I'M BACK FROM NIRVANA

I'M BACK FROM NIRVANA
Chpt - 16.Guild Assasins


__ADS_3

Said bergegas menuju ke kediaman Tessia, Setelah menerima telpon dari Tessia bahwa Tasya telah di culik.


Sebelum nya Said membereskan beberapa preman yang mengepung nya terlebih dahulu, kemudian menginterogasi nya.


"Katakan pada ku siapa yang mengirim kalian?" Ucap Said sembari mengikat preman tersebut satu persatu, Tersusun rapi bak seperti ikan sarden.


"Maaf kan kami, kami hanya melakukan perintah yang di berikan kepada kami" Balas salah satu dari preman tersebut.


"Lalu atas perintah siapa itu? "


"Ini atas perintah nona Tasya, Dia meminta kami untuk melakukan sandiwara penculikan setelah itu kami di perintahkan untuk mengirim mu ke suatu tempat untuk di habisi" Preman dengan rambut punk berwarna pink menjelaskan.


"Hmmmm??" Said menatap tidak percaya.


"Itu benar, Seharusnya kami melakukan sandiwara penculikan terlebih dahulu, Namun kami tidak menemukan nona Tasya, kami berfikir nona Tasya sedang menyembunyikan dirinya, Sehingga kami inisiatif untuk melakukan tugas selanjutnya" Teman di sampingnya ikut menambah kan.


"Ohhh jadi begitu" Said mengerti meskipun dia sendiri tidak mengerti.


"Dasar wanita keras kepala" Batin Said.


Setelah selesai mengikat para preman tersebut said menyeret mereka semua, Menuju ke kediaman Tessia.


Kediaman Tessia..........


Said tiba di kediaman, Tampak said menyeret para preman tersebut seperti mobil mainan, sungguh tidak berperasaan.


Ruang tengah tersebut Tessia sudah menunggu kedatangan Said, Terlihat Rudolf berdiri di belakang Tessia, Tiffany duduk disamping Tessia.


Said memutuskan duduk, Said berfikir tidak perlu formalitas untuk saat ini.


"Jadi bagaimana Tasya bisa di culik?? " Tanya Said, Langsung pada inti pembicaraan.


"Aku tak menyangka hal seperti ini akan terjadi, Selama ini aku mengira mereka hanya merencanakan pembunuhan tapi tidak dengan penculikan" Tak di sangka air mata Tessia menetes, Tessia mulai menangis, wajar bagi seorang ibu mengkhawatirkan anaknya.

__ADS_1


"Beberapa jam sebelum nya mereka yang telah menculik nona Tasya menelepon ke kediaman, Dan memberi tahu bahwa mereka telah menculik nona Tasya" Rudolf ikut menambah kan, Tessia masih dalam tangisan nya belum sanggup untuk berbicara.


"Lalu siapakah mereka yang telah menculik Tasya??" Said mengeluarkan sebuah sapu tangannya, Lalu Memberikannya ke Tessia.


"Nihh hapus air mata mu, Tidak pantas bagi wanita secantik dirimu menangis"


Tessia mengambil sapu tangan pemberian said dan mulai menghapus air matanya, Aroma wangi dari sapu tangan tersebut membuat Tessia merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya.


"Tidak salah lagi mereka yang telah menculik nona Tasya adalah orang yang sama yang telah melakukan rencana pembunuh terhadap nona Tasya, Mereka semua berasal dari Guild Assasin" Ucap Rudolf, Wajah nya tampak sangat tenang.


Said sedari awal mencurigai Rudolf, Namun buat apa Rudolf merencanakan ini semua, Jika dia bisa melakukan semua ini sendirian, Dan tidak perlu menunggu waktu yang lama.


Said menghela nafas sejenak.


"Sungguh merepotkan, Coba kau lihat para preman ini, Mereka semua adalah orang bayaran Tasya untuk melakukan sandiwara penculikan dan mengirim ku ke suatu tempat untuk di habisi" Said menunjuk para preman itu, Dan menatap tajam.


"Huhhh.... Sedari awal putri mu telalu keras kepala, Kau terlalu perhatian pada nya, Lihatlah bahkan dia tidak peduli dengan perkataan ibunya, Ini juga bukan tanggung jawab ku, Penculikan terjadi karena kecerobohan nya sendiri bukan karena aku tidak bisa menjaganya" Setelah bicara panjang lebar Said menghembuskan nafasnya.


"Said aku mohon pada mu untuk menyelamatkan putri, Mungkin tidak baik bagi seorang ibu memohon hanya untuk putrinya, Tapi kepada siapa lagi jika bukan kepada mu Said" Tessia memohon kepada Said untuk menyelamatkan Tasya, Wajah nya semerembab bekas tangisan yang belum terhapus sepenuhnya.


"Kakak mau kan menyelamatkan kakak ku? , Meskipun kakak orangnya keras kepala namun dia tetap kakak ku" Tiffany ikutan sedih, sepertinya dia ingin ikut menangis juga.


"Yahh, Bagaimana lagi kali ini aku menuruti permintaan mu" Jawab Said pasrah.


"Syukurlah...." Tessia merasa lega, Meskipun sudah tidak muda lagi namun kecantikan nya tidaklah banyak berubah.


Seorang ajudan milik Tessia memasuki ruangan.


"Nona lokasi tempat di culiknya nona Tasya telah di temukan, Di sini lah lokasinya "


Tanpa di sangka meja yang mereka tempati memiliki sistem yang bisa mengeluarkan hologram, Terlihat peta yang di tandai warna merah tersebut menandakan lokasi tempat di culiknya Tasya.


Said segera berdiri bersiap siap.

__ADS_1


"Kau sudah mau pergi? Beberapa bawahan ku akan ikut dengan mu" Ucap Tessia.


"Tidak perlu itu hanya akan menjadi beban bagi ku" Meskipun Said masih kesal dengan Tasya namun mau bagaimana lagi dia harus menerima permintaan ibunya.


Beberapa bawahan Tessia menatap tajam kearah Said, Setelah di bilang beban, Siapa Said sebenarnya berani sekali menghina mereka.


"Setidaknya bawa lah Rudolf bersama mu, Dia akan membantu" Pinta Tessia


Said hanya diam menandakan setuju.


"Said bisakah kau tetap mengawal tasya untuk seterusnya" Meskipun sedikit egois untuk permintaan Tessia.


Mendengar hal tersebut Said angkat bicara.


"Bibi kukatakan sekali lagi tugas ku hanya mengawalnya selama seminggu tidak lebih, Untuk keamanan Tasya kedepannya aku akan segera menghabisi Guild Assasins tersebut, Sehingga tidak merepotkan ku di masa depan lagi" Said berniat dia tidak mau lagi melakukan pekerjaan seperti ini lagi.


"Baiklah, Terimakasih banyak Said"


"Jangan lupa siapkan dana yang di perlukan, setelah itu kita tidak perlu berhubungan lagi, keselamatan putri mu aku menjamin nya. " Ucap Said begitu dingin lalu pergi begitu saja tanpa pamit, Dari belakang Rudolf mengikuti.


Said harus bersikap profesional memisahkan perasaan pribadi dengan pekerjaan.


Sesaat Said menghilang dari pandangan semua orang yang berada di ruangan.


Sesekali Tessia mencium sapu tangan pemberian Said, Wajahnya seketika merah merona, Sangat wangi sekali, Aroma yang begitu maskulin.


...********...


Brummm!!


Rudolf mengajak said menaiki mobil BMW, Said segera masuk kedalam mobil, Yang benar saja seorang pelayan biasa punya mobil BMW pribadi.


Said menyuruh Rudolf menghentikan mobil di sebuah toko, Said ingin membeli sebuah barang.

__ADS_1


Tak lama setelah itu said keluar dari toko dan memasuki mobil, Tak disangka yang di beli Said adalah 2 buah pisau dapur Standar SNI.


Untuk apa coba, Ni mau nyelamatin anak orang atau mau masak.


__ADS_2