
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"By, Ini apa?"
Bumi yang ikut menghentikan langkah langsung menoleh kearah yang di tunjuk istrinya saat melihat lantai rumah utama sedikit ada cairan bening. Otaknya langsung bisa mengangkap apa yang kini tengah di rasakan Kahyangan.
"Umi jangan panik ya, Sayang. Kita kerumah sakit, Ok" ucap Bumi berusaha menenangkan.
"Aku mau lahiran ya, By?"
"Mungkin, gak apa-apa. Kita periksa ya cantik"
Bumi menggandeng lembut tabgan Kahyangan karna bidadari hatinya tu masih sanggup untuk berjalan, sedang ia meminta salah satu pelayan untuk memberitahu kedua orangtuanya yang masih berada di dalam untu menemuinya di garasi mobil.
Hanya berselang lima menit Reza dan Melisa langsung menyusul anak dan menantunya, rasa panik jelas terlihat di wajah Nyonya besar Rahardian saat melihat Yayang meringis menahan sakit.
"Mules ya, Nak?" tanya Melisa sambil mengusap perut buncit yang sedikit ada pergerakan.
"Sedikit dan kadang kadang, Mah"
__ADS_1
Ditemani kedua orangtuanya, Bumi langsung melajukan mobil mewahnya kerumah sakit dengan kecepatan lumayan tinggi, dan kedatangan mereka tentu sudah di tunggu oleh pihak rumah sakit yang sudah di kabari lebih dulu.
Kahayangan yang di temani Bumi langsung di periksa oleh beberapa dokter yang selama ini menangani sang menantu kedua Rahrdian, keringat dingin mulai membanjiri kening Yayang padahal di dalam ruangan terdapat AC yang cukup dingin.
"Sudah pembukaan empat, masih ada enam pembukaan lagi ya, sabar dan tetap berdoa" ujar sang dokter.
Karna di nyatakan semua baik dan tak ada masalah sama sekali, pihak keluarga pun di minta untuk tenang serta tak merasa khawatir yang berlebihan. Keluarga Rahardian kini sudah berkumpul di ruang observasi bersama Ambu dan Abah, sedangkan Iqbal akan menyusul nanti bersama Nisa juga ibu sambungnya.
Ambu yang tak beranjak sedikitpun terus saja melantunkan doa doa yang membuat Kahyagan semakin tenang menunggu pembukaan sampai sempurna, begitu pun denga Bumi dan Melisa. Reza hanya bisa mengalihkan rasa cemasnya dengan cara mengobrol dengan Abah juga Langit.
.
.
Kahyangan terus menyimak dan menuruti semua arahan yang diberitahukan team dokter yang sudah bersiap di bawah sana.
Tarikan napas sudah tak terhitung lagi, segala rasa yang tak bisa ia ungkapkan menyatu seakan begitu sesak dalam dadanya.
"By, Umi minta maaf ya, kalau banyak salah. Umi sadar diri belum bisa jadi yang terbaik buat Aby" lirih Kahyangan dengan derai air mata yang membasahi wajah pucatnya.
__ADS_1
"Aby maafin, tapi Umi janji ya harus kuat berjuang demi keluarga kita, Umi yang kuat demi buah hati kita yang siap menyambut dunia." tegas Bumi tak kalah ikut menangis juga.
"Mah, Sakit banget. Yayang minta maaf ya, Mah. kalau selama ini suka ngelawan sama mamah, belum bisa bahagia anak mama"
"Iya, Sayang. Mama maafin. Kamu harus kuat. Allah sedang menggugurkan semua dosamu saat ini."
Bumi dan Melisa terus saja menguatkan Kahyangan yang sedang mempertaruhkan nyawa demi keturunan Rahardian Wijaya.
Keduanya terus menitikan air mata sedih, takut, haru.
Dan tangis ibu dan anak itupun pecah saat mendengar suara tangisan bayi yang begitu menggeletar ke seisi ruangan persalinan.
.
.
.
Alhamdulillah, sehat dan sempurna.
__ADS_1