I'M BACK FROM NIRVANA

I'M BACK FROM NIRVANA
Chpt - 186.Dimana ini?


__ADS_3

Suara deburan ombak disertai nyanyian dan kicaun burung lautan berirama mengikuti alunan angin sejuk di atas laut. Angin berhembus dengan tenang. Aroma asin nya begitu gurih untuk di cium, Laut begitu tenang hanya ada ombak kecil yang menampilkan keindahan alam.


Setitik eek burung jatuh mengenai wajah seorang pria yang tak sadarkan diri, Ia terkapar di atas pasir laut nan putih. Sudah berapa lama ia disitu? pikir seekor burung camar yang memberikan eek pada pria itu.


Ternyata eek itu memberikan sebuah keajaiban, Pria itu terbangun seolah ia masih tidak yakin masih hidup. Ia mencoba meraba tubuhnya dan masih merasakan luka dan goresan tubuhnya yang masih terasa sakit.


"Aku....? Masih Hidup!!." Bam terkejut, Ia sampai mencubit wajahnya beberapa kali.


Sampai ia menyadari sebuah zat aneh di wajahnya yang berwarna putih. Bam mencoba mengendus nya, Tak lama kemudian ia merasa mual mencium bau zat putih itu.


"Saaaattt!! Ini eek burung jir, Sialan kau sini akan jadikan kau burung goreng." Bam merasa kesal, Lalu mengancam burung camar yang masih terbang di atasnya.


Bam mengacung kan Tongkat saktinya untuk menjatuhkan burung tersebut, Beberapa serangan jauh Bam tak berhasil menjatuhkan burung camar tersebut, Hingga burung itu terbang bebas di atas lautan luas.

__ADS_1


"Buwong ape tu?." Seorang pria tua muncul di samping Bam, Pria tua itu hanya menggunakan pelepah daun untuk menutupi auratnya.


"Buwong puyuhhh..." Balas Bam dengan ekspresi mata kucing.


"Hohohooo... Dari asal mu anak muda? Ini sangat langka, Jika orang seperti mu bisa datang kemari." Tanya pria tua tersebut, Kaki nya terlihat gemetar seperti nya waktunya tidak lama lagi.


"Entahlah aku juga tidak tahu dimana ini, Dan Bagaimana bisa aku terdampar di tempat ini." Balas Bam, Batin nya juga tak menyangka jika ia masih hidup. Namun saat ini dia terlantar di tempat entah barantah di tengah lautan luas.


"Pulau Siluman." Ucap pria tua itu dengan senyuman misterius.


"Seperti kau tidak tahu ya, Nama pulau siluman sendiri tidak banyak yang mengetahui bahkan para dewa hanya beberapa yang tahu, Pulau ini tidak terpetakan di alam Dewa, dan juga tempat yang sangat misterius sangat mustahil menemukan pulau ini, Bahkan jika kau bepergian dengan ahli pelaut sekalipun, Kau sungguh beruntung Takdir baik masih bersama mu." Pria itu menjelaskan sedikit banyaknya tentang pulau siluman pada Bam.


"Begitu mengapa pulau ini tidak terpetakan di alam dewa?." Bam masih penasaran.

__ADS_1


"Hohoho itu karena di pulau ini juga banyak siluman yang kuat, Yang sama kuatnya dengan Monster Neraka. Untuk itulah para dewa tidak mau berususan dengan pualu ini." Pria tua itu setidaknya banyak mengetahui tentang pulau siluman, Dilihat dari penampilan nya ia sudah pasti telah lama menempati tempat pulau siluman.


"Lalu jika pulau ini tidak bisa di temukan, Akankah bisa keluar dari pulau ini?."


"Kau tak kan bisa keluar anak muda." Pria tua itu menatap tajam ke arah Bam.


"Kenapa? Apakah karena siluman berbahaya? Jika tentang itu aku bisa menyelesaikan nya. Karena aku masih ada urusan yang perlu di lakukan." Ucap Bam, Ia masih memikirkan keadaan medan perang Saat ini. Kehilangan jenderal bisa mengakibatkan turunya moral pasukan.


"Itu bukan soal siluman berbahaya, Tapi sudah takdir yang berkata bahwa tidak ada Siapapun yang bisa keluar dari pulau ini, Termasuk Buwong puyuh itu." Pria itu menatap ke arah laut luas melihat burung camar masih terbang di atas sana.


"Hei pak tua, Kenapa kau hanya memakai pelepah pisang untuk menutup auratmu?." Tanya Bam melihat pria tua itu hanya dengan sebuah pelepah daun.


"Hohoho ini masih lebih baik, Daripada tidak mengenakan sama sekali seperti dirimu." Pria tua itu tersenyum kearah Bam.

__ADS_1


"Eh?." Bam mencoba melihat tubuhnya.


"Jirrr pakaian ku mana woi!!." Bam teriak mendapati dirinya tanpa sehelai kain, Bahkan zirahnya juga ikut hilang.


__ADS_2