Heavenly Earth

Heavenly Earth
bab 35


__ADS_3

💕💕💕💕💕💕💕💕


"Aku mundur dan memilih Alex untuk bersamaku.


Kami seiman dan satu tujuan, tak ada benteng perbedaan diantara kami..


Aku butuh anak Tuhan yang sama denganku bukan Hamba Allah yang sudah jelas bukan tujuan ku!!"


BUGH..


Bumi memukul tembok dengan begitu keras sampai Kahyangan terlonjak kaget dan mundur selangkah.


Pemuda itu benar-benar tak lagi bisa menahan emosi dan marahnya saat ini.


Air dan Bumi meski serupa namun berbeda dalam mengambil sikap, si sulung lebih suka mengutarakan perasaannya secara terbuka entah itu mengomel atau menangis, berbeda dengan si tengah yang lebih suka menyakiti dirinya sendiri jika sedang emosi.


"Bu..."


Khayangan mendekat perlahan, tangannya di tepis kasar saat hendak menyentuh luka pemuda itu.


"Tunggu, biar aku obati" Khayangan yang hendak masuk dicekal oleh Bumi, gadis itu berhenti dan menoleh.


"Terimakasih sudah bersamaku walau berakhir sia-sia, semua tak seperti yang kita harapkan. Mungkin bagi sebagian orang atau mungkin bagi diriku sendiri membawamu ikut denganku itu adalah hal yang mudah, tapi nyatanya aku tak berhasil. Cintamu pada Tuhanmu jauh lebih besar dibandingkan cintamu padaku dan aku salut akan hal itu karna aku pun tak akan mudah melepas imanku demi kamu. Aku terlalu egois memintamu pindah memeluk agamaku walau seharusnya jangan, tapi semua itu aku lakukan demi cintaku. Aku mencintaimu."


Ucapan Bumi bagai menghantam jantung Kahyangan, air matanya deras mengalir manakala ia melihat tetesan darah dari punggung tangan pemuda yang sampai detik ini masih menguasai hatinya.


"Maaf, aku masih dengan pendirian ku" jawab Kahyangan masih menunduk di sela Isak tangisnya.


"Aku hargai semua keputusanmu, berbahagialah dengan siapapun kamu nanti bersama, Tapi jangan pernah lupakan aku" pinta Bumi yang ikut menetes kan Air mata, pemuda itu mundur tiga langkah sampai akhirnya kembalikan tubuhnya dan pergi.


Kahyangan Langsung berjongkok karna tak kuat lagi menopang tubuhnya yang lemas, ia menguatkan dirinya sendiri agar bisa melanjutkan hidup tanpa genggaman tangan Bumi lagi, orang yang paling ia cintai tapi tak bisa ia miliki.


Ini kesalahan terbesarku yang pernah menerima mu kemudian meminta untuk kita tetap bertahan di atas perbedaan yang tak mungkin bisa kita tentang.


Jika aku tak terlalu mencintai Tuhanku mungkin aku akan ikut denganmu tanpa berfikir dua kali, tapi dengan tak adanya orang tuaku saat ini itu semakin membuat ku memasrahkan diri padaNya.


*****

__ADS_1


Bumi berjalan menaiki tangga dengan langkah gontai, sakit ditangannya tak sesakit hatinya saat ini.


Air matanya terus menetes walau jarak dari kos'an Kahyangan ke apartemennya cukup jauh. Ini patah hati paling hebat yang ia rasakan yang pernah mati-matian ia hindari.


"Kak..." Panggilan Melisa membuat si tengah tak jadi membuka kenop pintu kamarnya.


"Ada apa?"


Bumi menggeleng dengan menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak pecah lagi.


Melisa langsung memeluk anak kebanggaannya itu dengan perasaan haru, tanpa ia bercerita Melisa sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan putranya itu.


"Sudah mama bilang, Yayang terlalu taat untuk ikut kita, semua itu gak segampang saay kamu balikin telapak tangan, sayang" ujar Melisa menenangkan Bumi yang terisak dalam pelukannya.


"Kami harus hargai pendiriannya, mungkin jauh di dasar harinya ia justru ingin kamu yang ikut dengannya tapi ia tak berani memintamu, jadi ikhlaskan ya. Kalian akan mendapatkan pengganti yang lebih baik. mungkin dengan cara ini kalian bisa sadar jika Tuhan diatas segalanya, Bu" ucap Melisa lagi sambil menghapus air mata Bumi.


"Aku tak bisa melupakannya, Mah"


"Jangan di lupakan, tapi justru kamu harus terus menyayangi sebagai saudaramu, Bu."


"Akan ada hari dimana kalian bertemu lagi mungkin dengan kebahagiaan yang lain, dengan pasangan yang lain dan cara yang lain"


Ada senyum getir di bibirnya yang menghiasi wajah tampannya.


"Papa ada?" tanya Bumi.


"Ada di ruang kerjanya, pergi lah" titah Melisa sembari mengusap sisa kebasahannya.


.


.


.


Tok.. tok.. tok..


"Pah..." panggil si tengah.

__ADS_1


"Masuk, kak" sahut Reza dari dalam.


CEKLEK...


Bumi membuka pintu pelan, Ia masuk kedalam dengan langkah nyaris tak terdengar.


"Ada apa?" tanya Reza saat putranya sudah berdiri di depan meja kaca kerjanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku mau kuliah di luar negeri...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Yah... anak cebong ilang satu 😂😂😂


Konflik yang sesungguhnya di mulai.


Yang bosen atau ngerasa ini muter muter juga alur lambat bisa skip sampe sini gak apa apa 🤭🤭


Karna nulis itu di nikmati bukan di kejar-kejar 🤣

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2