini kan?, mungkin di belahan dunia lain ada jodohmu yang sedang menunggu. Percayalah jika Tuhan tak akan memberikan rasa sakit di luar kemampuan hambanya dan papa juga yakin bahwa kamu akan mendapat pengganti Yayang yang sama ta'atnya tentu di Aamiin kalian yang sama, Bukankah itu jauh lebih indah?"


Bumi mengangguk paham, ada senyum yang terpaksa di ujung bibirnya yang bergetar masih menahan tangis.


"Kakak coba ikhlas, Pah. Kakak mau liat dia sebahagia apa tanpa kakak"


"Tapi jangan lupakan kebahagiaanmu sendri, jangan tutup pintu hatimu untuk gadis lain. mengerti?"


Semua pesan dan ucapan sang papa akan selalu ia ingat sampai kapanpun, karna hanya dalam dekapan pria itulah ia bisa bercerita dan melepas semua beban masalahnya.


Bumi tak perlu orang lain untuk mengadu sebab orang tuanya selalu ada dan siap memeluknya kapanpun ia butuh.. Rumahnya adalah tempat ternyaman untuk ia menangis menumpahkan rasa sedih dan emosinya dan tangan para saudaranya adalah pegangan terkuat untuk menopang tubuh rapuh dan lelahnya.


"Papa izinkan jika kamu mau liburan, tapi untuk kuliah diluar negeri tentu papa akan melarang mu, air mata mama kalian terlalu berharga, kak" ucap Reza yang tak ingin berdebat dengan sang istri.

__ADS_1


"Kakak tahu, Pah. Maaf sudah berpikir terlalu pendek dan gegabah menggambil keputusan. Harusnya kakak juga pikirkan perasaan kalian karna duniaku tak hanya dia melainkan ada keluargaku juga" balas Bumi sedikit malu dengan permintaan konyolnya tadi.


.


.


.


.


Kak..


Level tertinggi mencintai versi hamba Allah yaitu, disaat kamu mencintai seseorang tapi dalam doamu tak terselip namanya.


Disaat kamu berpura pura tak perduli, tapi hatimu tetap tertuju padanya.


kamu tahu kenapa?


Karna mencintai itu, cukup menjaga perasaanmu di dalam doa dan mengikuti skenario Allah dengan iklhas. Percaya padaNya jika semua akan berakhir baik untukmu dan juga untuknya.


__ADS_1


__ADS_2