
💕💕💕💕💕💕
"Pokoknya gak boleh!" tegas Gala.
Hari ini adalah hari dimana Ara akan masuk taman kanak-kanak mengingat kini usianya sudah menginjak lima tahun. Sudah cukup bagi gadis kecil itu bermain dan hanya belajar dirumah tanpa mengenal orang lain selain Gala dan Rora, anak kembar pasangan Bumi dan Kahyangan.
"Terus Ara ngapain?"
"Belajar! kalau istirahat diem di kelas. Kakak juga gitu" jawab Gala masih dengan nada kesal.
"Tapi... "
"Jangan tapi tapi terus, nurut bisa gak sih?!"
Ara hanya mengangguk, meski ia begitu kesal pada bocah laki-laki yang umurnya lima tahun lebih tua darinya itu.
"Ngerti, kan?" tanya Gala lagi.
"Iya, Ih!"
Ara yang berlari lebih dulu menuju mobil meninggal kan Gala yang masih merengut kesal di sofa ruang tamu rumahnya.
"Kenapa?" tanya Rora, adik kembarnya yang pecicilan.
"Gak apa-apa"
Kini keduanya pun berjalan menuju garasi dimana kendaraan mewah milik keluarganya menunggu.
"Kalian kenapa lama banget?" tanya Kahyangan yang memang sejak tadi sudah ada didalam mobil menunggu si kembar.
"Adek yang lama" sahut Gala.
__ADS_1
"Kakak tuh, tadi kenapa masih duduk di ruang tamu?" selak Rora yang tak Terima di salahkan.
"Sudah, kita berangkat sekarang ya" Ujar Bumi memotong perdebatan anak kembarnya. Melihat keduanya tentu tak jauh berbeda seperti memutar memory masa kecilnya dulu jika bertengkar dengan Cahaya tapi Bumi kecil cenderung sering lebih banyak mengalah demi adiknya berbeda dengan Gala yang sangat keras kepala.
Dua puluh menit perjalanan, Mobil menepi di sebuah bangunan taman kanak-kanak yang cukup bergengsi di ibu kota dan di tempat itu juga dulu Gala dan Rora bersekolah selama dua tahun lamanya.
"Umi anter Ara ya, kalian jangan bertengkar terus, paham?" pesan Kahyangan sebelum turun dari kendaraan mewah suaminya.
"Iya, Umi" jawab si kembar berbarengan.
"Pamit dulu, Ra" titah Yayang lagi.
"Ara mau sekolah dulu, assalamu'alaikum" tuturnya sopan sambil mencium punggung tangan Bumi, Gala dan Rora.
"Waalaikum salam." jawab ketiganya secara bersama
"Inget pesen, kakak ya" tambah Gala dengan nada pelan namun penuh penekanan karna ia tak ingin ada yang tahu jika ia sudah membuat banyak aturan untuk Ara.
"Astaghfirullah!" Gala membuang napas kasar dengan mengusap dadanya sendiri.
"Udah pergi sana!" usirnya pada Ara.
.
.
.
Selama di sekolah, Gala terus uring uringan tak jelas, ia benar-benar ingin cepat pulang dan mendengar cerita Ara di sekolah barunya itu.
Bahkan saat sampai dirumah pun yang ia cari lebih dulu adalah si gadis berponi bukan Umi nya yang sedari tadi menunggu di ruang tengah lantai atas rumah mereka.
__ADS_1
"Bi, Ara mana?" tanya Gala pada Titin, ibu kandung Ara.
"Di kamar, Tuan"
"Aku kesana boleh gak?" Gala tentu lebih dulu meminta izin, apapun itu ia tetap tak boleh berlaku seenaknya adab dan ilmu tentu harus seimbang tak perduli jika tempat yang ingin ia datangi adalah sebuah kamar seorang asisten rumah tangga.
"Boleh, Tuan. Mungkin Ara sedang belajar di teras kamar" jawab Titin lagi.
"Ya sudah aku kesana ya."
Langkah tergesanya membuat ia tentu lebih cepat sampai ke tujuannya. Namun, Gala menghela napas dalam-dalam saat melihat Ara justru tertidur dalam posisi duduk dengan kepala diatas meja bahkan tangannya masih memegang crayon berwarna merah muda.
"Cape banget ya, Ra. Sampe ketiduran begini," kata Gala yang berjongkok di sisi Ara.
Ia usap kepala gadis kecilnya itu penuh kasih sayang yang sebenarnya bukan sayang layaknya pada seorang adik. Tapi tentu Gala belum sepenuhnya sadar akan hal itu karna yang ia rasakan sekarang adalah Ara hanya miliknya dan harus tetap bersamanya.
.
.
.
.
Kakak temenin ya, sampai kamu bangun dan ceritain semua.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Temenin di meja dulu ya sebelum temenin tidur di ranjang 🤣🤣🤣🤣
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1