
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Berkasnya udah siap semua, tiga hari lagi kita ke tempat pak H. Ruslan" ucap Iqbal memberitahukan jika berkas data pendaftaran menjadi seorang MUALAF sudah di serahkan kepada yang berwenang.
Semenjak kecelakaan, tak ada satu pun yang tersisa karna tas dan semua barangnya tertinggal di tempat kejadian, bahkan pada saat Iqbal mencari pun, warga tak ada yang tahu atau mungkin juga pura pura tak tahu.
"Semua datamu juga sudah baru, mungkin besok pagi kartu Tanda pendudukmu akan di kirim kesini"
"Terima kasih sudah banyak membantuku" ucap Kahyangan masih menundukkan pandangannya.
"Apa kamu ingin mengganti namamu?" tawar Iqbal, karna biasanya seorang mualaf memiliki dua nama, satu nama asli dan satu lagi tentu nama yang lebih islami yang pastinya mengandung arti yang jauh lebih baik sebagai bentuk dan doa pada pribadi barunya.
"Tidak, ini nama pemberian orang tuaku. Aku takan menggantinya" tolak Kahyangan tentang hal yang satu itu.
"Baiklah, aku hanya menawarkan karna semua tentu terserah padamu" ucap Iqbal lagi dengan suara dingin seperti biasanya.
Duda beranak satu itu akhirnya masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat setelah Nissa menolaknya untuk bermain sejenak, semenjak hadirnya Kahyangan dalam kehidupan bocah itu Nissa menjadi sulit di dekati oleh ayahnya sendiri.
.
.
"Iqbal pulang ya?, Kaya denger suara mobilnya" tanya wanita baya itu pada Kahyangan yang masih bermain dengan cucunya.
"Iya, tadi pulang ngobrol sebentar terus sekarang masuk kamar" jelas Yayang.
"Ngobrol apa?, tumben"
"Cuma kasih tau kali berkas buat ke tempat H.Ruslan sudah siap,kartu tanda penduduk ku yang baru pun sudah jadi"
"Oh, ya sudah kalau begitu, Ambu ke belakang dulu" pamit Ambu yang di iyakan oleh Yayang juga Nisa.
*******
Esok pagi Nisa yang sudah di janjikan Kahyangan pergi ke taman terus merengek agar gadis itu cepat bersiap.
Bocah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu tak bisa lagi menunggu meski nyatanya Kahyangan masih sibuk membereskan piring usai sarapan tadi.
"Nisa bisa diam tidak?" tegas Iqbal pada putri semata wayangnya itu.
"Nisa mua cepat ke taman, By" protes gadis cilik berkuncir dia itu.
Kahyangan yang sudah membereskan semuanya langsung membawa Nisa keluar dari dapur yang memang merangkap dengan ruang makan juga.
"Ayo, kita jalan sekarang" ajak Yayang setelah memakaikan kerudung pada Nisa.
"Aby antar kalian"
Kahyangan dan Nisa diam sejenak saat Iqbal berjalan melewati mereka menunju mobil.
__ADS_1
"Ayo.. kalian tunggu apa?" teriak Iqbal dari dalam kendaraannya.
Nisa yang datang menghampiri ayahnya dengan sedikit berlari justru meninggalkan Kahyangan yang memang tak bisa terburu-buru, Kakinya yang masih ngilu membuat gadis cantik itu belum bisa berjalan normal seperti dulu, hal itulah yang terkadang menjadi kan hati Ambu dan Abah perih jika melihat Kahyangan harus kesusahan saat melangkah.
.
.
Kepergian Nisa, Kahyangan dan Iqbal ke taman tentunya hanya menyisakan Abah dan Ambu dirumah besar milik mereka. Pasangan baya yang selalu mesra itu pun kini sedang bersantai di ruang TV menikmati siaran berita di temani secangkir teh dan kue kering.
Tok... tok.. tok..
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Ambu dan Abah yang hanya menoleh ke arah pintu lalu saling berpandangan.
"Naha atuh liatin Ambu?, cig geura buka pintu sana" titah Ambu pada suaminya.
"Iya.. ini juga baru mau bangun" jawab Abah yang bergegas kearah luar.
Cek lek..
"Assalamu'alaikum, Abah" sapa seorang pria dewasa sambil mencium takzim punggung sang pemilik rumah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" sahut Abah lagi.
"Ada apa? mari duduk, " tanya Abah pada pria tersebut sambil mempersilahkannya duduk di teras.
"Oh, mungkin milik putri saya"
"Iya, Abah. Kalau begitu saya pamit, Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
Abah kembali masuk kedalam rumah setelah pria tadi sudah pergi menaiki sepeda motornya.
Ia langsung menghampiri istrinya yang sudah tak sabar melempar beberapa pertanyaan.
"Hayo, nanya nya satu-satu, Jangan di borong" ledek Abah yang membuat Ambu merengut kesal.
"Ambu gak nanya, mau di ceritain aja"
"Hahaha, sok pundungan. kaya mak Othor aja" kekeh Abah yang menyesap tehnya lebih dulu sebelum ia memberitahu siapa yang datang.
"Geura ih, cerita ke Ambu"
"Ada anak buahnya pak RT, kasih berkas data milik Kahyangan yang baru, kartu Tanda penduduk dan Kartu keluarga sepertinya" jelas Abah untuk menutupi rasa penasaran sangal istri.
"Ambu penasaran sama orang tua Yayang, selama ini dia gak pernah mau cerita soal keluarganya.. Dia hanya berbagi kisah cintanya saja ke Ambu" keluh wanita itu yang memang selalu menjadi sandaran Kahyangan jika sedang sangat merindukan pemilik hatinya.
__ADS_1
"Mungkin dia hanya tak ingin semakin terluka, sangat sedih pastinya menjadi anak yatim piatu" ucap Abah memberi pengertian.
Namun rasa penasaran tentu masih menggelitik perasaan wanita bergamis jingga itu, seperti ada dorong yang membuatnya ingin membuka map coklat yang tergeletak di atas meja.
"Jangan Ambu, itu bukan milik kita" cegah Abah saat tangan sang istri mulai ingin menyentuh barang tersebut.
"Hem, Iya, Abah"
Abah kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ambu untuk fokus lagi pada siaran TV, tapi tidak bagi Ambu yang kedua matanya tak lepas dari map coklat yang berisi semua data pribadi kahyangan.
Ia sedang merasa benar-benar dilema saat ini.
"Abah ke kamar mandi dulu ya, kebelet banget" ucap pria baya itu sembari bangkit dari duduknya.
Ambu yang memang sedikit melamun tak menjawab perkataan suaminya, malah justru meraih map tersebut dari atas meja.
Ia buka tali merah pada amplop itu dengan sangat tergesa dan menarik beberapa lembaran di dalamnya.
Ia baca satu persatu tiap huruf yang tertera di kertas putih itu.
.
.
.
.
.
.
.
Merlin Agatha
Muhammad Yusuf Al-Fariz
πππππππππ
Why?
Naha Ambu? π€π€π€π€π€
Misa kepo sedang meronta ronta jiwa raganya π€£π€£
Hayo yang ribut kagen nyuru up.. harus like sama komen apalagi ini babnya sampe 1000 kata..
gak di like gak di komen gak jadi crazy up nya..
__ADS_1
teteh geh mau maksa πππ