I'M BACK FROM NIRVANA

I'M BACK FROM NIRVANA
Chpt - 23.Ambarawa Sword


__ADS_3

Srreeeeppputt.....!!


Said meminum tegukan terakhir teh nya, Dan meletakkan kembali gelas tersebut diatas meja, Gaya minum teh ala bangsawan, Biasalah sudah merasakan hidup seperti bangsawan selama 300 tahun.


Said mengambil kembali NightMare yang berada diatas meja, Dan memasukannya kedalam balik pakian, Berdampingan dengan pisau dapur Legendaris.


Bangunan gedung tersebut hampir roboh akibat pertarungan, Namun Said masih sempatnya nyantai.


Berkeliling memeriksa setiap berkas yang ada di Guild Assasins tersebut, Said meneliti apakah ada infomasi yang akan berguna bagi nya.


Namun Said Malah menemukan hal yang diluar dugaan, Guild Assasins tidak lain dan tidak bukan merupakan sebuah Guild yang dijalankan oleh Hamid Syah.


Yap...., Tepat sekali ayah Tasya merupakan pemilik Guild Assasins tersebut, Yang bergerak dibalik bayang, Bahkan Tessia mengetahui perihal Guild Assasins tersebut, lalu mengapa ia menyembunyikan nya.


10 tahun yang lalu ketika Hamid syah terbunuh, Guild Assasins mengalami kemerosotan akibat tidak adanya pemimpin, Banyak yang meninggalkan guild tersebut lalu bergabung dengan guild lainnya, Tinggal lah Sir Lancelot yang merupakan tangan kanan Hamid, Mengambil alih Guild Assasins tersebut.


Namun para kriminal dan buronanlah yang bergabung dengan Guild Assasins tersebut, Sebenarnya tujuan utama Guild Assasins bukanlah membunuh melainkan melakukan pekerjaan lain seperti mengawal atau di bayar sebagai tentara bayaran ketika ada Raid memasuki Gate.


Satu hal lagi yang ditemukan Said adalah Guild Assasins masih beroperasi dibawah keluarga syah, Dengan kata lain dalang di balik semua ini adalah orang dalam keluarga itu sendiri, Tetapi siapa?.


Said terus memeriksa berkas tersebut lalu menemukan bahwa keluarga syah memiliki sebuah senjata Rahasia turun temurun, sebuah pedang yang lahir pada sebuah pertempuran Ambarawa dan terbuat dari pecahan pedang Legendaris Ex- calibur.


Ambarawa sword......


Wtf...., Said terkejut bisa bisa nya keluarga syah memiliki rahasia sebesar ini, Yang bahkan tidak diketahui publik.


Said memutuskan untuk kembali ke kediaman Tessia lalu melaporkan kejadian tersebut.


...*************...


Ajudan datang kemudian membisikan sesuatu ke telinga Tessia, Raut wajah Tessia tampak berubah.


"Apa Said sudah kembali ?" Tanpa sengaja Tessia berucap, Membuat Tasya menatap nya.


Tessia segara berdiri dari atas kasur dan hendak turun menemui Said.


"Syukurlah abang Said baik baik" Ucap Tiffany dengan penuh syukur.


sebuah senyuman dari seseorang langsung berubah kesal, Lalu mengumpat dalam hati.


"Saya akan menemani anda nyonya" Rudolf berjalan di belakang Tessia.


"Ibu tunggu aku juga ingin menemui nya" Tasya berusaha bergerak dari atas kasur nya, kemudian dicegah oleh para pelayan.


Tessia berbalik.

__ADS_1


"Lebih baik kamu istirahat saja Tasya " Balas Tessia.


"Tapi bu, Aku juga ingin meminta maaf kepadanya" Gerakan tubuh Tasya memberontak ketika ditahan para pelayan.


"Para pelayan buat dia beristirahat" Perintah Tessia kepada para pelayannya lalu pergi begitu saja.


Diruang tamu, Said berdiri menunggu tubuhnya di penuhi noda darah, Rambut, wajah, Baju tidak luput dari bercak merahnya darah.


Wajahnya tampak dingin seakan ruangan disekitar ikut ingin membeku, Matanya terlihat lelah, Kira kira apa yang dipikiran nya.


Tessia yang menuruni tangga, Melihat keadaan Said, Terasa ingin menangis bagaimana mungkin anak muda seperti Said mengalami hal yang seperti ini.


"Said, Apakah kau baik baik saja, awpakah ada yang terluka, Jika ada yang terluka lebih baik di obati segera, Tunggu sebentar aku akan mengambil obat" Naluri keibuan Tessia keluar, Tangannya hendak menyentuh wajah Said dengan iba, Namun di urungkan untuk mengambil obat.


"Itu tidak perlu " Jawab Said datar.


"Pekerjaan ku sudah selesai dengan begitu kita sudah tidak berhubungan lagi, Setelah ini aku akan segera pergi" Lanjut Said.


"Ehh?, Hmmm baiklah aku akan segera menyiapkan bayaran nya, Sekali lagi aku berterima kasih sudah menyelamatkan putri" Tessia memerintah kan ajudan nya untuk mengambil sesuatu.


Tak lama kemudian ajudan datang membawa kan sebuah koper hitam, Yang jelas isinya duitlah ya kan.


Memberikan nya ke Tessia, Lalu Tessia memberikan nya kepada Said.


"Mungkin ini tidak seberapa, Ku harap ini setimpal dengan yang sudah kamu lakukan selama seminggu terakhir" Tessia lalu menyerah kan tersebut kepada Said.


Said segera mengambil koper hitam tersebut dan hendak beranjak pergi, Tessia kemudian berniat ingin mengembalikan sapu tangan milik Said, Sebenarnya terlintas di pikiran Tessia untuk tidak mengembalikan nya, kok curiga ya.


Buakkk!!!!


Arrrgggggghhhhhhhh!!!!!


Tiba tiba terdengar suara teriakan yang tidak asing, Tampak Tasya terjatuh di tengah tangga, Dasar wanita keras kepala.


said tidak menghiraukan nya, Lalu berbalik Dan berjalan pergi.


"Pecu- n eh Said tunggu sebentar " Ucap Tasya yang berusaha berdiri dan berjalan menuruni tangga.


Langkah said terhenti.


"Ada yang ingin ku bicarakan pada mu" Tasya mengatur nafasnya yang terengah.


"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Mulai sekarang kita tidak berhubungan lagi" Balas Said datar, Sesekali matanya melirik koper hitam tersebut, Gak sabaran kalik.


"kalau begitu, Maaf kan aku atas apa yang telah aku lakukan padamu, Aku sungguh menyesal, Aku tidak tau bahwa selama ini kau lah yang selalu melindungi ku, Dan aku selalu merendahkan mu, Aku benar benar minta maaf" Tasya menundukkan badannya, Permintaan maaf nya benar benar tulus, Tampak nya Tasya sudah mulai berubah.

__ADS_1


Said hanya berlalu pergi dan hanya mengangkat tangan kanannya, Lambaian tersebut berarti Said memaafkan nya, Percaya lah Said merasa tidak enak jika tidak menerima maaf jika seseorang tersebut meminta maaf dengan tulus.


Tasya tersenyum dengan begitu dirinya telah mendapatkan pelajaran berharga.


Sebuah senyuman kali ini tampak begitu senang, Meskipun awal begitu kesal, Tampak sudah menunggu momen tersebut.


Said yang saat ini masih di perkarangan rumah, Terlambat menyadari sesuatu, Bahwa dalang tersebut adalah orang dalam keluarga itu sendiri, Termasuk Said lupa menanyakan tentang pedang tersebut.


Dekkk!!!!


Perasaan tidak enak, Said segera berbalik.


Wajahnya tampak Begitu panik, Mengapa dirinya baru menyadari sekarang.


Sial...., kecepatan Said tidak akan sampai tepat waktu.


Sepersekian detik Said dapat merasakan adanya pemicu ledakan yang segera terjadi, Said harus cepat.


Lebih cepattttttt.......!!!!!


Cepattttttt lahhhh....!!!!!


Sialannnnnn............!!!!!!


kumohon semoga tepat waktuuuu....!!!!


Sial .


Sial .


Said sebisa mungkin bergerak cepat, Sial meskipun memakai kecepatan cahaya masih kurang cepat, Harus lebih cepat lagi.


said memaksa batasnya yang berlevel satu untuk kecepatan melebihi cahaya.


kecepatan neutrino, kecepatan 20 per 1 juta diatas kecepatan cahaya.


DUARRRRRR!!!!!!


ledakan besar terjadi, Untungnya Said tepat waktu, Said memasang pelindung kesetiap orang, Sungguh sangat benar benar memeras Mana milik Said.


4 mana Tersisa, Batin Said. ini buruk.


"Cihhh, Tak kusangka kau lah dalang dibalik semua ini, Sedari awal aku sudah curiga" Ucap Said seperti bergaya keren, Tangannya masih menahan pelindung tersebut, bajing sejak kapan lu curiga.


Asap hasil ledakan tersebut masih memenuhi semua area, Setengah rumah tessia hancur, beberapa ajudan tampak tak sadarkan diri meskipun sudah berhasil di lindungi oleh Said, Namun bukan berarti aman dari gelombang kejut.

__ADS_1


Dengan penuh kebanggaan tersenyum penuh menantang, Lawan yang kuat akan segera muncul.


__ADS_2