Heavenly Earth

Heavenly Earth
bab 83


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Aku tidak pernah beranjak, aku tidak pergi ke mana mana karna nyatanya aku masih disini, masih menunggumu.


Aku ingin selalu ada, karna aku tahu bagaimana rasanya mencari dan tidak menemukan.


Silahkan cari aku, akan kupastikan kamu tak akan merasakan hal yang sama.


Lamunan Bumi buyar saat Melisa datang dan memegang bahunya yang duduk melamun merindukan Khayangan.


"Bumi, mama mau minta tolong, bisa?" Ucap sang mama yang sedikit membuat si tengah agak terkejut.


"Mama"


"Kamu kenapa? di dalam begitu ramai malah ngelamun di sini, apa ada masalah." tanya Melisa.


"Enggak, Mah. Aku cuma pengen disini aja karna di dalam begitu banyak orang" jawab Bumi yang masih kurang suka dengan keramaian.


"Ya sudah, mama mengerti"


"Mama mau minta tolong apa? apa yang bisa ku bantu." tanya Bumi memastikan jika yang di dengarnya tadi tak salah.


"Mama mau minta tolong ambilkan kue di ruko Tante Megan, tadi pagi ia sedang ada urusan mendadak jadi baru siang ini kue pesenan mama bisa di ambil" jawab Melisa meski sebenarnya ia tak enak hati karna sudah mengganggu ketengan sang putra.


"Oh, ke ruko tante Megan" balas Bumi memastikan.


"Iya, kamu bisa, 'kan?"

__ADS_1


"Bisa kok, Mah. Biar aku yang ambil sekarang dari pada iseng disini sendirian" jawabnya sambi terkekeh.


"Baiklah, terimakasih ya sayang"


Melisa yang kembali masuk mulai menyambut para tamu lagi, sedangkan Bumi yang di tinggalkan langsung bergegas menuju garasi lewat samping rumah utama.


Setelah masuk dan menyalakan mesin, kendaraannya pun kini melesat dengan kecepatan sedang menuju sebuah ruko sahabat mamanya.


Hanya dua puluh menit, akhirnya kereta besi yang di bawa Bumi pun berhenti di depan Ruko tante Megan.


Ia turun dan langsung masuk saat seorang pelayan wanita menyambutnya di depan pintu.


"Wah.. si ganteng ternyata yang kesini" sapa seorang wanita pada Bumi yang hanya melepar senyum.


"Apa kabar, Tante"


"Baik sayang, ayo masuk" ajak tante Megan yang sudah menganggap Si kembar seperti keponakannya sendiri setelah meminta para pelayan untuk memasukkan beberapa Kue kedalam mobil Bumi.


"Shilla akan pulang lusa ke Indonesia, ia ingin kamu menjemputnya di bandara, bagaimana?" pinta Tante Megan , ibu dari seorang gadis yang lama dekat dan menyukai Bumi namun memutuskan melanjutkan kuliah di luar negeri.


"Aku tak bisa menjajikannya, jika sempat tentu aku akan luangkan waktuku tapi jika tidak, aku mohon maaf" jawab Bumi sambil tersenyum meski dalam hatinya ia sedang mengumpat kesal pada mamanya yang masih saja iseng ingin menjodohkan dirinya dengan beberapa gadis.


Jadi ini alesan mama nyuruh aku ambil kue.


Perbincangan selama lima belas menit berakhir saat Bumi berpamitan untuk segera pulang, tentu dengan alasan jika kue yang di pesan sedang di tunggu, karna banyaknya tamu di rumah utama.


"Hati-hati di jalan ya, Tante harap lusa kamu bisa jemput Shilla" ucap tante Megan.

__ADS_1


"InsyaAllah, Tante" jawabnya sambil tersenyum simpul.


Bumi langsung membalikan badan bergegas keluar dari ruko yang seakan membuat hatinya terasa panas karna permintaan Tante Megan yang sangat mustahil baginya untuk di lakukan.


Langkahnya terhenti saat ia melihat toko bunga di sisi ruko kue milik sahabat mamanya itu.


Otaknya langsung mengingat suatu tempat yang sudah tak ia kunjungi selama hampir dua minggu ini.


"Mampir sebentar deh, sekalian lewat" gumamnya yang langsung berjalan ke toko bunga tersebut.


Bumi mengambil salah satu buket bunga mawar putih dan menyerahkannya pada pelayan untuk di bungkus, selesai melakukan transaksi pembayaran ia pun bergegas kembali ke mobil.


Hatinya mendadak tenang saat ia sesekali melirik buket bunga yang kini tersimpan disisinya, senyum pun tak lepas dari wajah tampannya.


"Bumi sebentar lagi akan datang, tunggu ya"


Lebih dari sepuluh menit perjalanan, akhirnya Mobil ia hentikan di depan gebang sebuah pemakanan umum, ia langsung turun dengan sebuah buket bunga mawar putih di tangannya. Kaki panjangnya kini sedang menyusuri makam demi makam yang berjejer rapih, sampai akhirnya ia berjongkok di depan salah satu tempat peristirahatan terakhir seorang wanita yang anaknya masih ia cintai sampai saat ini.


"Ibu, apa kabar? maaf Bumi baru sempat kemari." Ucapnya sambil meletakan apa yang ia bawa tadi.


"Bagaimana kabar Kahyangan disana? ibu masih menjaganya untukku, 'kan?"


"Apa ibu sudah menyampaikan rasa rinduku padanya?"


"Aku merindukannya, sangat rindu padanya dan berharap suatu hari nanti bisa datang menemuimu bersamanya, Bu"


Disinilah kadang Bumi meluapkan apa yang ia rasakan, di depan makam calon mertuanya itulah ia sering berkeluh kesah saat rindu pada Khayangan tak mampu lagi ia bendung.

__ADS_1


"Tapi kapan semua itu terjadi karna buktinya aku selalu datang sendiri tanpanya" adunya lagi.


Sekarang, mulai sekarang kamu tidak akan sendiri lagi saat datang ke makam ibuku.


__ADS_2