Heavenly Earth

Heavenly Earth
Extra Bab 09


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bumi menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri yang masih basah oleh keringat cinta mereka, pelepasan kali ini sungguh luar biasa ia rasakan.


Baginya yang baru merasakan surga dunia tentu satu minggu adalah waktu yang sangat berat mana kala sang istri sedang berhalangan, bahkan ia sempat uring uringan tak bisa tidur di malam ke empat dan kelima.


Kahyangan yang menawarkan jalan pintas pun di tolaknya mentah mentah.


"Bersih bersih dulu, baru tidur" titah Kahyangan pada suaminya yang benar benar tak berdaya dalam pelukannya.


"Aku lelah, aku ingin tidur sebentar ya. Bangunkan aku di sepertiga malam seperti biasanya" pinta Bumi yang langsung mendengkur halus.


Kahyangan membiarkan Bumi terlelap sampai benar benar terbuai ke alam mimpi, setelah itu ia perlahan meringsek turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Gadis cantik berbalut bathrobe putih itu tersenyum malu sampai kedua pipinya merah merona di depan cermin.


Ia yang bukan siapa siapa nyatanya mampu menaklukan hati seorang Direktur, anak kedua dari keluarga Rahardian yang terkenal dingin dan pendiam.


.


.


.

__ADS_1


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ucapan salam menandakan ibadah dua raka'at mereka pun telah usai di laksanakan, Bumi menoleh seraya membalikkan sedikit badan untuk mengulurkan tangannya pada Kahyangan yang menjadi makmumnya.


"Yang"


"Hem, ada apa?" tanya Kahyangan.


"Aku ingin ada banyak anak kita di belakangku kelak, boleh aku minta itu padamu?"


Kahyangan tersenyum, masih dengan balutan mukena ia pun berhambur memeluk suaminya.


"Tentu, aku akan melahirkan banyak anak untukmu. Berapa pun itu, Bu" jawab Kahyangan.


Selama pernikahan, ini baru pertama kalinya mereka membahas soal keturunan, Bumi tak meminta buru buru atau juga menunda karna semu mereka serahkan kepada yang maha kuasa sang pemberi rejeki.


****


Kahyangan membuang napas kasar di atas sofa setelah mengantar suaminya sampai di depan pintu.


Tubuhnya terasa lelah padahal tak ada yang ia lakukan setelah subuh tadi karna semua sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga mereka.


"Nona, apa ada yang bisa saya lakukan untuk Nona saat ini?" tawar Minah, gadis berusia puluh tahun yang diambil Melisa dari panti asuhan untuk menemani sang menantu jika sedang diluar atau di dalam apartemen sesuai permintaan putranya.

__ADS_1


"Periksa hafalanku saja, bagaimana?"


Minah mengangguk paham, ia langsung ke ruang kerja Tuan mudanya untuk mengambil kitab suci.


Kahyangan yang sedari tadi memejamkan kedua matanya sampai tak sadar jika Minah sudah kembali dan duduk di sampingnya.


Kegiatan seperti ini sudah berlangsung selama satu minggu saat Minah datang, karna tadinya ia akan meminta Ambu atau pak Ustadz yang mendengarkan hafalannya yang sudah hampir 30 juz.


Ayat demi ayat ia lantunkan begitu merdu meski belum se fasih Hafidzah pada umumnya. Karna ia masih sangat tau diri untuk banyak belajar terutama di masalah pernapasan.


Shadaqallahul adzim.


Minah menutup kitab suci yang berada di atas pangkuannya. ia benar benar kagum dengan sosok gadis cantik berbalut gamis putih itu sebab ia tahu jika Nona mudanya adalah seorang Mualaf.


"Ada apa?" tanya Kahyangan saat melihat Minah tersenyum ke arahnya.


"Aku sungguh malu, Nona. Aku yang sedari lahir muslim pun nyatanya tak sehebat dirimu" kata Minah jujur dalam hatinya yang tiba tiba bagai terhujam..


.


.


.

__ADS_1


.


"Aku tak akan seperti ini jika tak banyak belajar, bukankah untuk merasa kenyang kita harus menyuapkan sedikit demi sedikit makanan kedalam perut kita, begitu juga dengan ilmu. Aku hanya terlalu penasaran dengan apa yang baru ku kenal sampai akhirnya aku jatuh sejatuhnya pada pilihanku sendiri"


__ADS_2