
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tiga hari kemudian....
"Yang, kamu udah siapin semuanya?" tanya Iqbal pada adik sepupunya itu.
"Udah, memang berangkat jam berapa?" gadis cantik berbalut gamis putih gading itu balik bertanya.
"Kita berangkat jam sebelas, tapi bertemu H. Ruslannya sehabis shalat dzuhur dan shalat jum'at" jawab Iqbal yang di balas anggukan kepala, kini Kahyangan berani menatap dua manik mata duda beranak satu itu setalah tau jika ada ikatan persaudaraan di antara mereka, berbeda halnya sebelum semua rahasia masa lalunya terbongkar, ada rasa malu dan tak berani melempar pandangan pada lawan jenis.
"Baiklah, aku siapkan sarapan lebih dulu.
Kahyangan berjalan pelan menuju dapur, menghampiri Ambu yang sedang mencuci sayuran dibawah aliran air keran.
Entah apa yang akan di masak wanita baya itu Yayang belum bisa menebaknya.
" Aku bisa bantu apa?" tanya gadis cantik itu yang membuat Ambu langsung menoleh kearahnya yang berdiri di dekat meja.
"Pilihkan bumbu saja, simpan ditempatnya masing-masing." pinta Ambu, ia yang selama ini memperlakukan Kahyangan begitu manis nampak jauh lbih manis lagi saat tahu jika Yayang adalah keponakannya.
Senyum tak lepas dari wajah yang kini tak lagi muda itu, karna jika di perhatikan Kahyangan begitu mirip dengan Ayahnya meski kulit putih bersihnya tentu berasal dari ibunya yang memang keturunan Tionghoa.
Sejak kepergian Yusuf itu, ia memang tak lagi pernah bertemu meski masih bertukar kabar jika adiknya itu menelepon, bahkan Yusuf pernah mengirimkan foto putrinya yang di beri nama Kahyangan Al-fariz.
******
__ADS_1
"Kita jadi pulang hari ini, Oppa?" tanya Bumi usai sarapan
"Tentu, tapi tapi Oppa ada urusan sedikit dengan H.Ruslan. Nanti kita shalat dzuhur dan shalat jumat di tempatnya, Bagaimana?"
"Iya, Oppa. Asal layak dan bersih" jawab Bumi santai karna ia tak pernah sungkan menjalankan kewajibannnya, bahkan sujud di atas koran pun pernah ia lakukan saat Mushola yang ia singgahi begitu penuh oleh jamaah yang lebih dulu hadir.
Oppa bangun dari duduknya meninggalkan Bumi yang hendak menelepon mamanya, rutinitas wajib yang ia lakukan selama di kota x selama sebulan ini.
Karna hanya dengan begitu ia bisa mengikis rasa rindunya pada orang-orang dirumah yang ia tinggalkan.
Tak ada yang ia lakukan lagi selepas sarapan, Bumi hanya bermain ponsel di pinggir kolam ikan yang kini menjadi tempat favoritnya.
"Kak, ayo. Siapkan dirimu" titah Oppa yang sedikit membuat Bumi terkonjak kaget karna ia sedang membayangkan wajah cantik pemilik hatinya di air kolam yang begitu jernih.
Bumi tersenyum lebih dulu pada ikan ikan sebagai salam perpisahan, karna hewan warna warni itu mendadak jadi temannya untuk meluapkan keluh kesah hatinya terutama saat ia bercerita tentang gadis yang teramat ia rindukan.
"Sudah?" tanya Oppa saat pria baya itu melihat Bumi keluar dari kamarnya.
"Sudah, Oppa" jawabnya sambil mengangguk.
Dua pria tampan beda generasi itu berjalan beriringan menuju mobil sedan berwarna hitam yang sedari tadi menunggu.
Oppa dan Bumi yang duduk berdampingan langsung tenggelam di pikiran mereka masing-masing terutama Bumi yang entah kenapa perasaannya begitu berdebar layaknya seorang yang sedang kasmaran padahal semua orang pun tahu jika ia sedang mengalami patah hati abadi.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
***Ada apa denganku?
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Lah lo nanya gue 🤣🤣🤣
kalo mau tau nanti bisa cari di kolom komentar ya.
pasti emak emak heboh pada ngasih tau..
maklum lah bibirnya ada dua. #Eh....
Like komennya yuk ramaikan 😘😘😘
__ADS_1