Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra bab 11


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Happy Anniversary, sayang" ucap Bumi saat sang istri bergeliat kecil di dalam dekapannya.


"Anniversary?" gumam Kahyangan, dalam keadaan setengah sadar ia masih sempat berpikir dengan apa yang dikatakan suaminya itu di jam dua pagi.


"Tepat satu tahun aku menjadi suamimu, belum menjadi yang terbaik tapi selalu berusaha jadi yang terbaik untukmu"


Kahyangan tersenyum sambil mengeratkan pelukannya di dada bidang Bumi yang polos tanpa apapun.


"Tepat satu tahun juga aku menjadi istrimu, jauh dari kata sempurna tapi selalu mencoba untuk menjadi bidadari dunia akhiratmu" balas Kahyangan yang langsung membuat Bumi merona saking bahagianya.


"Kamu bisa tidur lagi, aku akan berbincang dengan Tuhan sebentar"


Kahyangan yang sedang berhalangan tentu tak bisa ikut melaksanakan ibadah malam yang biasa mereka lakukan setiap malam, Kahyangan yang sudah terbiasa akan bangun di jam yang sama setiap malam meski sedang kedatangan tamu bulanan.


"Sampaikan salamku, katakan padaNya jika dua malam ini aku sangat rindu"


"Dia pun pasti merindukanmu juga, ini hari hari istimewamu, kamu bisa menyapaNya dengan cara lain" kata Bumi yang kemudian mencium kening sang istri.

__ADS_1


Bumi yang merasa Kahyangan perlahan mengurai pelukannya, langsung meringsek turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Ia akan menunaikan ibadah sunnah malamnya tanpa istrinya yang biasa menjadi makmum.


***


"Aku masih berharap, Bu" ucap Yayang tiba-tiba setelah sarapan pagi tandas mereka nikmati.


"Berdoa dan berusaha, hanya itu yang bisa kita lakukan, Sayang." sahut Bumi sambil meraih tangan Istrinya.


"Kalau tetap tak bisa bagaimana?" tanya Kahyangan dengan tatapan mata serius.


"Tak bisa bagaimana maksudmu? aku sedang tak ingin berfikir yang macam-macam, Yang" timpal Bumi.


Bumi menggelengkan kepalanya, baginya Khayangan terlalu berlebihan dalam menyikapi ucapan dokter seminggu lalu saat keduanya melakukan pemeriksaan kerumah sakit karna sudah setahun menikah tapi tak ada tanda tanda menantu kedua Rahardian itu berbadan dua. Sebagai seorang istri darikeluarga yang tak biasa tentu ada rasa takut dan tak percaya diri meski suaminya tak pernah menyinggung soal anak sama sekali.


Kahyangan sering diam diam menangis saat melihat mama mertuanya begitu dekat dengan anak anaknya meski sudah beranjak dewasa, belum lagi saat Hujan bersama Samudera yang baru bisa berjalan sedikit demi sedikit. Ada rasa haru bercampur iri ketika bocah menggemaskan itu mendekat dan memeluk miMoynya.


"Masih banyak waktu, apapun bisa terjadi di kemudian hari dan hanya Tuhan yang tau semua itu" tegas Bumi sambil melirk jam di pergelangan tangannya kemudian bangun dari duduk.


"Satu tahun cukup bagiku menunggu, apa aku kurang ta'at sampai Tuhan belum percaya padaku untuk menerima titipanNya?"

__ADS_1


Bumi menarik napas dalam-dalam, ia sebenarnya sungguh tak ingin membahas hal ini lebih jauh dengan sang istri karna tahu jika pikiran Kahayangan pasti akan merembet kemana-mana keluar alurnya.


"Menjaga titipanNya bukan perkara siapa yang lebih ta'at, Yang. Tuhan sedang ingin kita menikmati waktu bersama lebih lama" Rayu Bumi menenangkan istrinya yang sudah memerah kedua matanya.


Kahyangan hanya mengangguk paham, ia harusnya sadar diri untuk tidak merajuk saat suaminya hendak pergi bekerja tapi rasa tak tenang dan serba salah selalu menyelimuti nya.


.


.


.


.


.


.


Yang, aku paham keadaanmu karna ujian terbesar seorang wanita itu datang dari perasaannya sendiri, Perasaan yang kerap berubah menjadi prasangka buruk dan ketakutan yang tak pasti. Kuatkan hatimu, sebab kelemahan wanita adalah berperang dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2