
Indra dan Bam menyusul Mahishasura secepat mungkin, Dari kejauhan mereka berdua dapat melihat Kota Olympus yang terbelah menjadi dua, Untuk pertama kalinya kota di alam dewa dapat dibelah dua seperti ini, Indra bahkan sudah tidak terkejut lagi jika Mahishasura yang melakukan nya, Sudah jelas adiknya lebih kuat dari dirinya.
"Tiga kepribadian dalam satu tubuh."Gumam Indra dalam hatinya, Sejak kecil dia sudah tahu bahwa Ashura memiliki kepribadian yang lain dan sering berubah ubah, Bahkan dewa di alam atas tidak ada yang mengetahui nya kecuali Indra, karena dia sejak kecil sudah memperhatikan Ashura.
"Kita harus segera membantunya." Ucap Bam Kemudian berusaha untuk mendarat di depan pintu gerbang yang sudah hancur.
Blububs....!!
Tetesan air.
Saat hujung mata kaki Bam menyentuh tanah, Tiba tiba saja dia sudah berpindah dimensi, Yang bahkan Bam sendiri tidak bisa menyadari nya.
"Sialan bisa bisanya aku tidak menyadari jebakan ini!!." Bam terlihat kesal karena kecerobohan nya karena memikirkan keadaan Mahishasura.
Suara deburan ombak terdengar menabrak batuan besar, Bam melihat sekeliling nya di penuhi Dengan air, sejauh mata memandang hanya terlihat air yang seperti samudra.
Bam berdiri tepat di tengah tengah Altar yang berbentuk Lingkaran seluas sepuluh meter, Kemanakah Bam berpindah?.
__ADS_1
"Urghh!!." Tiba tiba Bam dapat menyadari keberadaan yang sangat berbahaya yang muncul dihadapan nya.
Bam meneguk liur nya, Perasaan apa ini?, Apakah dia takut?. Mungkin ini adalah hal yang normal bagi tubuh ketika merasakan bahaya.
Sosok pria itu berdiri menundukkan pandangan nya yang kosong, Wajahnya terlihat pucat dan dingin, Tangan kanannya memegang kokoh trisula yang sangat besar, Trisula yang di lapisi emas permata di tiga mata tombak nya.
"Po- Poseidon!!." Bam terlihat sangat gugup ketika berhadapan dengan Dewa Poseidon dihadapan nya, Dewa yang menguasai Samudera, Dewa yang terkuat diantara tiga dewa utama.
Tidak hanya itu bahkan Bam tidak bisa membaca serangan yang akan di lancarkan oleh Dewa Poseidon, Benar benar tidak bisa di prediksi, Dia hanya diam berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Darah mencucur keluar dari pipi kiri Bam, Sebuah luka sayatan kecil, Sejak kapan?. Bahkan Bam tak melihat dewa Poseidon bergerak sedikit pun.
"Aku tidak bisa melihat serangan nya!!, Apakah ini adalah sebuah peringatan darinya untuk tidak bertarung melawan nya?." Bam menyeka darah yang menetes dari luka di pipinya.
"Cihh sayang sekali aku bukanlah pengecut yang akan mundur karena luka sayatan kecil." Bam memasang kuda kuda bertarung nya, Lalu memutar Tongkat saktinya yang siap menghajar, Cahaya emas mulai menyelimuti tubuh Bam.
Bam bersiap maju untuk menyerang, Tumpuan kakinya siap melontarkan tubuhnya kedepan untuk melancarkan serangan.
__ADS_1
Whosss!!.
Tusskk!!!
Tiba tiba Bam merasakan tubuh nya tidak bisa bergerak, Matanya terbelalak terkejut. Melihat Dewa Poseidon sudah berada di hadapan nya, Dengan tombak trisulanya sudah menancap di tubuh Bam.
"Arggggghhhh!!." Bam memuntahkan darah, Tubuhnya meraskan sakit di bagian tertusuknya trisula dewa Poseidon.
Poseidon menarik Kembali trisula nya, Seketika Tubuh Bam tumbang dengan berlumuran darah merah pekat.
Hushh!!.
Poseidon mengayunkan Trisulanya untuk membersihkan darah yang menempel di ujung mata tombak nya.
Menatap jijik kearah Bam yang terkapar tanpa memberikan perlawanan apapun, Kemudian dewa Poseidon berbalik pergi meninggalkan Bam yang sebentar lagi akan segera mati.
"Pecundang!!." Ucap Poseidon tanpa Ekspresi sedikit pun, Waktunya sudah banyak terbuang hanya untuk pecundang yang tak berguna.
__ADS_1