
"Huh.... Pada akhirnya dunia ini tidak berujung." Menyeka keringat di dahi.
"Aku bisa menyebutnya Room Paradoks, Dimana semakin kau terus menelusuri semakin luas pula dunia ini, Sehingga dunia ini tidak memiliki ujung, Bahkan luasnya tak terbatas."
Tinggg!!
Sebuah pesan notifikasi masuk.
[DoppelGinger telah menghilang.]
[Point pengalaman Akan dikirim ke pemilik.]
"Yang benar saja tak kusangka secepat ini."
Wosshhhh!!
Tubuhnya mulai di selimuti kekuatan yang sangat besar yang meluap luap tanpa henti, Kekuatan spiritual yang terkumpul pada bayangan juga ikut masuk kedalam tubuhnya.
"Jadi ini yang di sebut kekuatan spiritual yang bisa meningkatkan bakat kultivasi." Memperhatikan kekuatan spiritual yang mulai diserap kedalam tubuh.
"Tidak hanya kekuatan spritual tapi juga ada sedikit energi dari matahari yang ikut bercampur." Dia melihat cahaya emas yang terbakar meskipun hanya sedikit.
"Hei pak tua sudah saatnya aku kembali." Ujarnya lalu menoleh kebelakang.
"Cepat sekali anak muda, Padahal baru dua ratus hari kau menemani ku, Tinggalah lebih lama dulu." Balas pak tua itu.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semuanya, Kau telah banyak membantu ku meneliti dan untuk menemukan ujung dunia Abyss."
"Yah mau bagaimana lagi, Kau memang harus cepat kembali, Aku tidak tau bagaimana perasaan wanita itu melihat mu nanti."
"Apa kau yakin memberikan benda lusuh ini?." Memperlihatkan sebuah buku besar dan tebal yang diselimuti banyak debu.
"Tentu saja, Waktu ku sudah tidak lama lagi.... Oleh karena itu ku percayakan Kitab Hukum Duniawi itu pada mu." Pak tua itu lalu tersenyum.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi pak tua."
Dia mengucapkan salam perpisahan, Lalu muncul sebuah Gate Portal.
"Terpaksa aku harus membuka gerbang teleportasi karena kita terlalu jauh menjelajahi dunia Abyss."
"Kau sunguh anak mudah yang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi ya." Pak tua lalu berbalik meninggalkan pria itu sebelum memasuki Gate.
Bersamaan dengan itu, Kitab Hukum Duniawi kini telah berpindah kepemilikan nya, Sebuah kitab hukum yang mampu menggerakkan sistem tatanan dunia dan semesta layaknya seorang dewa.
Disisi lain banyak God's Slayer yang bersedih akan kematian Said yang teramat tragis, Ibarat jika bagian tubuh sakit semua tubuh pasti akan merasakannya.
Ashoka tak henti hentinya menangis, Kematian Said merupakan kesalahan nya.
"Andaikan aku melatih nya agar bisa menjadi lebih kuat, Dia pasti tidak akan mati!!." Tangisan Ashoka membuat kedua matanya memerah, Air mata nya kini sudah terkuras habis.
Sedangkan Arunika melihat Ashoka menangis dengan tatapan kosong, Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan Ashoka yang terlihat begitu menderita dengan kematian Said.
__ADS_1
Tiba tiba dari belakang Ashoka sebuah Gate muncul, Dengan warna biru terang. Aura yang sangat familir begitu terasa, Membuat tangisan Ashoka terhenti.
Dengan ragu Ashoka menoleh kebelakang, Tatapan matanya hanya terfokus pada sosok yang mulai melangkahkan kakinya keluar.
Tap!!
Tap!!
Sosok yang keluar dari dalam Gate mulai tersenyum, Senyuman yang begitu polos yang membuat Siapa saja pasti bahagia melihat senyumannya.
"Saiid?........
Ashoka masih tidak percaya jika yang ada dihadapan nya adalah said, Bukankah Said sudah mati tepat di hadapan nya?.
"Kamu Beneran Said kan?." Ashoka berdiri mendekati Said.
"Benaran ini aku lho." Said memasang muka jeleknya dihadapan Ashoka.
Ashoka benar benar tak menyangka jika muka jelek itu adalah Said.
"Humphh!!." Ashoka tersenyum, Lalu menyeka sisa air matanya nya.
Kemudian Ashoka mengarahkan bogeman nya kearah Said yang membuat nya Reflek untuk melindungi diri.
Pukulan Ashoka menjadi terhenti, Kedua tangannya melebar lalu memeluk erat tubuh Said.
__ADS_1
"Syukurlah......!!." Air mata bahagia menghiasi wajah cantik Ashoka.