
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Mengantar Bumi melamar resmi Kahyangan!" jawab Oppa dengan nada penuh keyakinan padahal ia belum meminta persetujuan pada gadis yanh bersangkutan.
"Apa gak sebaiknya Yayang pulang lebih dulu, untuk menyiapkan segala sesuatunya?" ucap Bumi yang menoleh ke arah kedua orangtuanya secara bergantian.
"Telepon saja, jangan di persulit jika bisa di permudah" timpalnya lagi yang langsung membuat semuanya diam tak ada yang berani bicara.
Pria baya itu bangkit dari duduk, ia berdiri sambil memandangi satu persatu anggota keluarganya. Ada istri, anak, menantu, cucu dan cucu mantunya juga disana, rasanya begitu lengkap karna semuanya berkumpul di meja makan yang sama.
Tubuh tinggi Oppa kini perlahan beranjak dari ruang makan menuju kamar, dia diantar oleh Omma, wanita yang setia dalam keadaan suka maupun duka pria yang kini sedang di gandengnya. Puluhan tahun membina rumah tangga sampai menjadi teladan untuk anak dan cucunya, jika kesetiaan adalah di atas segalanya, kesetian juga pondasi paling utama dalam rumah tangga. Karna kesetiaan seorang pria di uji saat ia memiliki harta dan tahta dan kesetiaan wanita di uji saat pasangannya tak memiliki apa-apa.
.
.
.
"Aku bahagia, satu cucuku telah kembali" ujarnya saat menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang.
"Papa harus sehat, kita belum melihat cicit kita lahir" jawab Omma sambil menyiapkan beberapa obat yang rutin di konsumsi suaminya itu selama ini.
"Tentu, aku ingin memangku semua cicitku secara bergantia. Aku akan hubungi H.Ruslan untuk menyiapkan kedatangan kita lusa"
*****
Hari yang di nanti pun tiba, semua keluarga Rahardian sudah berkumpul di ruang tamu tinggal menunggu Oppa, Omma dan Melisa keluar dari kamar.
"Bisa diem gak?!" sentak Ricko sambil menendang kaki Reza.
__ADS_1
"Dek, si duda nendang kakak nih" adu Reza pada adik kesayangannya itu.
"Heh, aki aki! udah tua tuh mulut masih laknat aja ya. Hobby banget nebar Fatonah" rutuk Ricko lagi yang selalu terpancing emosi saat ia selalu di sebut DUDA oleh kakak iparnya.
"Bewh!! Aki aku lo bilang!" selaknya tak Terima.
"Iya. Lo gak sadar tuh mantu lo mau brojolin orok!" ejeknya sambil mencebikkan bibir.
STOP...
"Kalian berdua jangan sampe kita suruh tidur di teras ya kalo udah sampe di sana!" ancam Ameera dan Melisa sembari berdecak pinggang. Dua wanita itu selalu di buat pusing dengan pertengkaran para suami mereka.
"Iya, Ra.!" jawab Reza.
"Maaf, Mom" balas Ricko. Namun, keduanya saling melirik dengan sorot mata tajam mematikan.
Awas lo ya!!!
.
.
Satu persatu anggota keluarga menaiki pesawat pribadi. Hujan yang di gandeng Melisa tentu menjadi yang paling di khawatirkan, Sedang Kahyangan berada di urutan belakang bersama dua bungsu Rahardian yaitu Cahaya dan Ameera.
Tiga pria tampan, Langit Bumi dan Air masih ada dibawah entah apa yang mereka bicarakan karna hanya ada suara gelak tawa Si Sulung yang heboh.
"Kalian mau ikut gak?, papah tinggal terbang nih ya!" teriak Reza sambil berdecak pinggang.
"Ikutlah, kita gak ikut terus mau lamarin siapa?" jawab Bumi yang langsung berlari ke arah tangga pesawat.
__ADS_1
"Anak kucing banyak yang jomblo, kak" kekeh Langit yang ikut menyusul di belakang si tengah.
"Woy, tangguin. Wah parah cowok ganteng malah di tinggalin" teriak Air yang juga ikut berlari.
"Kamu mau kemana?" tanya Kahyangan pada Bumi yang Kebetulan lewat di depannya.
"Mau ke depan, ke Flight Deck. kenapa?" Bumi malah justru balik bertanya pada gadis yang sebentar lagi akan ia halalkan.
"Mau ikutan terbangin pesawat juga?" ejek Kahyangan.
.
.
.
.
.
.
Enggak.. aku cuma mau terbangin kamu sama sayap sayap cintaku...
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Eaaaaaa..... Udah jadi 11 12 sama buaya cengeng ya..
__ADS_1
Siap-siap Kahyangan mabok gombalan.
like komennya yuk ramaikan.