Heavenly Earth

Heavenly Earth
extra bab 17


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Berbulan bulan telah berlalu, tak ada yang berubah kecuali bertambahnya kesibukan Kahyangan dan Bumi. Pasangan suami istri yang belum di beri kepercayaan untuk memiliki buah hati itu semakin menyibukan diri agar tak larut dalam sepi ketika melewati hari hari mereka.


Kahyangan terus sibuk memperdalam ilmunya sedangkan Bumi semakin sibuk melebarkan sayap di bidang usahanya.


"Besok aku akan antar beberapa jama'ah ke bandara, mungkin pulangnya akan mampir ke kantormu, bagaimana?" tanya Kahyangan. Dua tahun belakangan ini entah berapa orang yang mereka berangkatkan ke tanah suci.


Semua itu Kahyangan dan Bumi lakukan demi mewujudkan beberapa impian orang-orang untuk berkunjung ke rumah Allah SWT.


"Telepon aku dulu, aku belum tahu jadwal ku besok dimana" sahut Bumi sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya usai mereguk kenikmatan di malam sunnah.


"Aku menghubungimu atau sekertaris mu itu?"


"Aku dong, apa urusannya dengan Sania?" kekeh Bumi semakin mengeratkan pelukannya.


Kahyangan tersenyum kecil, rasa tak nyaman masih sering kali ia rasakan saat datang ke kantor pribadi milik sang suami, Kahyangan tak berani meminta Bumi untuk mengganti sekertaris nya itu karna kinerjanya yang baik dan di siplin serta selalu bisa di andalkan saat Bumi ada pekerjaan lain di kantor Rahardian.


"Buang pikiran burukmu itu, Sayang."


"Hey, memang kamu tahu apa yang sedang ku pikirkan?" balas Kahyangan sambil mencubit pipi suaminya yang sedang menahan senyum.


"Kamu selalu cemburu padanya, padahal aku tak sekalipun menoleh darimu"


"Baguslah, ingat perjuanganmu sampai kita berada di satu ranjang ini sangat tak mudah, Bu"


Keduanya saling memeluk, memejamkan mata sejenak untuk beristirahat sebelum waktu sepertiga malam mereka datang menyapa.


******


Jam tiga sore akhirnya Kahyangan sampai ke kantor Rahardian, Bumi memilih ke perusahaan keluarganya itu agar sang istri nyaman saat bertemu dengannya. Hati Kahyangan adalah prioritas utama nya yang harus dijaga setelah mamanya yang masih memegang tahta tertinggi dalam hati Bumi.


"Lama nunggu ya?" tanya Bumi setelah Kahyangan mencium takzim punggung tangannya saat datang.


"Cuma dua puluh menit"

__ADS_1


Bumi berkali-kali meminta maaf padahal itu semua bukan salahnya, begitulah cara para pria Rahardian yang selalu membuat hati para pasangan mereka luluh tak beraturan.


Kahyangan yang masih di bandara harus menunggu beberapa manit karna mobil yang di tugaskan Bumi untuk menjemput bidadari hatinya mengalami pecah ban di jalan.


"Sudalah, yang penting aku sudah datang."


Bumi menarik tubuh Kahyangan yang terlihat begitu lelah karna ada buliran keringat di keningnya padahal AC di ruangan kerja Bumi cukup dingin.


"Kita pulang ya, istirahat di apartemen"


"Aku mau pulang kerumah utama, aku merindukan Sam. Dua minggu ini aku tak bertemu dengannya " tolak Kahyangan sambil menggeleng dengan sorot mata memohon.


"Kamu kalau pulang kesana yang ada gak bisa istirahat karna Si tutut Jajah gangguin kamu terus, Yang"


"Gak apa-apa, hiburan banget dia tuh, Bu"


Bumi akhirnya mengangguk tanda setuju, meski sebenarnya ia ingin Kahyangan pulang ke apartemen untuk beristirahat.


Keduanya bangun dan keluar dari ruang kerja Bumi yang menjabat sebagai Direktur Utama.


Tak perduli dengan tumpukan pekerjaan yang belum selesai asalkan ia bisa menuruti semua keinginan Kahyangan.


"Kamu yakin?" tanya Bumi memastikan lagi sebelum keduanya turun dari mobil meski kendaraannya sudah masuk kedalam garasi.


"Yakin, aku udah bawa coklat juga buat Sam"


Bumi menggandeng tangan istrinya untuk masuk lewat pintu samping agar lebih cepat sampai ke ruang tengah lantai bawah tempat dimana keluarganya berkumpul sedari dulu.


"Kok sepi?" gumam Kahyangan.


"Di atas mungkin"


Keduanya berjalan ke arah tangga, namun belum sempat menaikinya teriakan Sam menggema ke seisi ruangan yang sontak membuat Bumi dan Kahyangan menoleh.


"Onty nyang nyang......" panggil si cucu satu satunya sambil berteriak cukup keras.

__ADS_1


Bumi yang langsung berjongkok bersiap menerima pelukan Sam yang sudah pasti akan meminta di gendong.


"Dari mana? Amma sama Appa dimana?" tanya Yayang pada Sam yang ada dalam dekapan suaminya.


"Bakang, agih main main ama ci kula, kula na upet upet telus dede kecel"


Bumi dan Kahyangan hanya tertawa mendengar celoteh Sam yang sangat menggemaskan.


"Ya udah kita ke halaman belakang yuk." Ajak Bumi.


"Yuk.. "


Bumi tersenyum Simpul saat melihat kedua orang tuanya sedang mengobrol di gazebo yang bawahnya terdapat kolam ikan yang cukup luas, di masa tua Reza dan Melisa keduanya hanya menghabiskan waktu bersama menjaga Oppa dan Omma juga Sam.


"Apa kabar, Mah Pah" sapa Bumi dan Kahyangan secara bergantian.


"Baik, Sayang."


Melisa yang senang dengan kedatangan anak dan menantunya tentu langsung menyiapkan makanan karna keduanya mengatakan akan menginap dirumah utama.


"Mah, aku boleh minta sesuatu?" Ucap Bumi saat Melisa berada di dapur.


"Kamu mau apa, kak?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Aku pengen rujak serut, Mah!


__ADS_2