
Ana terdiam begitu mendengar pertanyaan Said, Dirinya seakan membisu untuk sementara. Tak tahu apa yang hendak di kata, Kedua bibir Ana seakan tak ingin terbuka, Sepatah kata pun mungkin tidak ingin keluar.
Setelah terdiam beberapa lama, Melihat tatapan Said yang terlihat begitu merindukan Sister yang sudah seperti seorang ibu baginya, Yang telah membesarkan Said dari bayi.
Belum sempat Ana ingin mengatakan sesuatu.
"Aku pulang!!." Seorang gadis dengan sempoyongan masuk kedalam panti asuhan, Dia terlihat sangat mabuk dengan botol minuman alkohol yang ada ditangannya.
Gadis yang sedang mabuk itu adalah Ghina yang tinggal di panti asuhan itu sejak kecil bersama dengan Ana, Said dan yang lainnya.
"Apakah aku sedang bermimpi?, kenapa aku melihat ada pria tampan di hadapan ku." Ghina masih dalam keadaan mabuk sehingga kesadarannya mulai samar.
"Kak Ghina bukan?, Kenapa kau terlihat seperti ini.?" Said mendekati kak Ghina yang hampir jatuh dan dengan sigap Said menangkapnya.
"Ughh..... Ku kira siapa tadi pria tampan dihadapan ku, Ternyata itu dirimu ya wah Sudah semakin besar juga ya, Padahal kau itu anak yang cengeng." Dihadapan Said Ghina seakan tak berdaya apalagi menunjukkan hal memalukan dihadapan nya, Padahal sudah sepuluh tahun mereka tidak bertemu.
Ghina merupakan gadis yang cerdas di sekolah, Selalu mendapatkan peringkat tertinggi, Bahkan mendapatkan beasiswa di universitas Swasta, Bahkan mengajari Said banyak pengetahuan.
Saat ini Ghina tengah magang menjadi resepsionis di Guild petarung sihir, Ghina juga merupakan orang yang tidak bisa menggunakan sihir oleh sebab itu dia juga banyak mendapatkan diskriminasi dari banyak orang, Untuk melampiaskan itu semua setiap malam akan minum hingga mabuk hingga semua permasalahan yang dia hadapi menjadi lebih ringan.
"Tubuhnya yang seperti ini benar benar sangat rapuh." Batin Said yang bisa merasakan bahwa di dalam tubuh Ghina terdapat banyak racun dan darah kotor yang menggumpal akibat mengkonsumsi alkohol berlebihan.
"Hei Said kau sangat tampan sekali ya." Ghina mencoba menggoda dengan menyentuh dada Said yang terasa sangat berotot.
Melihat Ghina yang mencoba menggoda Said, Ana terlihat sangat marah, Apakah karena dia cemburu?. Padahal baru saja mereka bertemu setelah sekian lama.
"Hei Ghina kau itu masih mabuk, Segeralah ke kamar, Kau hanya akan menjadi beban pikiran ku tau kalau terus begini." Ana mencoba mengangkat tubuh Ghina yang terus menempel dengan Said.
__ADS_1
"Heeehhhh kau mengganggu sekali Ana!!, Pantas saja kau tidak memiliki pacar." Oceh Ghina makin menempel kan tubuhya dengan Said.
"Apa maksud mu?, Bukannya aku tidak. memiliki pacar hanya saja aku tidak tertarik untuk pacaran!." Bantah Ana, Tanganya menarik kembali tubuh Ghina agar menjauh dari Said.
"Cihhh Jomblo akut." Balas Ghina.
"Apa bedanya dengan mu gadis pemabuk."
"Mungkin saja nanti kau hanya akan menjadi perawan tua." Ghina terkekeh.
"Kau benar benar cari masalah ya!!." Ana menempel kan Jidatnya dengan Jidat Ghina, Jidat mereka saling berbenturan.
"Ayolah jangan bertengkar tau." Said mencoba mendamaikan mereka berdua yang mulai cekcok.
"Diaammm!!." Ana dan Ghina bersamaan.
"Heii Said bolehkah aku mencium mu." Ghina yang masih mabuk masih terpana akan ketampanan Said, Bibirnya mendekat hendak. Mencium Said.
Hupphh...
Hopp...
Hiattt!!!
Dengan refleks Said menghindari setiap ciuman Ghina yang hendak menciumnya.
"Heee!! Jangan menghindar sekali saja." Ghina langsung melompat ke arah Said.
__ADS_1
"Saatnya!!." Batin Said segera beraksi.
[Menggunakan Skill Akupunktur.]
[Memeriksa 350 Titik Akupunktur.]
[Menggunakan kemampuan jarum perak.]
Hushhh!!.
Said menusukkan jarum perak ke titik Akupunktur Ghina yang tempat menjadi sarang racun dan darah kotor yang menggumpal.
Saking cepatnya Ana sendiri tidak bisa melihat gerekan Said yang begitu cepat.
Ketika Ghina melompat, Ana hanya melihat Ghina yang terjatuh dengan tidak sadarkan diri, Sebelum menyentuh lantai Said langsung menangkap tububnya.
"Wahhh gadis ini benar benar merepotkan kan, Bisakah kau membawanya kekamar Said?." Ucap Ana setelah memastikan kondisi Ghina Baik baik saja.
Said mengangguk, Lalu menggendong Ghina ke dalam kamarnya dengan di tuntun anak anak yang ada di dalam panti.
"Guru Sangat hebat!!." Jo yang satu satunya anak yang bisa menggunakan sihir, Dia menyaksikan kecepatan Said saat menekan titik Akupunktur. Jo semakin waku waku!!.
Setelah sampai dikamar Said membaringkan Ghina di atas kasur, Tak lupa menyelimuti tubuhnya dan membelai sedikit rambutnya, Seorang yang telah menjadi sosok kakak dalam Hidup Said, Namun hidupnya sendiri berantakan.
Ana kemudian menceritakan mengenai keadaan Sister Saat ini, Said hanya diam mendengarkan cerita Ana yang membuat Ana menangis ketika menceritakan tentang Sister yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit.
"Begitu ya?." Said merasakan betapa sedihnya keadaan sister saat ini, Said lalu mengusap air mata Ana dengan sapu tanganya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Tenang saja kak, Semuanya akan baik baik saja." Said mengelus rambut Ana seperti waktu dulu ketika Ana mengelus rambutnya.