
ππππππππ
"Aku gak tau harus bilang apa lagi sama kamu" ucap Bumi dengan mata merah menahan segala rasa yang sulit ia ungkapkan.
"Aku percaya dan bisa merasakannya, terimakasih atas cintamu yang luar biasa selama ini" jawab Kahyangan.
Pasangan suami istri kini sedang saling memeluk di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka, keduanya baru saja mereguk manisnya surga dunia yang selama ini tak pernah mereka bayangkan.
Bumi yang dengan gagahnya merenggut kehormatan gadis halalnya itu tentu kini merasa puas dan bangga, senyum tak lepas dari wajah tampannya yang belum juga merasa kantuk meski jam sudah menunjukkan lebih dari pukul satu dini hari.
"Nambah ya" pintanya saat dirasa miliknya kembali meronta.
Kahyangan mengangguk pasrah, ia akan meraup pahala sebagai seorang istri sebanyak-banyaknya untuk yang pertama kalinya meski tubuhnya bagai remuk sampai ke tulang.
.
.
.
Suara gelak tawa begitu menggema ke seisi kamar saat Bumi menceritakan kisah salah satu nabi utusan Allah yang meninggalkan sepasang sandalnya hanya demi berlama-lama berada di Surga.
Kahyangan yang pernah mendengar kisah itu tentu sangat antusias saat suaminya menceritakan ulang untuknya ketika selesai menunaikan ibadah subuh dua rakaat.
"Kayanya aku pernah baca, tapi cuma sekilas aja" ujarnya sambil terus menebak.
"Udah, gak usah di paksa inget. Mending cari pahala tambahan yuk" ajak Bumi lagi dengan menaik turunkan alisnya sembari menggoda sang istri yang langsung memerah kedua pipinya, dibalik mukena hadiah mahar dari Bumi ia menyembunyikan wajah cantik malunya itu.
__ADS_1
"Mau gak?" tanya Bumi lagi.
"Mau dong, di kasih pahala mana mungkin aku tolak" kekehnya yang membuat suaminya tak kuasa menahan rasa ingin memeluk gadis halalnya itu, Bumi terus menciumi pucuk kepala Kahyangan berkali-kali seakan tak ada puasnya.
****
"Jadi pulang hari ini?" tanya Yayang sambil menyisir rambut basahnya, ia kembali membersihkan tubuhnya sebelum waktu Dhuha datang.
"Jadi, kenpa? masih betah ya" Bumi balik bertanya, ia sedang berbaring santai di sofa depan TV masih dengan sarung juga koko yang melekat di tubuh tinggi putihnya.
"Mau langsung ke rumah utama, apartemen atau langsung ke rumah Alex?" gadis cantik itu seakan menagih janji suaminya.
"Ke rumah utama dulu, ke apartemen lalu ke rumah Alex dan habis itu.... " Bumi menggantung ucapannya, ia membiarkan istrinya penasaran dan akhirnya mendekat.
"Habis itu apa?" tanya Kahyangan yang kini sudah duduk di tepi sofa tepat sisi perut suaminya.
Kahyangan yang masih belum paham hanya menautkan kedua alisnya untuk mencerna perkataan Bumi.
"Apartemen kita? maksud kamu kita tinggal di apartemen yang berbeda dengan mama dan papa?" tanya Yayang memastikan tebakannya.
"Iya, masih disana juga tapi beda lantai karna apartemen kita gak seluas apartemen milik kedua orangtuaku, Yang. Hanya ada dua kamar disana, aku rasa itu cukup untuk kita yang masih tinggal berdua. Dan aku memakai asisten rumah tangga yang pulang pergi, bagaimana?" Bumi meminta pendapat Sang istri atas keputusannya yang menurut Kahyangan ini sangat mendadak baginya.
"Terserah padamu, aku akan ikut ke mana pun suamiku pergi dan tinggal, tapi kenapa harus pisah?" Tanyanya lagi di saat Bumi belum memberinya alasan.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, karna bagaimanapun ada kakakku yang buka mahram mu, sayang
ππππππππππ
Di kerangkeng lo yangπ€π€π€
Cowoknya Rahardian modelannya gitu semuaπ€ͺ
Gada adegan belah duren buat disini ya π€£
taunya udah selesai aja gitu.. bukan novel religi tapi menghargai bab bab sebelumnya yang bahas agama π
mau yang Haredang mah di lapak kakaknya aja noh yang doyan basah-basahan. Atau di novel baru teteh yang judulnya SELIR CINTA SANG MAFIA
#SekalianPromoπ€
__ADS_1