
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Kahyangan masuk kedalam rumah menggunakan kursi roda dengan Iqbal yang mendorongnya, pria berstatuskan duda anak satu itu tak pernah bersikap manis sama sekali pada Yayang dan itu membuat ia sangat tak nyaman jika ada Iqbal meski Ambu sudah sering memenangkannya agar tak memperdulikan sikap putranya itu.
Kahyangan yang selalu di perlakukan ramah dan baik tentu sedih jika ada yang menatapnya acuh dan tajam, apalagi ia selalu di kelilingi pria ramah dan lembut seperti Air, Bumi, dan Alek.
Ya.. lagi-lagi ia harus ingat dengan salah satu pemuda itu..
"Yang, kok ngelamun?" suara Ambu yang baru saja datang tentu mengagetkannya.
"Iqbal mana?" tanya wanita baya itu.
Kahyangan menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok pria yang tadi mendorongnya.
"Gak tau, Ambu. Aku di tinggal kayanya" kekeh Kahyangan sambil mengusap tengkuknya.
"Kabiasaan!" oceh Ambu yang akhirnya membawa Kahyangan ke salah satu kamar yang bersebelahan dengan kamar Nisa.
"Aku disini?, gak sama Nisa?" tanya Kahyangan sambil menoleh ke belakang.
"Iya, kasur Nisa kecil, gak cukup buat kalian" jawab Ambu.
Wanita tua itu dengan sigap membantu Kahyangan untuk pindah dari kursi roda ke tepi ranjang.
"Semoga betah ya"
Kahyangan berhambur memeluk Ambu, ia berterima kasih banyak di sela Isak tangisnya.
Entah apa rencana Tuhan kali ini yang membawanya jauh dari kota asalnya bersama keluarga yang tak pernah ia kenal sama sekali.
__ADS_1
"Sudah cukup berterima kasihnya, jangan pernah sungkan ya. Ambu seneng kenal kamu apalagi mau ikut kesini temenin Ambu" Ucap Ambu sambil menghapus air mata kahyangan.
"Tuhan begitu baik, mengirim kalian padaku dan mau menerimaku yang jelas-jelas berbeda" lirih Yayang.
"Beda naon na?" kekeh Ambu sembari mencubit hidung Yayang, dan hal ini mengingatkan ia pada Melisa karna ibu dari Bumi itulah yang biasa melakukannya jika ia sedang bermanja dalam dekapan wanita yang selalu dengan bangga memperkenalkan Kahyangan sebagai menantu keduanya.
Sekarang kangen mama. Mama gak boleh kangen yayang ya!
Kita cukup mendoakan dari jauh..
****
Nisa dan Ambu yang heboh di dapur sedang menyiapkan makan makan malam membuat Kahyangan harus berkali-kali tertawa belum lagi Abah yang ikut mengacaukan suasana.
Meski ia tak begitu mengerti dengan yang kedua pasangan baya itu bicarakan tapi Kahyangan cukup paham maksudnya walau tak bisa ia ungkapkan.
"Ambu, Abah, Nisa" panggil Iqbal yang kini berdiri di ambang pintu dapur
"Ada apa?"
"Abby kok udah rapih, mau kemana?"
Belum sempat pertanyaan Ambu di Jawab ternyata Si cantik sudah ikut menimpali dengan pertanyaan lebih banyak.
"Abbya mau pergi sebentar, Nisa makan malam sama Ambu juga Abah dulu ya" jawab Iqbal saat putri semata wayangnya itu kini tengah ia gendong.
"Sama Ummi juga?" tanya polos Nisa.
"Kakak! Nisa harus panggil kakak, Ok" tegas Iqbal yang di jawab gelengan kepala oleh anaknya.
__ADS_1
"Nisa, itu kakak kamu bukan calon Ummi kamu, ngerti ya sayang" pinta Iqbal lagi, dua orang yang sama-sama keras kepala itu membuat Ambu dan Abah hanya bisa menghela nafas.
"Cig, atuh geura bawa calon Ummi buat Nisa. Tau anaknya ribut terus pengen Ummi baru" sindir Abah yang langsung di cubit oleh Ambu.
"Memang kalian pikir itu hal mudah?" gerutu Iqbal yang kesal dan pria itu semakin kesal saat melihat kahyangan menahan tawa sambil menunduk.
.
.
.
.
.
.
.
.
...Untung kamu cakep.. gak jadi saya bilang GILA!!! ...
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Ya Allah tuh mulut belom aja di sleding bakiak 😛
Yang punya tau bisa dibawain truk tanah trus Lo di kubur idup idup 🤭🤭🤭🤭
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan ❤️