
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bertahun-tahun sudah semenjak Kahyangan memutuskan untuk menjadi mualaf ia memilih untuk tinggal di salah satu pondok pesantren di bawah naungan H.Ruslan. Bukan hanya sekedar memperdalam apa yang ia yakini sekarang tapi ia juga turut membantu disana, Kahyangan mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan sembari tetap berobat jalan dan terapi khusus di bagian kakinya.
"Kamu yakin akan pulang sekarang?' tanya Ning Tyas pada Yayang yang sedang bersiap memasukan beberapa baju dan barang lainya.
"InsyaAllah yakin, Ning." jawab Yayang pada gadis yang tiga tahun lebih muda darinya.
Ia adalah Nur Antyas yang biasa di panggil Ning Tyas karna ia adalah salah satu anak dari Kyai Abdulllah pemilik pondok pesantren sekaligus kakak dari H.Ruslan.
Perawakannya yang memang lebih besar terkadang justru di sangka jika Kahyanganlah adiknya.
"Lama tidak? aku pasti merindukanmu" ucap Ning tyas
"Aku hanya ingin berziarah ke makam orangtuaku, meski kami kini berbeda tapi aku yakin doa ku akan sampai pada mereka." ucap Kahyangan dengan senym getir di sudut bibirnya.
"Tak ada niat baik yang tak sampai ke tujuan yang baik pula."
Kahyang langsung menoleh pada gadis itu sambil tersenyum lalu ia merentangkan kedua tangannya dan hal itu tentu di sambut baik oleh Ning Tyas, keduanya pun saling berepelukan sampai tak sadar jika ada seseorang di ambang pintu sedang memperhatikannya.
"Nyai, mari masuk" tawar Kahyangan setelah mengurai pelukannya.
Wanita baya istri dari kyai Abdullah itu pun masuk kedalam kamar Kahyangan, seorang gadis Mualaf yang di titipkan adik iparnya bertahun-tahun silam.
"Kapan akan pulang ke ibu kota? tanya Nyai.
"Siang ini, selepas Dzuhur " jawab Yayang.
"Kata Radit dia yang akan mengantarmu ke bandara?apa benar begitu."
__ADS_1
Kahyangan hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Nyai yang di layangkan padanya.
"Baru tadi pagi kak Radit menawarkan diri mengantarku kesana, Nyai. Tapi aku minta Ning Tyas juga untuk ikut" sambungnya lagi setelah tadi hanya mengangguk.
"Baiklah, biar Ning Tyas ikut dengan kalian karna tak baik pergi berdua meski jaraknya tak terlalu jauh"
******
Usai shalat Dzuhur berjamaah di masjid pondok pesantren Kahyangan kembali ke kamarnya untuk mengambil koper kecil miliknya karna ia akan langsung berangkat setelah berpamitan, ia yang sudah di tunggu di ruang tamu pun bergegas kesana.
"Yayang pamit ke ibu kota dulu, Kyai, Nyai," ucapnya sambil mencium punggung tangan pasangan baya itu secara bergantian.
"Hati-hati di jalan, jika urusanmu sudah selesai di ibu kota cepatlah kembali" pesan Nyai sambil menangkup wajah Kahyangan yang sudah di anggap seperti putrinya sendiri.
"Pasti, Nyai"
Kyai Abdullah hanya tersenyum simpul dan berpesan hal yang sama seperti istrinya tadi, begitu pula kepada kedua putra putrinya yang akan mengantar kahyangan sampai ke bandara.
"Gak di depan?" Tanya Radit saat Yayang hendak membuka pintu bagian belakang mobil.
"Enggak, biar Ning Tyas yang duduk di kursi depan bersama kak Radit." Jawab Kahyangan yang langsung membuat Radit sedikit kecewa karna anak sulung Kyai Abdullah itu memang menaruh hati pada Kahyangan dan sudah meminta izin pada Abah dan Ambu untuk berta'aruf tapi sayangnya gadis pujaanya itu belum memberi jawaban yang pasti.
Radit menjalankan mobil sedannya setelah Kahyangan dan sang adik sudah duduk dengan nyaman, hanya Ning tyas yang banyak bicara selama perjalanan untuk memecah keheningan sedang Kahyangan hanya tersenyum dan menjawab IYA atau TIDAK.
"Sebentar lagi waktunya Ashar, kita cari masjid ya" ucap Radit sambil melirik kearah Kahyangan lewat kaca spion tapi sayangnya gadis itu sedang menunduk dengan tasbih kecil yang tak lepas dari tangannya.
"Boleh, kita ke masjid yang dekat pantai ya. Ada waktu kurang lebih satu jam lagi untuk menunggu adzan Ashar" jawab Ning Tyas yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Radit dan Kahyangan.
Radit, si pria berkacamata berumur tiga puluh tahun itu langsung memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah pantai yang memang bukan tempat rekreasi tapi cukup indah untuk di nikmati.
__ADS_1
Ning Tyas yang memang sangat suka laut dengan cepat ke keluar dari mobil dan berlari kecil ke pesisir pantai begitu pun dengan Kahyangan yang kini sudah bisa berjalan dengan normal lagi.
"Kamu suka?" tanya Radit yang kini berdiri tepat di sisi Kahyangan meski masih berjaga jarak.
"Suka, laut ini bagai rinduku padanya yang begitu luas sulit untuk di ukur" jawab Kahyangan yang sering menyebut kata 'Dia' agar Radit mundur secara teratur.
"Dia yang sampai detik ini tak datang menemuimu" sindir Radit yang tahu jika hati gadis incarannya itu sudah termiliki orang lain.
.
.
.
.
.
Dia memang tak lagi datang, karna memang Dia bukan siapa-siapa ku saat ini, Dia hanya teman terbaik ku dan aku sangat mencintainya...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Calon mantu Rahardian 🤣🤣🤣🤣🤣..
Kesayangannya Oppa ini, jangan macem macem 🤧🤧🤧
Like komennya yuk
__ADS_1
Apa di ibu kota mereka bertemu?