
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kepergian Bumi seakan menambah lukanya, ia tatap punggung pria yang kini berjalan semakin jauh dari penglihatannya.. Bumi tak menoleh lagi walau hanya sekilas ia benar-benar pergi menjauh tapi Kahyangan yakin jika pemuda tampan itu akan kembali masuk kedalam dekapannya saat halal nanti.
"Menangislah"
Iqbal datang dan duduk di sisi adik sepupunya itu sambil tersenyum, hal yang jarang bahkan mungkin hampir tak pernah ia lakukan jika sedang berdua.
"A' Iqbal, sejak kapan disini?" tanya Yayang kaget dan bingung terlebih ia hanya sendiri.
"Nisa mana? kok gak ada." tanya Khayangan lagi.
"Tidur di mobil" jawabnya sambil menghela nafas
berat.
"Awalnya aku membuang pikiran jika sebelumnya kita pernah bertemu meski aku tak yakin dengan apa yang ku ingat. Tapi setelah aku menyaksikan sendiri aku pun yakin jika kamu lah orangnya" sambung Iqbal lagi yang akhirnya mengutarakan rasa yang mengganjal dalam hatinya.
"Benarkah kita pernah bertemu?" tanya khayangan dengan menautkan kedua alisnya karna ia tak pernah ingat jika hal itu pernah terjadi.
"Tidak, aku hanya pernah melihatmu dengannya" jawab Iqbal namun malah membuat gadis itu semakin penasaran.
"Dengannya? berarti kamu mengenal Bumi."
__ADS_1
Pertanyaan Kahyangan hanya di balas anggukan oleh Iqbal.
"Aku mengenalnya, lagi pula siapa yang tak tahu keluarga Rahardian apalagi soal si kembar yang terkenal dengan ketampanannya"
Kahyangan kembali menunduk kini remasan tangannya semakin kuat dan kasar, Iqbal yang memperhatikannya pun di buat bingung.
"Kenapa? jangan katakan kamu menyesal sudah menyuruhnya pergi."
"Enggak, A'. Bukan itu" jawabnya cepat sambil menggeleng.
"Lalu?"
Kahyangan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan, Ia juga memejamkan kedua matanya sebelum kembali melanjutkan ucapannya lagi.
Iqbal hanya diam mendengarkan, ia biarkan Kahyangan menumpahkan rasa sesak dalam dadanya yang mungkin sudah sangat lama ia simpan sendiri tanpa bisa di bagi dengan siapapun.
"Apa kamu butuh bahu?" tawar Iqbal.
"Tidak, Terima kasih." tolak Yayang tanpa menoleh.
"Tak apa, bukankah kita bersaudara" ucap Iqbal lagi.
"Kita sudah dewasa, kita tetap tak bisa sembarang untuk saling bersentuhan kecuali aku mencium punggung tanganmu itu pun semata karna aku menghargaimu sebagai kakak sepupu ku yang jauh lebih tua" jelas Kahyangan.
__ADS_1
"Aku akan belajar dari yang paling mudah dulu, termasuk menjaga diri sendiri karna kalau bukan aku yang menjaga siapa lagi?" tambahnya lagi akan sadar dia tak punya tempat berlindung.
"Maaf, aku bangga padamu. Tetaplah Istiqomah. Aku dan keluargaku akan sangat kehilangan gadis baik sepertimu jika nanti kamu menemukan jodohmu, Yang" ucap Iqbal yang sadar jika kini ia mulai menyayangi dan ingin melindungi adiknya itu.
"Jodohku sedang di tahan, dan aku ingin memintanya lagi nanti." jawab Kahyangan.
"Jangan mengulur waktu, jika kamu siap kenapa harus nanti" tanya Iqbal yang masih tak paham dengan apa yang ada dalam otak gadis itu, jodoh sesempurna Bumi masih saja ia abaikan.
.
.
.
.
.
.
Aku cacat, meski aku tahu ia akan menerimaku dengan segala kekuranganku ini, tapi tetap saja aku yang hanya manusia biasa masih memiliki rasa tak percaya diri. Sambil menunggu aku pulih dan bisa berjalan normal lagi aku akan memperdalam ilmu islam ku. Dan Aku akan baik secara lahir bathin saat ia datang kembali untuk menghalalkan ku.
Sungguh nikmat bukan? dibalik semua musibah yang ku alami ini karna waktu ku tak kan terbuang secara percuma.
__ADS_1