
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
" Ya awoh, Onty NyangNyang udah taya miong ya.
Anak na banak banak benel Oey!!!!"
Gelak tawa langsung menggema ke seisi ruang rawat inap yang kini di tempati oleh Kahyangan usai persalinan.
Samudera yang selama empat tahun ini menjadi satu satunya begitu senang saat ia berdiri di sisi box bayi dimana ada sepupu barunya yang baru lahir.
"Emang ada berapa sih? onty nya sampe di bilang kaya Miong?" tanya Bumi, pria yang begitu mirip dengan Air itu pun langsung menggendong sang keponakan. Meski kini ia sudah memiliki buah hati tapi ia tak akan lupa pada Sam, ia hanya tak ingin anak itu kini merasa memiliki pesaing.
"Syatu... Dhuha!" jawabnya dengan lantang yang kembali mengundang gelak tawa.
"Dede bayinya ada dua ya" timpal Langit seraya mencium pipi Sam juga.
"Tiga dong, ini juga kan dede Oey" protes Sam.
Reza yang bangun dari duduk langsung mengambil alih cucu pertamanya itu untuk ia pangku kembali ke sofa.
Ia yang akan bertugas memberi pengertian karna hanya dia yang harus membagi rata kasih sayangnya utuk ketiga cucunya itu.
"Ini kakak Dede ya, kan ada dede kecil, ok?" ucap Reza, ia tahu Sam tak akan mudah menanggalkan begitu saja panggilan Dede yang sudah empat tahun tersemat pada dirinya.
"Kakak Dede?" tanya nya polos dan terlihat bingung.
__ADS_1
Reza mengangguk, ia ciumi kedua pipi Sam secara bergantian, ia yang sudah berpengalaman tentu tak sulit memberi pengertian karna dulu ia justru langsung memiliki tiga anak sekaligus dalam satu waktu.
"Dede, mulai hari ini di panggil kakak, boleh?"
"Nda, ini dede, Appa!" tegasnya.
"Wah, dede semua dong" timpal Air yang mendekat kearah putranya.
"Padahal kakak dede keren loh, apa mau di panggil Abang kaya Uncle?" sambung Langit sambil menaik turunkan alisnya.
Sam yang mendengar tawaran dari Langit pun langsung menggelengkan kepala.
"Kenapa gak mau?" tanya Cahaya, karna baginya panggilan Abang itu yang paling romantis dibanding sebutan lainnya.
"Nda, Dede mahu kakak aja deh taya papAy"
"Tapi ini dede ya, panggil kakak dede nya buat bayi aja, Keh!"
"Keh, Tuuuuuut"
Para pria Rahadian pun kini mulai berbincang obrolan ringan karna disana juga ada Abah dan Ricko yang baru datang bersama Ameera, sedangkan para wanitanya juga sibuk mengelilingi Khayangan yang sedang menyusui si kembar secara bergantian. Melisa yang sudah berpengalaman banyak memberi arahan bagi sang menantu termasuk bagaimana caranya menyusui dua bayi sekaligus.
"Kamu udah ada nama buat mereka?" tanya Reza pada si tengah.
"Hem, udah sih. Tapi gak tau juga deh soalnya banyak banget rencana namanya" sahut Bumi.
__ADS_1
Begitu banyak doa dan harapan dibalik sebuah nama membuat pasangan suami istri itu sempat kebingungan memilih dan memilah meski dari awal mereka tau jika akan memiliki anak kembar walau tak pernah mengatakan pada siapapun termasuk pada Reza dan Melisa.
"Yang penting terselip nama keluarga di kedua anakmu terutama yang laki-laki." pesan Reza, itu juga yang diminta papanya dulu saat Air, Bumi dan Cahaya lahir.
"Itu pasti, Pah. Aku gak akan lupa hal itu" tegas Bumi.
"Terus siapa namanya, jangan panjang panjang" balas Cahaya, lidahnya sudah sangat gatal ingin meledek bocah empat tahun yang kini sedang menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kalau panjang?" timpal Ricko tiba-tiba.
"Noh, si Tutut kayanya sampe sekarang gak bisa nyebut namanya sendiri" jawab Cahaya sambil tertawa.
"Dede udah bisya Oey"
Tak pernah ada waktu yang terlewat begitu saja jika anak bungsu dan cucu pertama Rahardian itu bertemu, selalu saja ada sesuatu yang mereka perdebatkan meski hanya hal sepele.
"Lalu siapa nama mereka?" kini Melisa yang bertanya sambil menatap teduh cucu perempuannya.
"Galaksy arMiKha Rahardian Wijaya dan Aurora arMikha Rahardian Wijaya"
.
.
.
__ADS_1
.
Dede Ala dan dede Ola ya....