Heavenly Earth

Heavenly Earth
Bab 89


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Penantian sepuluh tahun akhirnya berbuah manis, gadis cantik yang pertama kali menggetarkan hati Bumi itu kini ada di hadapannya sedang di apit oleh keluarga yang menggantikan peran orang tua kandungnya yang telah tiada.


Hampir dua jam acara lamaran berlangsung dengan begitu haru dan lancar, mengingat perjuangan keduanya tak mudah untuk sampai di titik ini.


Melisa yang tak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya sampai menitikan air mata saat ia memakaikan cincin berlian dijari manis Kahyangan yang berbalut gamis putih.


"Semoga semua lancar sampai hari pernikahan kalian" ucap Melisa setelah menciumi wajah calon menantu keduanya itu.


"Aamiin, Mah. Terimakasih banyak"


Keduanya berpelukan begitu hangat, Bumi yang tak bisa menggambarkan rasa bahagia dan leganya hanya bisa menangis pelan, lewat mamanya ia bisa merasakan pelukan gadis yang akan halal bersamanya nanti.


"Saya ingin pernikahan di lakukan secepatnya" pinta Tuan Wisnu Rahardian Wijaya.


Abah, Ambu dan Iqbal hanya saling melempar pandangan karna tak memiliki persiapan apapun.


"Kalian jangan khawatir, kami yang akan urus semuanya" sambung Reza yang seakan paham dengan apa yang ada di pikiran keluarga dari pihak ayah Kahyangan.

__ADS_1


"Untuk resepsi sepertinya akan tetap di ibukota tapi untuk di ijab kabul, Saya serahkan pada Bumi atau Kahyangan" Reza melirik ke arah si tengah yang masih menunduk tapi ia langsung mendongak kan wajahnya saat namanya di sebut.


"Kalian akan menikah dimana?" tanya Melisa.


"Aku.. aku ingin mengikat janji suci dengan Yayang di masjid impian ku" ucapnya yakin sambil menatap sang calon istri yang menyembunyikan raut merah meronananya.


Semuanya mengangguk paham, terutama keluarga Rahardian yang sudah tahu jika sejak dulu Bumi sudah memiliki tempat untuk ia mengikat jodohnya kelak.


"Baiklah, kami sangat menghargai dan menyetujui semua keputusan yang sudah pihak laki-laki buat untuk acara sakral ini" jawab Abah yang pasrah karna tak ada juga penolakan dari Kahyangan.


Dan hari jum'at usai dzuhur adalah hari yang di tentukan oleh kedua keluarga untuk melangsungkan pernikahan antara Bumi dan Karhayangan.


"Aku pulang, Terima kasih untuk semuanya. Aku sungguh sangat bahagia hari ini" pamit Bumi sebelum ia dan keluarganya balik ke hotel.


"Hati hati di jalan, sampai bertemu lagi nanti" sahutnya sedikit menunduk.


"Tunggu aku di akhir penantiamu"


Kahyangan menganggukan kepalanya, ia baru berani melihat kearah Bumi saat calon imamnya itu sudah mau masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"Kita berangkat lusa" ucap Reza saat perjalanan pulang ke hotel.


"Aku mau jalan jalan dulu loh, Mas"


Reza langsung menoleh kearah istrinya yang sudah menyandarkan kepalanya dilengan.


"Ada angin apa pengen jalan-jalan?"


Melisa hanya tersenyum Simpul, Kota X yang nampak begitu sejuk dan dingin membuat wanita istri dari seorang konglomerat itu langsung jatuh cinta dan ingin berlama-lama. Namun, kenyatannya ia hanya memiliki waktu esok hari untuk tetap tinggal disini.


"Nanti kita kesini lagi kalau urusan Bumi sudah selesai"


.


.


Sampai di hotel, Bumi langsung masuk kedalam kamarnya sendiri rasa tegang dan bahagia masih menjalar di hatinya. akhirnya memilih untuk berendam di bathup agar perasaannya normal kembali seperti biasa.


Dalam rendama air hangat ia pejamkan keduanya matanya, bayangan Kahyangan benar-benar tak lepas sama sekali.

__ADS_1


Sebelum mengenalmu, melamun tak pernah se indah ini.


__ADS_2